Tablo – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm Unit Pelayanan Pastoral dan Pengembangan Kerohanian Kampus Wed, 19 Jun 2019 05:30:28 +0700 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.2 https://unit./cm/wp-content/uploads/2019/01/cropped-icon-32x32.jpg Tablo – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm 32 32 Pengorbanan: Sebuah Refleksi Tablo https://unit./cm/pengorbanan-sebuah-refleksi-tablo/ https://unit./cm/pengorbanan-sebuah-refleksi-tablo/#respond Mon, 10 Jun 2019 07:06:30 +0000 https://unit./cm/?p=1710 lanjut

]]>
Jumat Agung, merupakan sebuah hari penting dalam iman seorang pengikut Kristus. Pada hari sebelum perayaan paskah itu mereka mengenang kematian Sang Juru Selamat yang harus wafat secara menyedihkan di atas kayu salib, Yesus Kristus atau Isa al-Masih. Saya bukanlah seorang yang mengimani Yesus/Isa ini sebagaimana teman-teman Kristiani mengimaninya, tetapi saya kerap kali melakukan refleksi yang terinspirasi dari kisah-kisah Sang Juru Selamat ini. Termasuk pada kisahnya saat Jumat Agung ini.

Pada Jumat Agung kali ini, saya melakukan refleksi dengan cara yang cukup berbeda dari refleksi saya biasanya. Jika biasanya saya hanya mendengarkan cerita dan atau mendengarkan penjelasan dari teman-teman saya yang Kristiani mengenai kisah sengsara Yesus ini sambil mencoba memahami apa yang mereka rasakan, di tahun ini saya ikut menjadi bagian dari duplikasi peristiwa beberapa abad yang lalu itu. Ya, saya berkesempatan ikut berperan pada Tablo Paskah (Visualisasi Kisah Sengsara Yesus Kristus) yang diinisiasi oleh teman-teman dari Campus Ministry Universitas Sanata Dharma.

Jujur, sampai saat saya menulis ini pun saya masih merasa kaget dan tidak percaya dengan hal tersebut. Sebab, bukan saja karena ini pertama kalinya saya ikut tablo, drama, teater atau yang sejenisnya, tetapi juga karena secara pribadi saya tak bisa benar-benar menghayati cerita ini dengan keimanan saya. Maka kesulitan saya ini semakin bertambah dengan ditunjuknya saya untuk menjalankan lakon sebagai Maria Magdalena. Saya memang tidak terlalu asing dengan namanya, tetapi saya tidak benar-benar mengetahui bagaimana kepribadiannya, latar belakang kehidupannya dan hal lain yang mempengaruhi kehidupannya hingga ia bisa bertemu dengan Yesus dan amat mencintainya. Informasi yang dituliskan di naskah tablo kami pun sangat minim untuk setiap tokohnya. Maka saya melakukan riset kecil untuk mencari siapa Maria dari Magdala ini dengan membaca alkitab, artikel, serta menonton beberapa film, seperti The Passion of The Christ, Killing Jesus, dan Marry Magdalene.

Maria Magdalena

Maria Magdalena. Seorang perempuan dari daerah Magdala. Ia merupakan salah satu murid perempuan pengikut Yesus Kristus. Maria Magdalena menjadi salah satu murid yang setia mengikuti Yesus menyebarkan kabar gembira dan sampai akhir setia mengikuti seluruh rangkaian persidangan Yesus sambil mendampingi Maria, ibu dari sang Kristus hingga di akhir cerita merasa sangat sedih dengan kematian gurunya tersebut yang harus mati di tiang salib. Sebelum menjadi murid setia dari Yesus, Maria Magdalena adalah seorang wanita, yang dalam banyak cerita, dikisahkan sebagai seorang pelacur yang pernah diselamatkan Yesus pada saat ia akan dihakimi oleh orang-orang Farisi. Namun dalam beberapa kisah yang lain disebutkan bahwa ia adalah perempuan yang pernah disembuhkan oleh Yesus saat dimasuki oleh iblis. Sampai saat ini pun saya belum menemukan dengan pasti siapakah Maria Magdalena ini di masa lalunya sebelum bertemu dengan Yesus. Satu hal yang sama, ia disebutkan sebagai orang pertama yang melihat penampakan sang guru pada saat kebangkitannya.

Setelah melakukan riset kecil-kecilan tersebut, pada akhirnya saya sedikit-banyak bisa memerankan Maria Magdalena yang menangisi Yesus, meskipun hanya dari sisi kemanusiaannya sebagai seorang murid yang harus melihat guru yang pernah menolongnya dan amat dikasihinya mati secara ‘hina’. Sebab, hukuman mati di atas kayu salib pada saat itu merupakan suatu hukuman yang paling keji sebagai simbol untuk menghinakan orang yang dihukum tersebut.

Karena menempati posisi sebagai seorang murid perempuan Yesus yang terus bersama-sama dengan sang ibu dan perempuan-perempuan Yerussalem lainnya selama persidangan Yesus, maka refleksi yang saya lakukan akan berangkat dari sudut pandang seorang murid, ibu, serta perempuan-perempuan lain yang menangisi kematian guru, anak, serta sosok yang dikasihinya, Yesus Kristus. Pada posisi ini, rombongan kami bisa dibilang menjadi rombongan minoritas yang tak kan didengar. Dimana pun posisi kami berdiri pada saat persidangan dan sebanyak apapun orang dalam rombongan kami ini. Sebab yang paling berambisi agar Yesus mati adalah para imam di Bait Allah, petinggi orang-orang Yahudi pada saat itu. Ketika imam Bait Allah sudah memutuskan untuk menghukuminya mati, maka senanglah orang-orang yang juga membenci Yesus dan menghasut masyarakat lain yang tidak terlalu mengetahui tentangnya pada saat itu.

Refleksi dari sisi sang ibu

Kami, para perempuan yang meratapi kematian Yesus, sebenarnya memiliki alasan masing-masing mengapa kami menangisinya. Sebab kami memiliki pengalaman tersendiri yang tak bisa dilupakan ketika bertemu dan bersamanya. Tetapi, untuk saya, entah mengapa yang menjadi pusat kesedihan yang paling memilukan ada pada sang ibu. Maria, sang ibu, yang telah mendapatkan Yesus secara ‘ajaib’, mengandungnya selama 9 bulan, menjaganya, mendidiknya hingga sebesar itu, pastilah memiliki kasih sayang yang tak kalah besarnya dengan ibu lain yang mendapatkan anak dengan cara yang ‘normal’. Dulu saya selalu berpikir bahwa sang ibu pastilah tidak terlalu sedih, sebab ia pasti sudah mengetahui bahwa anaknya itu akan diambil kembali oleh Yang Maha Memiliki, karena ia mendapatkan anaknya itu ‘langsung’ dari Dia Yang Maha Pemberi. Di samping, memang sang ibu merupakan orang yang memiliki kelebihan dalam hal kesholehan dan ketaatan kepada Tuhan. Tetapi saya salah. Sang ibu tetaplah seorang manusia, perempuan serta ibu untuk anaknya. Ia pasti memiliki perasaan ketika melihat seseorang, yang merupakan anaknya, mati dibunuh di depan matanya. Terlebih ia harus mati terbunuh di atas kayu salib, yang mana cara mati seperti itu merupakan cara mati yang paling hina pada saat itu. Perasaan itu merupakan perasaan seorang manusia yang sedih karena merasa kehilangan seseorang, perasaan seorang perempuan yang pilu karena lelaki yang amat dicintainya harus mati serta perasaan seorang ibu yang sedih, geram, marah, sakit karena melihat anaknya tersiksa. Saya menulis sedikit refleksi pada saat selesai latihan, tanggal 28 Februari 2019 lalu:

Bagaimana hendak tak hancur
Hati Bunda, melihat dagingnya dicambuk
Darahnya bercucur

Bagaimana hendak tak jatuh
Air mata Bunda, bercampur peluh
Sebab hatinya terasa perih, penuh

 “Anakku,
Darah dari darahku
Daging dari dagingku”
Rintihnya, pilu

Hukum telah dijatuhkan
Salib telah didirikan
Paku telah ditancapkan
Tali temali telah dikencangkan
Tak banyak yang bisa Bunda perbuat
Selain bersimpuh merintih
Sambil memanjat doa tertatih
Semoga anak bujangnya sampai di sebelah kanan Bapak dengan selamat

Bagi saya, yang bukan seorang pengikut Yesus dalam teologis, namun banyak terinspirasi darinya dalam nilai sehari-hari, kisah sengsara Yesus ini bukan hanya mengenai pengorbanan Yesus yang rela dirinya disalib demi para pengikutnya. Lebih dari itu, kisah ini juga mengenai pengorbanan orang-orang tersayang di sekitarnya yang rela menemani hingga masa tersulitnya. Terlebih pengorbanan seorang ibu, yang pasti akan mengorbankan apapun yang ia punya untuk anaknya. Sekali pun harus mengorbankan perasaannya yang terdalam.

 

Ghina Ainul Hanifah

Young Interfaith Peacemaker Community Jogja

Pemeran Maria Magdalena Tablo 2019

]]>
https://unit./cm/pengorbanan-sebuah-refleksi-tablo/feed/ 0
MENJADI MUSLIM DALAM DRAMA PASKAH https://unit./cm/menjadi-muslim-dalam-drama-paskah/ https://unit./cm/menjadi-muslim-dalam-drama-paskah/#respond Tue, 14 May 2019 04:49:47 +0000 https://unit./cm/?p=1673 lanjut

]]>
“Coming to other rituals will strengthen our faith. It helps us to think about our religious ideas.”

Ehm. Iki podo ngerti tho artine opo? Yo nek arep diterjemahke, kurang luwih, artine, “Mendatangi ritual lain akan menguatkan keyakinan kita. Hal itu dapat membantu kita berpikir mengenai ide-ide relijiusitas.” Saya setuju dengan kutipan tersebut yang mana adalah kalimat refleksi salah satu dosen saya di awal kelas kami semester ini.

Kalimat itu membuat saya mengenang kembali saat berkuliah di salah satu kampus di Tangerang –sebenarnya ini kampus keren tur berkualitas, tapi entahlah, banyak orang yang tak tahu setiap saya sebut singkatan nama kampus saya. Mereka malah menebak-nebak tapi salah, misalnya, “Oooh, Universitas Muhammadiyah Nusantara?” seolah-olah kalau nama kampus U bertemu M maka seyogyanya menjadi Universitas Muhammadiyah blablabla. Sudah, mari lupakan soal nama ini. Ibarat mantan, kita ambil kenangannya saja, sementara sosoknya boleh pergi, boleh menjauh, boleh ngeblokir Facebook…

ah.

Kalau sampeyan tumbuh dalam sebuah lingkungan multikultur, mungkin sampeyan juga akan paham rasanya hidup bersama toleransi dan keberagaman. Praktik langsung, bukan sekadar baca literatur. Berinteraksi dengan kawan berbeda latar belakang dalam lingkungan majemuk macam ini membuat saya berpikir ulang soal toleransi, karena aktivitas sehari-hari kami tak bisa lepas dari perbedaan.

Karena berteman dengan mereka yang berbeda, maka ada saja masanya saya menunggu di depan gereja saat mereka ibadah, seperti mereka kemudian menunggu saya shalat di musholla. Ada saja masanya mereka makan babi, lalu saya hanya bisa mencium baunya sambal menyedot es teh manis –satu-satunya yang halal di restoran itu. Ada saja masanya ketika saya shalat Isya di atas lantai dan mereka merapal doa Rosario di atas kasur. Ada saja masanya ketika mereka bertanya bagaimana konsep Surga-Neraka dalam Islam lalu saya balas bertanya soal kenapa apakah benar membangun gereja itu bagian dari Kristenisasi –itu pertanyaan yang dititipkan teman-teman Muslim saya untuk teman-teman Nasrani, hhhhh.

Ada saja masanya ketika mereka membangunkan saya sahur, mengingatkan saya shalat tepat waktu, atau memasakkan nasi goreng ayam menggunakan wajan berbeda setelah mereka memasak nasi goreng babi. Tapi saya percaya perbedaan masih mungkin menimbulkan gesekan, sehingga percikan-percikan ketegangan pernah ada, tapi tidak pernah melebar karena kami percaya, untukmu agamamu, untukku agamaku. Toleransi memang kadang tak semudah kelihatannya.

Terbiasa dengan perbedaan membuat saya pun familiar dengan suasana gereja, kelenteng, vihara, dan pura. Setelah lulus kuliah dan “lulus” dari lingkungan beragam itu, saya malah merasa kesepian. Maka ketika ada tawaran menjadi panitia drama Tablo Paskah di salah satu gereja di Jogja, saya langsung mendaftarkan diri bersama dua orang teman–masuk tim make up dan kostum. Astaga, seorang perempuan anti-dandan yang maksimal cuma bisa pake lipen doang seperti saya harus masuk ke dalam tim make up? Hhhhh.

By the way, ya, kami bertiga yang mendaftar ke panitia Tablo adalah muslimah berjilbab. Seorang satpam di gereja sempat bertanya, “Mbak ini Muslim, kan?” Kami mengangguk saja –kan terlihat lewat jilbab. “Muslim tapi jadi panitia Tablo?” Kami mengangguk lagi. “Wah, keren. Bagus, Mbak.” Kami tersenyum.

Kenapa ingin menjadi panitia Tablo Paskah? Padahal itu…. Paskah? Mungkin teman lain akan menjawab, “Ya belajar bertoleransi, sekaligus menantang diri.” Sementara saya, “Simpel, saya merindukan hidup dalam keberagaman. Itu nikmat yang memperkaya saya.”

Minggu-minggu awal bekerja masih biasa saja. Kami datang ke gereja di sore hari selepas kelas. Tidak setiap hari, sih, tapi ya setidaknya dua sampai tiga kali dalam seminggu. Kami membuat sandal untuk pemain drama, berbelanja make up, menyusun ulang kostum ini untuk tokoh itu, menambal kekurangan atau cacatnya, dan memisahkan mana kostum yang tak dipakai lagi pada tablo kali ini.

Sampai suatu ketika, di ujung hari menjelang pementasan drama Paskah, ujian datang. Kami digencet oleh tugas kampus yang tiba-tiba memamah biak dan kondisi fisik yang melemah karena semakin sering tidur tengah malam akibat begadang tugas, dan bangun sepagi mungkin bagai zombie untuk kembali membaca dan menulis paper. Seorang teman tumbang, tak lagi datang untuk berbakti pada umat. Saya dan teman lain masih bertahan, meski juga ngos-ngosan.

“Ini bener nggak sih kita bertahan di kepanitiaan? Mungkin kita bisa keluar dan mereka mencari panitia lain, karena fisik kita lama-lama bisa hancur, sementara dibentur-bentur deadline,” pikir saya suatu hari. Tapi lalu, pikiran lain meringsek maju.

“Inget semangat awalmu, cuk. Ini juga soal komitmen dan tanggung jawabmu, selesaikanlah.”

Begitulah, kami terus terlibat di kepanitiaan hingga akhir; hari pementasan drama Tablo. Gereja tempat kami latihan penuh pada hari itu, perlu menambah kursi-kursi untuk jemaat, bahkan banyak pula yang berdiri demi menyaksikan pementasan. Ini jelas bukan sekadar drama, tapi juga (mungkin) semacam momen mengenang pergumulan Sang Juru Selamat. Saya menitikkan air mata bahkan ketika narator baru membuka pementasan dan menyebut nama-nama tokoh di dalamnya –yo memang pancen cengeng. Klimaks sedihnya tentu saat Yesus disiksa. Satu adegan yang menambah pengetahuan ke-Nasrani-an saya adalah ketika Raja Pilatus mencoba menyelesaikan masalah tuduhan terhadap Yesus itu dengan adil. Dia menanyai Yesus, mengirimnya balik ke Raja Herodes, juga meminta pendapat istrinya mengenai tuduhan tersebut; apakah ia harus menghukum Yesus?

Mundur sedikit, saya dan teman-teman sudah berkumpul sejak jam 3.15 pagi, sekitar jam segitu. Iya, itu wayahe orang tahajud njur bersiap subuhan, wkwk. Dengan muka ngantuk yang makin mbuh-mbuhan karena dihajar air dingin di pagi hari, kami menyusuri gereja, masuk ke ruang makeup. Sebelum bekerja, saya minta izin ke panitia untuk salat Subuh sebentar di ruang kostum.

“Sssst, jangan ribut, ada yang mau salat,” kata kakak panitia. Saya senyum. “Santai aja, guys. Nggak usah gitu banget,” kata saya.

Selesai Subuh, mulailah kami bekerja. Dengan modal nekat, skill pas-pasan, ide seadanya, saya dan teman-teman mulai mendadani para pemain Tablo. Ada yang mau dandan sendiri, ada yang maunya didandani, ada yang maunya didandanin natural, macem-macem. Pagi itu ruang kostum riuh. Bukan soal lagi apa agama dan ras, semua tertawa, semua heboh, semua panik, semua bersemangat –setidaknya itu yang saya tangkap, hehe.

Begitulah, saya kira terlibat dalam aktivitas antaragama akan membawa perspektif baru buat kita, bukan untuk membunuh pemahaman-pemahaman yang sudah kita bawa, tapi untuk membuka ruang bagi interpretasi lain. Karena, ya –bukankah kebenaran itu tidak tunggal? Dan bukankah dengan memahami kebenaran versi lain akan membuat kita lebih kaya, bijaksana, dan tidak kagetan?

Ada lebih dari dua Muslim terlibat dalam pementasan drama Paskah ini. Tapi, apakah keterlibatan itu berpotensi menjadikan “keimanan” melemah? Ah, apakah umat Kristiani di Selandia Baru yang menjaga masjid kala umat Muslim diteror menjadikan mereka tidak lagi beriman pada Tuhan yang mereka yakini? Ya mungkin serupa dengan; apakah menonton film LGBT menjadikan kita gay? #eh

Tapi, ketika kami belajar satu level lebih tinggi soal toleransi dan keberagaman, serangan bom Paskah meledak di Sri Lanka. Targetnya lebih dari satu, mencakup hotel dan gereja. Jumlah korban terus bertambah, bahkan telah menyentuh angka 300. Sembilan pelaku bom bunuh diri, pimpinan kelompoknya diberitakan sudah tewas. Umat Muslim jadi target balas dendam. Kemarin Sinagog di Amerika ditembaki, setelah sebelumnya masjid di Selandia Baru juga diserang. Jelas menyedihkan. Apa penyebab teror-teror ini? Krisis perdamaian? Purifikasi wilayah? Politik? Atau…. pengaruh game online? Dengan keikusertaan saya sebagai Muslim dalam perayaan Paskah di tengah gempuran teror umat beragama, saya mungkin masih yakin… bahwa ada harapan di setiap kegelapan.

Hhhhh…..

Ah, ketika teman-teman di kelas tahu bahwa saya ikut dalam panitia pementasan drama Paskah, seorang teman mengangguk-anggukan kepala dan memandangi saya sebelum akhirnya berkata, “Gimana kalau kita juga bikin drama Isra’ Mi’raj, Nas?”

“… trus aku dadi Buroq ngono, ki? Bentuk-e Nabi Muhammad piye mengko? Malaikat, para Nabi? Yen ono sen ora terimo trus dewe keno pasal penodaan agama opo yo kowe siaaaaaaap?”

 
***
dicopy dari blog Inas
Mahasiswi CRCS UGM
Panitia Tablo Paskah 2019
]]>
https://unit./cm/menjadi-muslim-dalam-drama-paskah/feed/ 0
Tablo Paskah: Refleksi Dari Seorang Herodes Muslim https://unit./cm/tablo-paskah-refleksi-dari-seorang-herodes-muslim/ https://unit./cm/tablo-paskah-refleksi-dari-seorang-herodes-muslim/#comments Wed, 23 May 2018 06:46:38 +0000 https://unit./cm/?p=1339 lanjut

]]>
Tablo Paskah: Refleksi Dari Seorang Herodes Muslim

Oleh: Ahmad SM*

 

  1. (Ingatlah), ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya (yaitu seorang putra), nama Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”. (QS. Ali-’Imran (3): 45)
  2. itulah sebabnya Allah sangat menjunjung-Nya tinggi dan menganugerahkan-Nya nama di atas segala nama,
  3. supaya dalam nama Isa semua akan bertekuk lutut, baik di langit, di bumi, maupun yang ada di bawah bumi,
  4. dan semua lidah mengakui “Isa al-Masih adalah Junjungan Yang Ilahi”, bagi kemuliaan Allah, Sang Bapa kita. (Filipi 2: 9-11)

 

Satu hal yang pernah terbayangkan dalam benak saya hingga akhirnya tercapai adalah membayangkan bermain drama tablo alias drama penyaliban Yesus. Sebagai seorang Muslim yang sering terlibat dialog lintas iman—khususnya dengan kawan-kawan Kristiani, saya sangat tertarik bermain drama yang mengisahkan cukup rinci bagaimana proses Yesus disalib. Setelah mendapat tawaran dari seorang kawan baik—tidak lama saya menawarkan diri untuk bergabung meski dengan hati cemas karena saya berlatar belakang sebagai seorang Muslim.

Tanpa saya duga sebelumnya, saya langsung diminta hadir di pertemuan perdana para pemain tablo Paskah 2018. Dengan hati senang dan dengan benak penuh pertanyaan apakah saya sebagai seorang Muslim bisa ikut bermain dalam drama tersebut. Karena pada awalnya, saya menduga hanya umat Kristiani saja yang boleh bergabung. Setelah saya diterima sebagai pemain alias aktor, saya diminta untuk mengajak kawan-kawan lain jika masih ada yang ingin bergabung karena masih kekurangan aktor. Karena saya masih kuliah di UIN, jelas jaringan kawan-kawan saya lebih banyak di UIN—hingga akhirnya menemukan dua aktor tambahan dari UIN yang berperan sebagai Hanas dan Kayafas. Proses yang berlangsung kurang lebih dua bulan bersama kawan-kawan Teater Seriboe Djendela (TSD) yang notabene mahasiswa Sanata Dharma membantu kami masuk ke dalam peran kami masing-masing.

Saya dan juga kedua kawan saya dari UIN tersebut pasti punya tantangan tersendiri ketika harus berperan dengan tokoh yang baru kami kenali dengan keterangan yang minim dari naskah yang tersedia. Hingga akhirnya, oleh sang sutradara kami disarankan untuk mencari referensi berupa buku atau film yang berhubungan kisah sengsara Yesus. Tak butuh waktu lama, aku mencoba melacak film-film yang disarankan (agar lebih cepat mendapat gambaran tokoh yang saya perankan)—hingga dalam waktu singkat saya berhasil mengumpulkan dan menghabiskan empat film; “The Last Temptation of Christ” (1988), “The Passion of Christ” (2004), “The Son of God” (2014) hingga “Killing Jesus” (2015).

***

Dua bulan berlalu tidak terasa, tanggal 30 Maret lalu diperingati sebagai jum’at agung bagi seluruh umat Kristiani, tak terkecuali umat Muslim sebenarnya—karena setiap hari jum’at juga diagungkan oleh umat Muslim. Hanya saja, jum’at (30 maret) lalu sedikit berbeda dimana satu sisi umat Kristiani memperingati kisah sengsara atau lebih tepatnya wafatnya Yesus Kristus (Yunani: Ιησούς Χριστός)/(Ibrani: ישׁוה המשׁיה) atau dalam tradisi Islam disebut nabi Isa as (Arab: السلام عليهعيسى)—Isa alaihissalam (semoga keselamatan/kedamaian besertanya), di sisi lain umat Muslim menunaikan shalat dhuhur di hari jum’at (yang berbeda dengan shalat dhuhur di hari lain)—dimana hari ini dipenuhi banyak keutamaan dan kemuliaan serta anjuran untuk menunaikan amalan-amalan kebaikan tertentu.

Keterlibatan saya dalam tablo Paskah kali ini pengalaman yang luar biasa—karena di samping mendapat apresiasi—juga mendapat penghakiman dari beberapa orang tentang keimananku, tentang agamaku, hingga penghakiman lainnya. Sebenarnya persoalannya tidak berada di diri saya—karena saya merasa melakukan hal baik dan bertindak dalam koridor Islam yang dicontohkan oleh sang junjungan yang mulia Kanjeng Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya dan tentu saja tetap berada pada koridor apa yang telah Al-Qur’an terangkan. Meskipun nabi Muhammad tidak pernah bermain tablo semasa hidupnya. Persoalan selanjutnya sebenarnya ada pada diri orang-orang yang menghakimi tersebut. Karena kemungkinan besar, penghakiman mereka tidak terbukti alias asumtif! Oleh karena itu, saya ingin sedikit membuka refleksi saya ini dengan sedikit mengutip Al-Qur’an dan sesekali memberikan paralelisasi dengan Alkitab serta kajian saya yang sejak dulu saya rekam dengan baik tentang sosok guru sekaligus sang junjungan dalam Islam dan Kristen.

 

Isa dalam Al-Qur’an

Jika ditinjau dari sudut kitab suci umat Muslim—Al-Qur’an juga memberi perhatian besar kepada Isa as. Jika ditelisik lebih dalam, penggunaan kata “Isa” digunakan sebanyak 25 kali, kata “al-Masih” (sang Messias) sebanyak 11 kali dan “Ibnu Maryam” (putra Maryam) sebanyak 23 kali. Sehingga kalau digabungkan, Al-Qur’an menyebut Yesus atau Isa sebanyak 59 kali dengan segala bentuk derivasinya. Bandingkan juga dengan nama “Musa” yang muncul  136 kali atau “Ibrahim” 69 kali dan juga nama nabi “Muhammad” yang hanya disebutkan 4 kali dalam Al-Qur’an (QS. 3:144, QS. 33:40, QS.47:2, QS.29).

Tak bisa dipungkiri, sosok Isa memang menjadi tema sentral dalam dialog hingga debat antara Islam dan Kristen. Dari narasi-narasi tentang Isa as/Yesus yang sama-sama terdapat dalam masing kitab suci Islam dan Kristiani (Al-Qur’an dan Alkitab). Ada beberapa titik persamaan dan perbedaan kisah di dua kitab suci tersebut, beberapa titik persamaannya adalah Isa atau Yesus lahir tanpa ayah biologis dari Siti Maryam atau Perawan Suci Maria (sapaan dalam tradisi Katholik) (lihat QS. Ali-’Imran (3): 59 dan QS. Maryam (19): 23, bandingkan dengan Injil Matius 1:18 dan seterusnya serta Injil Lukas 2:1 dan seterusnya), menghidupkan orang mati (QS. Ali-‘Imran (3): 49 dan QS. Al-Maidah (5): 110 bandingkan dengan Injil Lukas 7: 12-15), menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta (QS. Ali-‘Imran (3): 49 dan QS. Al-Ma’idah (5): 110 bandingkan dengan Injil Lukas 18: 35-42).

Selain titik persamaannya, terdapat juga titik perbedaannya. Salah satunya ketika Isa as/Yesus yang masih bayi dapat berbicara (lihat di Al-Ma’idah (5):110) dan pada waktu membela ibunya—Siti Maryam atau Maria yang dimana narasi tersebut hanya terdapat dalam Al-Qur’an dalam surah Maryam (19): 30-33 yang justru tidak terdapat dalam narasi Alkitab (Bible) kanonik yang umumnya dibaca umat Kristen. Narasi tersebut diyakini umat Muslim pada umumnya sebagai mukjizat atau keistimewaan nabi Isa as.

Selain berbicara pada saat masih bayi, yang juga menjadi titik perbedaan yang saya rasa tak akan pernah habis diobrolkan hingga diperdebatkan dimana-mana adalah penyaliban Isa (khususnya dalam sudut pandang Muslim), karena tak ada pandangan atau jawaban final dalam pandangan umat Muslim—semuanya berbeda-beda dalam menafsirkan tiga buah surat dalam Al-Qur’an antara lain; QS. Nisa (4): 157-159, QS. Ali-’Imran (5):55, QS. Al-Ma’idah (5): 177. Ada yang mengatakan ia (Isa/Yesus) tidak disalib, yang disalibkan adalah orang yang diserupakan (syubbilahum) atau versi lain yang mengatakan yang disalib adalah Yudas Iskariot sedangkan Isa/Yesus diangkat ke langit dan masih banyak lagi ragam perbedaan tafsiran di kalangan Muslim yang sejak dulu hingga sekarang tak menemukan jawaban yang tunggal.

Lebih lanjut, ada masih banyak lagi titik persinggungannya dengan gaya narasi dan kekhasan masing-masing kitab suci. Dari sekian banyak gambaran tentang Isa dalam Al-Qur’an lebih banyak berbicara tentang dimensi kemanusiaannya sebagai utusan Tuhan atau sebagai nabi—bukan hal yang aneh karena dalam Al-Qur’an yang menjadi dasar keimanan umat Muslim memang tidak terdapat pengajaran atau bahkan pengetahuan tentang keIlahian Isa atau Yesus. Sehingga berbicara tentang keTuhanan Yesus atau keIlahian Isa secara doktrin teologis tidak terdapat dalam keyakinan Muslim. Karena dalam doktrin teologis yang mendalam bahwa firman Allah dalam Islam nuzul atau turun dalam bentuk Al-Qur’an Al-Karim (Al-Qur’an Yang Mulia), sedangkan firman Allah dalam perspektif Kristiani dipahami turun atau nuzul dalam bentuk daging yang termanifestasi dalam tubuh anak manusia yang bernama Yesus, sehingga dalam doktrin trinitas—Yesus punya dimensi keIlahian karena merupakan bagian kesatuan dari Allah Sang Khalik atau Sang Bapa (dalam istilah trinitarian). Namun, seterjal apapun perbedaan teologisnya—dalam dimensi kemanusiaan, baik Islam maupun Kristiani—dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang telah diajarkan oleh Isa al-Masih.

 

Refleksi Herodes Muslim

Subjudul dari bagian ini adalah istilah yang saya rumuskan sendiri. Mungkin sebagian anda sudah bertanya-tanya soal Herodes yang “Muslim”. Bagi saya, inilah yang paling unik, bermain di tengah khalayak umat Kristiani secara khusus lebih banyak umat Katholik serta bersama kawan-kawan aktor yang lain membawa suasana kembali pada abad di mana Yesus menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya ketika harus mendapati dirinya difitnah, dihina, dicemooh, dikhianati, diancam, hingga disalib dan kemudian dibangkitkan kelak. Tablo Paskah yang kami dipersiapkan kurang lebih dua bulan—akhirnya usai kami presentasikan dalam dua jam pertunjukan.

Sebagai pengalaman pertama berproses bersama dalam tablo Paskah kali ini, tentu saja sangat mendebarkan karena sebagai seorang Muslim saya agak serba bingung harus tampil seperti apa agar umat yang hadir dapat menikmati pertunjukan dan khusyuk dalam ibadah mengenang kembali kisah sengsara Yesus dahulu kala. Meskipun dalam hati aku bertanya, “apakah umat-umat yang hadir itu tahu yang bermain di hadapannya ada beberapa umat Muslim ?”.

Singkat cerita, setelah pertunjukan usai—beberapa dari kami harus dengan sabar melayani foto-foto dengan para jema’at yang sempat hadir di pertunjukan tablo di pagi itu yang cerah itu. Tak lama berselang, kami yang Muslim harus pamit lebih dahulu untuk menunaikan kewajiban shalat jum’at.

Lepas shalat jum’at mulailah saya menulis catatan saya sebagai berikut:

Lepas bermain tablo Paskah hari ini. Aku belajar banyak hal, dari kisah kesengsaraan Yesus hingga segala sesuatu yang meliputi penyalibannya. Sebagai pemain tokoh  dengan karakter antagonis, aku menyaksikan dan memainkan sendiri apa yang dihadapi langsung oleh Yesus. Sebagai pewaris misi kenabian dari generasi sebelumnya, Yesus berhadapan dengan kuasa tirani dan kesesatan atau kemunafikan para pemuka agama pada eranya. Yesus kemudian bangkit melawan kesewenang-wenangan Romawi kala itu. Hingga pada akhirnya, atas perlawanannya tersebut yang kemudian melahirkan reformasi besar dalam masyarakatnya kala itu.

Ribuan tahun setelah setelah penyaliban Yesus, banyak orang yang mengikuti ajaran-ajarannya yang pernah diajarkan—tak sekedar diajarkan, tapi sekaligus diamalkan atau diaplikasikan selama hidupnya.

Pilihan Romawi untuk menghukum salib atas Isa al-Masih atau Yesus adalah pilhan—yang pada akhirnya Pontius Pilatus cuci tangan atas keputusan salib hukuman salib yang kala itu yang sudah menjadi tradisi ketika seseorang melakukan tindakan yang ‘dianggap’ menentang penguasa atau melawan “status qou”.

Anggaplah Yesus atau Isa adalah tumbal zamannya. Dia yang telah memberi banyak pelajaran kepada mereka yang hidup sesudahnya. Ajaran dan kebijaksaannya telah berhasil membawa terang dan garam bagi dunia.

Namun, dewasa ini kita saksikan bermunculan Herodes-Herodes baru yang lebih bengis gila hormat!

Pemimpin yang seharusnya punya tanggungjawab besar untuk melayani rakyatnya—malah bertindak sebaliknya. Menindas rakyat serta gagal melindungi segenap tumpah darah tanah airnya.

Akankah terjadi pemberontakan seperti yang terjadi 1000 tahun yang lalu ?

Apakah kita masih membutuhkan Yesus-Yesus modern abad ini ?

Yang berani dengan lantang menyuarakan kebenaran sebagai sebuah kebenaran dan keburukan sebagai sebuah keburukan.

Aku rasa kita membutuhkannya.

Sangat butuh malah!

Ba’da jum’atan, Jum’at Agung, 30 Maret 2018.

Lepas bermain tablo di Kapel Bellarminus

Univ. Sanata Dharma Yogyakarta

Foto: Wahyu Nur Cahyo

***

Sebagai seorang yang senang berdiskusi dan bergaul dengan siapa pun, saya terbuka terhadap segala hal. Setiap semester, saya terbiasa memfasilitasi dialog mahasiswa/i Islam dan Kristiani dalam sebuah Peace Camp. Membantu para mahasiswa-mahasiswi dari kalangan pengikut Nabi Muhammad SAW dan pengikut Isa al-Masih untuk memahami satu sama lain dan menjadi keluarga—bukan hanya menjadi teman biasa!

Di lain sisi, banyak dialog atau bahkan debat sebenarnya seperti yang kita saksikan—entah di televisi atau bahkan di channel youtube yang tidak produktif dan berujung pada debat kusir tanpa persoalan jelas yang justru berlangsung sejak dahulu kala hingga kini. Jika diperhatikan deretan debat itu—justru debat Islam dan Kristen selalu menduduki puncak pertama, bahan debatnya beragam—mulai dari kitab suci, konsep keTuhanan, hingga sosok Isa al-Masih atau Yesus (sapaan yang akrab di kalangan Kristiani). Atau bahkan jika mengetik kata “dialog” di mesin pencari seperti google, jawaban yang ditawarkan oleh google adalah debat! Anda sendiri pasti sudah tau google menampilkan sesuatu yang sering ditonton oleh penggunanya.

Makna “dialog” yang sebenarnya direduksi menjadi “debat” yang tentu saja bermuatan kompetisi alias kalah-menang. Dialog (dua arah) adalah antonimitas dari monolog (satu arah). Dalam dialog, orang-orang dapat menyeberang atau bahkan masuk ke dalam tradisi atau kepercayaan liyan/other untuk mempelajari dan mengerti sang liyan—tanpa kehilangan dirinya yang otentik.

Di tengah proses kami, selain belajar akting dari kawan-kawan Teater Seriboe Djendela (TSD), proses tablo kali ini begitu mengasyikkan  karena dalam proses latihan yang berlangsung kurang lebih dua bulan itu—dialog lintas iman justru kerap terjadi di antara kami para pemain/aktor. Mulai dari mengenal satu per satu tokoh-tokoh yang terlibat yang belum pernah saya dengar sebelumnya, juga banyak menggali tentang banyak ritual atau hal-hal yang mengitari Paskah hingga atribut-atribut yang terdapat dalam Kapel (sebuah tempat ibadah yang berukuran tidak terlalu besar) tempat kami pentas.

Dari proses yang alamiah kami berdialog tentang keimanan kami masing-masing menjadi sangat cair karena kami perjumpaan dan dialog langsung yang kami alami bersama. Selain belajar tentang dunia akting—saling memberi informasi akhirnya membuat di antara kami saling mengisi kekurangan satu sama lain.

Kembali kepada Paskah, semangat pengorbanan Yesus yang wafat di kayu salib—terus dihidupi oleh umat Kristiani di seluruh dunia—membuat saya belajar bahwa pengorbanan adalah ibu dari segala tindakan dan cita-cita. Karena setiap tindakan dan cita-cita membutuhkan pengorbanan. Jika engkau mengingingkan perdamaian, maka engkau harus mengusahakannya dengan sebuah pengorbanan. Sebagai seorang martir (syahid)—Yesus disalibkan lalu wafat hingga bertakhta sebagai al-Mukhalish al-‘alam atau “Juru Selamat Dunia” bagi mereka yang meyakini dan mengikutinya.

 

 

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Artinya: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam (19): 33).

 

עליכם שלום

السلام عليكم

Foto: Judha Jiwangga

 

Di bawah naungan langit Yogyakarta, 11 hari setelah Jum’at Agung.

*penulis adalah fasilitator Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia,

regional Yogyakarta.

Mahasiswa tingkat akhir prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/tablo-paskah-refleksi-dari-seorang-herodes-muslim/feed/ 3
Refleksi Pemain Tablo: Pesan Damai Tanpa Usai https://unit./cm/refleksi-pemain-tablo-pesan-damai-tanpa-usai/ https://unit./cm/refleksi-pemain-tablo-pesan-damai-tanpa-usai/#respond Wed, 11 Apr 2018 02:56:09 +0000 https://unit./cm/?p=1327 lanjut

]]>
Sekilas tampak tidak ada yang mencolok dari penampilan tablo Kisah Sengsara Yesus Kristus pada hari Jumat Agung, hari peringatan wafat-Nya Isa Almasih. Berlokasi di Kapel Bellamirnus, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, peringatan Jumat Agung dibuka dengan rangkaian kata pengantar dari Romo Agustinus Budi Nugroho, S.J. dari Campus Ministry Universitas Sanata Dharma dan dilanjutkan dengan drama Kisah Sengsara Yesus Kristus yang dipersembahkan oleh Teater Seriboe Djendela (TSD).

Drama Kisah Sengasara Yesus Kristus dimulai dengan adegan penangkapan Yesus oleh sejumlah prajurit dan penjaga Bait Allah di Taman Getsemani, dan diakhiri dengan detik-detik tragis penyaliban diri-Nya di Bukit Golgota oleh prajurit Romawi yang disaksikan oleh massa. Ceritanya didesain semirip mungkin dengan peristiwa sebenarnya agar totalitas kehidupan Sang Messiah terungkap. Mengikuti istilah Georg Lukacs, karya seni yang baik adalah karya seni yang realistik dalam arti sebenarnya, yaitu meniru realitas sedemikian rupa sehingga dalam masing-masing potret atau cerita mampu mengungkapkan kisah sesunggguhnya.

Foto: Claudius Hans

Selepas penampilan, sebagian umat terkejut saat mengetahui bahwa ketiga aktor dalam drama tersebut adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang tentunya beragama Islam. Mereka adalah Ahmad Sholahuddin (berperan sebagai Raja Herodes), Wakhyu Arif Pambudi (berperan sebagai Kayafas, Imam Agung di Bait Allah), dan saya sendiri, Ade Sabda Galah (berperan sebagai Hanas, Imam Agung di Bait Allah dan mertua Kayafas). Tak ayal, dalam sekejap ketiganya mampu menyedot perhatian umat dan bahkan sebagian dari mereka harus rela antri untuk sekedar bisa berfoto dengan aktor-aktor “ajaib” tersebut, meski sebagian ada yang acuh, heran, kagum, hingga mungkin juga terharu dengan ke-“aneh”-an kami. Entahlah.

Beberapa hari sebelum ibadah Jumat Agung itu, saya sempat disindir oleh seorang sahabat dalam sebuah pertemuan. Ia mempertanyakan status keimanan saya setelah lama bergelut dengan isu toleransi dan keberagaman. Terlebih, sejak mereka tahu bahwa saya akan berpartisipasi dalam drama Kisah Sengsara Yesus Kristus pada hari Jumat Agung nanti. Namun sebenarnya pertanyaan ataupun pernyataan semacam, “Apakah kamu masih Islam?” atau, “Dengar-dengar kamu sudah pindah agama,” seolah sudah jadi kata sapaan bernada curiga dan penasaran (bahkan terkadang juga olokan) khas kawan-kawan setiap kali saya berjumpa dengan mereka. Untuk itu, demi menghindari kesimpulan naif dan praduga yang terlalu mengada-ada, saya akan memulai refleksi singkat ini dengan sekilas mencoba memaknai toleransi pada makna sebenar-benarnya, sehingga pernyataan maupun pertanyaan yang membenturkan sikap toleransi dengan status keimanan seseorang diharapkan tidak lagi mengemuka.

Istilah “toleransi” berasal dari Bahasa Latin “tolerare” yang artinya: mengendalikan diri, bersabar, memberi kesempatan orang lain untuk mengajukan pendapat, dan lapang dada menerima perbedaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “toleran” memiliki arti “bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri”. Untuk itu, sebagai konsekuensi terminologis, toleransi mengharuskan dua syarat utama, yaitu sikap terbuka terhadap perbedaan disertai komitmen penuh terhadap keyakinannya sendiri. Mengorbankan keimanan untuk alasan apapun sama sekali bukan toleransi karena toleransi itu sendiri pada hakikatnya meniscayakan perbedaan. Jika setiap orang menuju pada satu simpul iman yang sama, maka perbedaan akan sirna. Artinya: sikap toleran tidak lagi dibutuhkan.

Foto: Judha Jiwangga

Dengan demikian, toleransi bukanlah konversi. Setiap orang dituntut untuk bersikap toleran dengan tetap berpegang teguh pada iman dan agama masing-masing. Sebab jika semuanya melebur menjadi satu, maka istilah toleransi tidak lagi relevan. Tahukah Anda bahwa pada hari-hari latihan dan persiapan pentas, kami saling mengingatkan satu sama lain untuk segera beribadah apabila waktu ibadah tiba? Tahukah Anda, bahwa setiap sebelum memulai kegiatan selalu kami awali dengan doa menurut iman dan kepercayaan masing-masing? Tahukah Anda bahwa setiap waktu shalat tiba kami (para aktor Muslim) tetap shalat di tengah kesibukan kami berlatih? Tidak ada yang harus dikorbankan dalam kebersamaan kami. Kalaupun ada, satu-satunya hal yang paling pantas untuk kami korbankan adalah egoisme.

Lebih jauh, sebagian orang berpendapat bahwa toleransi saja tidak cukup. Milad Hanna (2005) misalnya mengusulkan istilah baru yang lebih aktif dan egaliter, yaitu “menyongsong sang liyan (qabulul akhar)”. Keduanya mensyaratkan hal serupa, hanya saja yang terakhir tidak sekedar membiarkan tapi juga ikut terlibat dan aktif membantu dan merawat eksistensi yang lain (the others). Istilah ini sebenarnya hanya istilah lain dari “koeksistensi” yang lebih sering kita dengar. Inilah yang sejak awal didorong oleh negara dalam semboyan “gotong-royong” dan juga agama (Islam) dalam penggalan ayat “fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan)”. Inilah yang menjadi motif awal keterlibatan kami dalam drama penyaliban tersebut. Secara teologis, tentu kami tidak sepakat dengan sebagian adegan dalam drama tersebut dikarenakan narasi sejarah yang berbeda. Namun hal tersebut bukan alasan untuk membenarkan sikap apatis dan acuh tak acuh terhadap mereka yang berbeda. Kami percaya bahwa kehidupan harmonis tidak harus dibangun di atas pondasi kesepakatan, dan kami terus belajar untuk sepakat dalam ketidaksepakatan.

Dalam drama tersebut, saya diminta untuk memerankan sosok Hanas, salah satu Imam Agung di Bait Allah yang bersama dengan Kayafas ikut bertanggung jawab atas wafat-Nya Yesus di kayu salib. Bagi teman-teman Katolik, drama Kisah Sengsara Yesus Kristus ini tidak hanya mengandung nilai kesenian tapi juga ibadah (biasa disebut Ibadah Jalan Salib) karena ditujukan agar umat dapat merefleksikan kisah heroik Sang Juru Selamat di akhir sisa-sisa hidupnya untuk menyongsong hari Paskah, hari kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Oleh sebab itu, kami mencoba untuk tampil seoptimal mungkin agar umat merasakan betapa besarnya pengorbanan Yesus Kristus bagi umat-Nya. Karakter Hanas yang licik dan angkuh saya coba dalami agar umat merasakan langsung gentingnya situasi kala ia menghasut Pilatus dan Raja Herodes untuk segera menghukum mati dan menyalibkan Yesus. Walhasil, sebagian umat pun terlihat larut dalam suasana. Hal ini tampak dari raut wajah dan reaksi mereka saat melihat karakter Yesus dicemooh, ditertawakan dan bahkan disesah oleh prajurit-prajurit Romawi.

Banyak hal yang saya dapatkan dari keterlibatan saya di atas. Sahabat-sahabat baru yang sepanjang persiapan belajar dan berlatih bersama-sama menghadirkan suasana kekeluargaan. Walaupun dalam beberapa hal kami sempat berbeda pandangan, namun hal itu sama sekali tidak mampu mengurai kembali tali persahabatan kami yang sudah terajut erat. Pertemuan tiga kali dalam seminggu selama kurang lebih dua bulan cukup mengikat dan membangun kedekatan emosional di antara kami. Kami telah membuktikan bahwa perbedaan identitas apapun, termasuk agama dan suku yang akhir-akhir ini kerap digoreng untuk kepentingan-kepentingan tertentu, sama sekali tidak menjadi hambatan untuk menguatkan relasi persahabatan.

Foto: Wahyu Nur Cahyo

Masalahnya, orang terkadang cenderung “minder” duluan saat berhadapan dengan perbedaan dan keberagaman. Rasa khawatir bahwa iman mereka akan tergerus sontak menghentikan langkah mereka untuk berbagi dengan mereka yang berbeda. Berbagai macam tabir pun dipasang untuk mengantisipasi kekhawatiran tersebut terjadi. Nah, tabir-tabir ini kemudian menjadi tembok pembatas di dalam hubungan antar umat beragama. Untuk membongkar tembok tersebut orang harus paham dan menyadari logika paling sederhana berikut; sadarkah kita bahwa kekhawatiran tersebut pada hakikatnya menandakan adanya celah keraguan dalam diri kita tentang kebenaran iman kita sendiri? Dan itu artinya kita baru saja menyediakan ruang kemungkinan bagi kebenaran iman dan agama lain. Sebaliknya, keberanian untuk bersikap terbuka dalam menerima dan menghargai perbedaan mengindikasikan kemantapan iman sehingga tak ada rasa segan apalagi takut saat berhadapan dengan perbedaan. Saya tidak bermaksud untuk mengklaim bahwa keimanan saya sudah mapan, tapi setidaknya begitulah cara logika bekerja.

Hal lain yang saya peroleh adalah pemahaman komprehensif tentang sejarah kematian Yesus Kristus dalam perspektif Kristiani. Informasi macam ini sulit saya dapatkan dari buku atau ceramah dosen. Jika kita mau mengutip empirisme radikal-nya William James, maka satu-satunya informasi dan pengetahuan yang bisa diterima adalah jenis informasi dan pengetahuan yang dialami secara langsung (atau paling tidak berusaha mengalaminya, pen). Informasi yang saya dapatkan dari membaca buku dan mendengarkan dosen bukanlah pengetahuan sebenarnya sampai saya (berupaya) mengalaminya secara langsung dengan merepresentasikan kisahnya dalam bentuk apapun, termasuk karya seni teater.

Akhirnya, saya sangat paham dan sadar bahwa pilihan ini mungkin oleh sebagian orang akan dipandang hina dan mungkin dianggap sebagai konsekuensi atas pemahaman dangkal saya terhadap agama, yang suatu saat dapat menyeret saya pada lubang kekufuran. Apa yang saya ingat dan pahami hingga kini hanyalah nasehat guru ngaji saya semasa kecil dulu di surau, bahwa Islam adalah agama yang merangkul siapa pun bukan memukul siapa pun. Saya meyakini bahwa iman bukanlah barang murahan yang dapat dibeli dengan harga berapa pun kecuali Tuhan sendiri yang menghendakinya. Untuk itu, jangan pandang kami seperti para politisi, yang untuk kepentingan politik tertentu harus rela gonta-ganti “iman”. Kami juga bukan kriminal, yang untuk mendapatkan sejumlah uang harus rela menghalalkan segala cara. Kami hanyalah sekumpulan anak muda yang dengan bekal “keanehan”-nya terus berupaya menggemakan nilai-nilai perdamaian agar tetap nyaring dan tidak tertimbun oleh gemuruh suara politik.

*****

Ade Sabda Galah

*Penulis lahir di Sumenep, Madura, 15 Januari 1994. Pendidikan Menengah dan Atas diselesaikan di PP. Al-Amien Prenduan pada tahun 2009-2013. Pernah menjadi pimpinan redaksi Majalah Pesantren ZEAL. Belum lama ini, penulis baru saja menyelesaikan studinya di UIN Sunan Kalijaga. Saat ini, penulis aktif sebagai aktivis dan pegiat HAM di ANBTI (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika) Yogyakarta, serta banyak terlibat dalam aksi-aksi perdamaian bersama YIPC (Young Interfaith Peacemaker Community). Karya lain yang pernah ditulisnya adalah Stigma Buruk Terhadap Pesantren, Relevansi Dakwah dalam Semangat Toleransi, dan Kontestasi Pilkada DKI: Untuk Siapa?

Sumber Tulisan: http://bedaitubiasa.com/2018/04/05/refleksi-pemain-tablo-pesan-damai-tanpa-usai/

 

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/refleksi-pemain-tablo-pesan-damai-tanpa-usai/feed/ 0