srawung – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm Unit Pelayanan Pastoral dan Pengembangan Kerohanian Kampus Tue, 18 Jun 2019 02:39:50 +0700 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.2 https://unit./cm/wp-content/uploads/2019/01/cropped-icon-32x32.jpg srawung – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm 32 32 Jalan Hidup Karna: Pencarian Jati Diri Melalui Keterbukaan Hati https://unit./cm/jalan-hidup-karna-pencarian-jati-diri-melalui-keterbukaan-hati/ https://unit./cm/jalan-hidup-karna-pencarian-jati-diri-melalui-keterbukaan-hati/#respond Mon, 26 Nov 2018 06:11:33 +0000 https://unit./cm/?p=1545 lanjut

]]>
Dari seluruh cerita rakyat di tanah Jawa yang pernah saya dengar, wayang purwa menjadi cerita yang paling menarik bagi saya. Saya mengakui bahwa pemahaman mengenai lakon-lakon yang ada di dalamnya masih sangat sedikit. Akan tetapi, sudah menjadi sesuatu yang umum ketika muncul kata wayang purwa, maka asosiasi orang akan mudah terarah ke kisah Bharatayuda.

Kisah Bharatayuda yang agung ini menggambarkan dengan sangat baik problema kehidupan manusia yang dilambangkan dalam hidup pewayangan, sehingga setiap lakonnya sarat akan makna. Secara umum, sifat-sifat manusia yang kompleks muncul dalam setiap tokoh yang berperan (Kresna, 2012). Dalam kisah Bharatayuda, kita pasti tahu mengenai sosok Pandawa yang menampilkan kebaikan dan Kurawa yang identik dengan peran jahatnya pada setiap cerita.

Sapa nandur bakal ngundhuh, adalah ungkapan yang berarti siapa yang menanam akan menuai (Kresna, 2012). Ungkapan sederhana ini juga seolah-olah sudah menjadi sebuah hukum alam bahwa orang-orang yang bertindak dengan cara tertentu akan mendapat ganjarannya sesuai dengan apa yang dilakukannya. Tentu saja, apa yang dilakukan Pandawa dan Kurawa memiliki konsekuensi dalam hidup mereka masing-masing. Kurawa yang dianggap selalu berbuat jahat pada Pandawa akhirnya dikalahkan dalam perang besar, sehingga Hastinapura menjadi negara yang makmur dalam kepemimpinan para Pandawa.

Sekarang bagaimana jika ada orang lain yang menanamkan bagi kita tanaman yang tidak kita kehendaki, namun kita yang menuai atau menikmati hasilnya? Jika buah dari tanaman itu adalah buah yang baik, maka kita tentu mudah untuk bersyukur dan menikmatinya. Akan tetapi jika buah yang harus kita makan adalah buah yang tidak baik, apakah rasa syukur itu ada semudah ketika menikmati buah yang baik? Sepertinya Basukarna atau Adipati Karna adalah sosok yang tepat untuk kita jadikan contoh dalam menghadapi situasi semacam itu.

Karna, putra sulung dari Ibu Kunti yang berasal dari Dewa Surya ini sebenarnya merupakan bagian dari Pandawa jika saja dirinya tidak dibuang dan dihanyutkan ke sungai agar diasuh oleh orang lain. Karna tumbuh dan berkembang dalam asuhan seorang kusir istana bernama Adirata. Selain karena kemampuan alaminya sebagai seorang ksatria hebat, Karna adalah sosok yang mau belajar dan pantang menyerah. Sekalipun ditolak oleh Resi Durna karena Karna dianggap bukan bagian dari para pangeran Hastinapura, Karna tidak langsung menyerah melainkan mencuri-curi kesempatan untuk dapat mendengarkan dan melihat Resi Durna mengajari Pandawa dan Kurawa.

Kehidupan Karna berubah karena ia dengan berani menantang Arjuna bertanding. Arjuna sempat menolak karena tidak pantas seorang pangeran menerima tantangan dari anak seorang kusir kerajaan. Oleh karena itu, Duryudana dengan senang hati mengangkat Karna menjadi Adipati Awangga agar layak menantang Arjuna dan agar Kurawa memiliki ujung tombak dalam melawan Pandawa. Resi Durna yang melihat pertarungan sengit antara Karna dan Arjuna pun akhirnya hanya dapat mengatakan bahwa hasilnya seri karena kekuatan mereka yang sama-sama hebat.

Singkat cerita, dalam perang Bharatayuda, Karna kembali harus melawan Arjuna karena kedua saudara itu berada di pihak yang berbeda. Perang tanding yang menegangkan, mengharukan, sekaligus berlangsung sangat dahsyat itu dikenal dengan nama Karna Tanding. Kedua panglima perang yang berwajah mirip dan memiliki kekuatan yang seimbang itu berusaha mempertahankan nyawanya masing-masing di tengah kejamnya peperangan (Kresna, 2012). Pada akhirnya, Karna gugur sebagai pahlawan ketika anak panah Arjuna tepat mengenai leher kakaknya itu.

Orang yang belum memahami peran Karna pasti akan bingung mengapa Karna seringkali dianggap pahlawan oleh para dalang. Padahal dengan jelas Karna merupakan abdi yang sangat setia pada Kurawa, secara khusus Duryudana. Karna bahkan gigih memperjuangkan prinsipnya sebagai ksatria untuk membalas budi atas segala sesuatu yang telah diperolehnya. Ternyata, alih-alih ingin mengalahkan adik-adiknya di pihak seberang, Karna justru menginginkan perang Bharatayuda ini terjadi agar angkara murka yang ditimbulkan oleh Kurawa dapat lenyap dari muka bumi. Karna bahkan rela mati di tangan Arjuna agar tidak ada lagi yang dapat menjadi tameng bagi Kurawa. Hal ini menunjukkan bahwa Karna sebenarnya tidak ingin mencelakai adik-adiknya, tetapi tanpa meninggalkan janjinya untuk balas budi kepada Kurawa.

Jika saya boleh mengambil kesimpulan di tengah-tengah tulisan ini, Karna sebenarnya adalah korban dari lingkungan yang membuatnya terjebak pada pihak yang berperan jahat. Korban atas tanaman yang tidak Karna harapkan akan tumbuh, tetapi ia harus memakannya. Jelas bahwa Karna tidak memiliki keinginan untuk dibuang oleh Ibu Kunti. Karna sama sekali juga tidak pernah membayangkan bahwa dirinya harus melalui perjalanan hidup yang berat karena sering dilecehkan oleh orang lain ketika sedang berjuang mewujudkan cita-citanya menjadi seorang ksatria kerjaan yang tangguh. Kita bisa membayangkan bagaimana kecewa dan sedihnya perasaan Karna ketika tahu bahwa dirinya adalah salah satu pangeran yang layak hidup dalam kemuliaan tetapi harus diperlakukan dengan tidak hormat.

Akan tetapi, hal yang menarik justru terjadi di akhir cerita, ketika penikmat pertunjukkan wayang tahu bahwa Karna akhirnya secara tidak langsung memihak adik-adiknya demi musnahnya angkara murka. Hal ini menjadikan Karna adalah sosok korban mulia yang mengorbankan dirinya demi kebenaran. Artinya ia tidak mudah menyalahkan keadaan ataupun meratapi nasibnya yang kurang beruntung. Karna sadar bahwa ada tujuan baik yang masih dapat ia raih dengan perannya sebagai seorang Pangeran yang terbuang. Jika saja ia tidak dibuang dan menjadi bagian dari Pandawa, kejahatan tidak akan musnah dari bumi ini.

Selain itu, Karna harus melawan adik-adiknya sendiri hanya karena berada di pihak yang berbeda. Jika dilihat dari tugas dan tanggung jawabnya, Karna yang memilih setia pada Kurawa adalah sebuah kewajaran karena ingin balas budi. Akan tetapi, hal ini tentunya menjadi sesuatu yang menyakitkan bukan hanya bagi kedua belah pihak, tetapi juga bagi orang-orang terdekat mereka, salah satunya adalah Ibu Kunti. Hati seorang ibu tentu akan menderita menyaksikan anak-anaknya saling bertarung demi membela yang mereka yakini benar. Pasti Kunti memiliki dorongan yang begitu kuat untuk mencegah pertempuran keduanya saling melukai. Kunti tahu, bahwa ketika kedua anaknya saling menyerang, ia adalah orang yang merasakan rasa sakitnya luka itu dua kali lipat.

Peristiwa dan kisah hidup Karna ini menjadi pralambang bahwa setiap orang selalu memiliki pilihan hidup, sekalipun keadaan terkadang tidak berpihak padanya. Menjadi korban dari sebuah keadaan bukan merupakan alasan untuk menyerah dalam sebuah pertempuran hidup dan melupakan tujuan yang ingin diraih. Justru peristiwa-peristiwa yang tidak kita harapkan tersebut menjadi kesempatan bagi kita untuk mengasah diri dan membuktikan pada orang banyak bahwa kita tetap mampu berdiri di atas kaki sendiri, meskipun keadaan terus menghimpit.

Yogyakarta selayaknya seperti Negara Hastinapura dengan negara-negara kecil lainnya yang menyertai. Setiap sudut kotanya dapat menjadi medan perang Kurusetra dan juga dapat menjadi khayangan sewaktu-waktu. Semua orang yang tinggal berdiam di kota ini adalah para tokoh pewayangan yang memiliki perannya masing-masing. Bahkan, seluruh lakon pewayangan dapat dihadirkan dalam setiap dinamika kehidupan yang ada di kota ini. Ada yang berperan sebagai pemimpin yang agung, ada yang berperan sebagai ksatria pembela kebenaran, ada yang menjadi seperti brahma untuk mengajari dharma pada setiap manusia, dan masih banyak peran lain yang dimiliki oleh masing-masing orang, sehingga tercipta begitu banyak lakon yang menarik untuk disaksikan.

Itu artinya sosok-sosok seperti Karna dan Arjuna yang seharusnya bersaudara ada dalam kehidupan kota ini. Sekalipun Karna dan Arjuna memiliki perbedaan dalam setiap perjalanan hidupnya, bagaiamanpun juga mereka tetaplah saudara. Kita harusnya juga ingat bahwa selama masih berada di bawah bendera yang sama, kita adalah saudara. Kita boleh berasal dari timur maupun barat. Kita boleh menganut sebuah paham dari utara maupun selatan. Bahkan, sekalipun dilahirkan di utara, kita juga boleh mengakui bahwa kita berasal dari tengah. Akan tetapi, bagaimanapun latar belakangnya, kita memiliki satu identitas yang sama yaitu warga Negara Indonesia.

Kondisi Indonesia yang majemuk ini sangat kental terasa di Yogyakarta. Kita sangat mudah menjumpai orang-orang dari luar Yogyakarta dan mengikuti dinamika kehidupan warga setempat. Banyak lakon dan interaksi yang muncul sehingga Yogyakarta semakin kaya dengan perbedaan-perbedaan yang dibawa oleh setiap orang. Seringkali kita juga menemui adanya percampuran kebudayaan yang disuguhkan dalam setiap pagelaran kesenian. Kondisi semacam ini membuat pernikahan beda suku dan ras juga terjadi. Akhirnya, muncullah kebudayaan-kebudayaan baru yang membuat variasi kebudayaan Indonesia semakin banyak.

Sayangnya, sosok Karna dan Arjuna yang saling berkelahi dan melukai demi membela yang dianggap benar juga muncul dan memainkan lakon yang menyedihkan. Sekalipun saudara, mereka akhirnya harus terjun dalam peperangan hebat yang menyebabkan gugurnya salah satu pihak. Kondisi ini juga sering terjadi di kota indah Yogyakarta ini. Gesekan-gesekan yang sulit dihindarkan akhirnya mengancam kemanan dan perdamaian yang ada. Tidak jarang ada peristiwa gesekan yang menimbulkan korban jiwa, sehingga memunculkan stigma-stigma tersendiri bagi orang atau pihak-pihak yang terlibat dalam gesekan tersebut.

Peristiwa terbaru yang menggegerkan warga Yogyakarta adalah adanya perselisihan warga dari suku Ambon dengan suku Papua karena penusukan yang terjadi pada tanggal 12 September 2018 yang lalu. Hal ini menimbulkan keresahan mengingat masing-masing pihak yang berselisih tersebar di berbagai wilayah di Yogya, sehingga warga sekitar juga harus ikut berjaga-jaga jika timbul gesekan baru. Tak lama sebelum ini, terjadi penyerangan kepada umat katolik di Gereja St. Lidwina Bedog pada tanggal 11 Februari 2018. Selain itu, tahun 2016 muncul kasus penolakan terhadap pemasangan baliho dengan gambar mahsiswa berhijab di universitas-universitas non-muslim. Belum lagi, banyak rentetan peristiwa lain yang juga dianggap melukai kehidupan sosial yang majemuk di tanah Yogyakarta ini.

Dengan beragamnya kasus pencideraan terhadap kehidupan lintas suku, agama, maupun ras, saya melihat semakin banyak orang yang terdorong dan tersadarkan untuk menjaga persatuan tanpa memandang latar belakang dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Banyak dialog lintas iman diselenggarakan agar terjalin komunikasi yang baik. Banyak seminar juga dirancang untuk membuka wawasan masyarakat agar terbuka dengan warga yang lain. Ada buku-buku khusus yang diterbitkan untuk menyoroti kasus-kasus intoleransi dan perselisihan antarwarga dalam hidup sehari-hari. Jika diambil benang merahnya, segala upaya yang dilakukan tujuannya adalah untuk menjalin relasi yang baik dan mengedukasi masyarakat luas bahwa kehidupan keberagaman di kota ini sudah semakin terancam, sehingga membutuhkan semakin banyak orang untuk terlibat dalam menjaga keutuhan persatuan Indonesia.

Campus Ministry Universitas Sanata Dharma Yogyakarta juga mengungkapkan hal yang senada. Salah satu cara yang tepat dalam meredakan gelombang kekerasan dalam hidup bermasyarakat di Indonesia adalah dengan edukasi. Maka dari itu, lembaga pendidikan dari yang paling dasar sampai perguruan tinggi harus memiliki komitmen dalam menanamkan semangat Pancasila dalam diri seluruh peserta didik. Usaha Campus Ministry ini terwujud dalam gerak langkahnya mengadakan beberapa kali dialog dengan mahsiswa serta masyarakat lintas agama dan suku, sehingga tercipta relasi yang baik antara pihak universitas dengan masyarakat luas. Usaha ini tentunya diselaraskan dengan motto universitas, yaitu cerdas dan humanis. Harapan dari motto itu sederhana, yaitu seluruh civitas akademika di Universitas Sanata Dharma dapat berkontribusi memajukan masyarakat dengan ilmu yang diperoleh demi kesetaraan martabat manusia yang seringkali dilupakan karena masalah-masalah yang muncul sebagai akibat dari perkembangan zaman.

Usaha tersebut memang tidak berdampak langsung kepada seluruh mahasiswa, dosen, dan karyawan yang berdinamika setiap hari dalam kehidupan kampus. Akan tetapi mahasiswa-mahasiswa lintas agama dan suku yang tersebar di berbagai komunitas kerohanian di bawah Campus Ministry dan unit kegiatan kesukuan lainnya, mampu memberikan warna tersendiri dalam dinamika kehidupan kampus. Pada akhirnya, edukasi mengenai rasa toleransi dan kehidupan keberagaman di kampus dapat dirasakan oleh mahasiswa yang lainnya. Banyak interaksi terbuka yang menjadi saksi indahnya toleransi di dalam kampus sendiri. Teman saya, seorang muslim, pernah mengungkapkan bahwa ia salut dengan teman-teman muslim, kristen, hindu, dan budha lainnya yang tetap dapat eksis dan berkembang sekalipun berada di universitas katolik. Ia juga merasa senang ketika dalam beberapa kesempatan melihat seorang biarawati dengan nyaman berjalan berdampingan dengan mahasiswa yang berhijab.

Salah satu pengalaman yang sederhana namun berkesan bagi saya adalah ketika saya memasuki semester 2. Waktu itu, jadwal kuliah masih padat, sehingga hampir setiap siang hari saya masih berada di kampus untuk mengikuti kelas, mengerjakan tugas-tugas dari dosen, maupun sekedar duduk bercengkrama dengan teman mahasiswa lainnya. Suatu siang, salah satu teman saya yang muslim mendatangi saya dan meminta saya untuk menemaninya ke mushola kampus. Saya dengan senang hati menunjukkan tempat pada teman saya ini. Selain itu, saya juga berkesempatan membantunya menyiapkan peralatan sholat seperti mukenah dan sajadah, serta menunjukkan tempat wudhu baginya. Ini terjadi bukan karena saya muslim, tetapi lebih karena saya sering berada di area sekitar mushola untuk berkumpul dengan teman saya yang lain.

Bagi saya, pengalaman itu mengesankan karena saya mendapat kesempatan untuk membantu teman saya yang berbeda keyakinan. Selain itu, saya boleh berbangga, karena dengan peristiwa itu saya berarti mendapat kepercayaan dari teman saya yang berbeda keyakinan untuk membantu dalam menjalankan ibadahnya. Setelah teman saya ini selesai sholat, saya sejenak mendapat kesempatan juga untuk sharing bersamanya sejenak tentang kehidupan beragama kami masing-masing. Sampai saat ini, relasi kami masih terjalin dengan baik, bahkan beberapa kali kami memiliki kesempatan untuk saling membantu dengan ikhlas tanpa perlu melihat latar belakang kami masing-masing.

Dalam kesempatan yang berbeda, saya mendapat kesempatan lagi untuk sharing dengan salah satu teman dari daerah yang berbeda. Dari teman saya ini, saya memperoleh suatu pandangan baru tentang kehidupan keberagaman yang terjalin di kampus. Dengan sangat baik, teman saya ini bercerita bahwa ketakutan terbesarnya dalam menghadapi kehidupan kampus bukan karena perbedaan agama, ras, ataupun suku, melainkan takut karena semakin banyak pribadi-pribadi baru dengan berbagai macam sifat yang akan ia temui. Itu artinya, ia harus menjadi pribadi yang luwes, memiliki toleransi yang besar ketika menghadapi berbagai macam pribadi yang berbeda tersebut.

Adanya individual differences adalah satu prinsip yang teman saya ini pegang sejak awal memasuki dunia perkuliahan, sehingga ia merasa lebih terbuka terhadap orang lain dan lebih mudah dalam menerima setiap perbedaan yang ada dalam diri teman-teman yang ia temui sehari-hari. Bagi teman saya, membicarakan keberagaman dalam hal agama, suku, dan ras adalah hal yang menarik. Tetapi, perbedaan kepribadian adalah suatu hal yang lebih inti karena pada akhirnya apapun latar belakang yang orang lain miliki berkaitan dengan agama, suku, dan ras tersebut tidak akan menjadi masalah lagi.

Saya rasa, keterbukaan diri orang dalam menerima kehadiran orang lain tanpa memandang latar belakang agama, suku, dan rasnya adalah keterbukaan sejati yang diperlukan setiap orang saat ini. Kita tidak bisa menampik bahwa agama dan kebudayaan memang berperan dalam membentuk karakter seseorang dalam bersikap dan berelasi dengan orang lain. Tetapi bagaimanapun juga, ketiga hal tersebut adalah sebagian kecil dari berbagai macam faktor pembentuk karakter yang lain. Inti dari diri manusia adalah karakter atau kepribadian yang dimilikinya yang tentu saja menggerakan setiap pribadi tersebut.

Pemahaman mudahnya adalah ketika kita membicarakan agama, suku, dan ras, kita hanya akan berkutat dalam topik yang terkotak-kotakkan itu. Akan tetapi, pembahasan mengenai pribadi atau karakter seseorang dapat menjadi pemahaman yang luas, bahkan sampai menyangkut tentang latar belakang agama, suku, dan ras yang membentuk pribadi orang tersebut. Saya tidak menolak bahwa sharing tentang agama, suku, dan ras itu juga merupakan perbincangan yang hangat dan menyenangkan. Tetapi kita juga perlu ingat bahwa ada hal yang lebih inti yang perlu disapa dalam relasi dengan orang lain, yaitu karakter setiap orang yang berbeda-beda yang menampilkan wajah kasih Allah.

Seseorang yang sampai pada tahap menyapa karakter orang lain di sekitarnya merupakan sapaan personal yang intim karena sudah mampu masuk dan mengenal orang tersebut dengan lebih dekat. Orang-orang yang seperti ini adalah mereka yang tentunya mau terbuka pada keunikan setiap pribadi. Inilah bentuk srawung yang lebih hangat karena seseorang tidak akan terjebak pada atribut-atribut yang menghiasi diri manusia seperti bahasa, dialek, suku, ras, agama, pekerjaan, status sosial, dan lain-lain. Orang mau menyapa dan mengenal orang lain semata-mata karena kepribadiannya yang menarik dan membuat mereka saling mengisi maupun mengembangkan satu dengan yang lain.

Srawung memang mengandung makna untuk bersosialisasi atau berinteraksi dengan orang lain. Arti ini menunjukkan adanya keaktifan dalam diri masing-masing pihak untuk mau membuka diri. Poin penting lain dari srawung adalah menanggalkan sejenak segala atribut yang ada, agar perjumpaan pribadi dan pribadi ini tidak terpengaruh hal-hal yang membuat orang berada pada pihak yang berlawanan maupun pada tingkat yang berbeda. Maka, srawung tidak berhenti hanya pada sekedar berjumpa, duduk bersama, dan bercengkrama, tetapi juga proses mengembalikan martabat manusia setara dengan manusia yang lain. Jika proses itu tercapai, maka frasa duduk bersama ini akan menempatkan manusia pada level tempat duduk yang sama karena sudah tidak memerdulikan lagi latar belakang orang lain ketika melakukan perjumpaan.

Ketika kita kembali mengingat sosok Karna dan Arjuna dalam kisah Bharatayuda dan menggunakan cara pandang kesamaan martabat manusia seperti di atas, maka Arjuna tidak akan dengan angkuh menolak tantangan Karna ketika mereka masih berguru pada Resi Durna. Cara pandang yang demikian juga akan membuat kita tidak mudah menuduh Karna membela kejahatan. Sekalipun Kurawa dan Karna memperoleh peran yang jahat dalam dunia pewayangan, namun masih ada hal-hal positif yang ternyata dapat kita ambil dari setiap lakon kehidupan mereka (Amrih, 2007). Pada akhirnya, kita bisa menyimpulkan bahwa ketika memandang Karna dan Arjuna dalam kesamaan martabat, kita selalu dapat memiliki harapan positif dalam kedua pribadi itu.

Selain itu, ketika srawung bemakna mengembalikan kesetaraan martabat manusia dalam suatu perjumpaan, maka itu artinya ada hal yang harus dikorbankan agar perjumpaan ini benar-benar menghidupkan. Pengorbanan yang dimaksud adalah adanya kesediaan untuk melepaskan jubah kebesaran masing-masing pribadi dan mau mengakui keberadaan orang lain. Hal ini dengan sangat baik diperankan oleh Karna walaupun sangat implisit dan membutuhkan pemahaman yang mendalam.

Karna yang akhirnya tahu bahwa dia sebenarnya adalah bagian dari Pandawa, tetap bersikeras ingin berada pada pihak Kurawa, namun hati kecilnya memihak kepada adik-adiknya. Keinginan Karna untuk memusnahkan angkara murkalah yang membuat Karna akhirnya membiarkan perang besar tersebut terjadi. Selain itu, Karna tidak terlalu berambisi untuk memenangkan pertempuran dengan Arjuna, adiknya, karena bagaimanapun seorang ksatria harus tetap membela kebenaran. Oleh karena itu, Karna merelakan dirinya dibunuh oleh Arjuna, agar sukmanya terbebas dari angkara murka dan dapat bersatu dengan Pandawa secara kebatinan.

Selain itu, kita juga dapat mengambil sikap Karna yang menjadi korban namun tidak dengan mudah menyalahkan keadaan. Ia gigih memperjuangkan hidupnya sampai akhirnya memperoleh kemuliaan karena mau terbuka dan mengambil kesempatan untuk menjadi lebih baik. Di akhir perjuangannya, Karna mampu menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya dan mengambil keputusan yang sangat tepat demi tegaknya kebenaran. Boleh dibilang, bahwa kita juga adalah korban dari keadaan yang membuat kita terlahir dan memilih untuk membuat sekat dengan orang lain yang berbeda dari kelompok kita. Sayangnya, terkadang kita lebih sering menyalahkan keadaan daripada memperbaiki diri. Kita lupa bahwa kita juga perlu berkembang dan menemukan jati diri kita di dalam kelompok-kelompok yang lain.

Belajar dari keutamaan Karna untuk terbuka dan srawung dengan diri sendiri maupun dengan orang lain nampaknya akan menghasilkan buah yang manis di tengah-tengah tanaman lain dalam kebun kita yang mungkin saja ditanam oleh orang lain. Kita dapat memulai membuka peluang-peluang dengan membuka interaksi dari lingkungan kita yang terdekat. Memperoleh pengalaman yang menyakitkan akan menjadi sebuah bekal berharga untuk terus mencari dan mencari keutamaan diri sendiri. Harapannya, dengan terus membuka peluang srawung dan saling menyapa antarpribadi, kita akhirnya menemukan diri kita, sehingga mampu mengambil sikap atas kondisi negara kita yang masih sangat perlu untuk dibangun.

Ilustrasi sederhana dari Karna ini, tanpa saya sadari sudah saya lihat dalam dinamika kehidupan di kampus. Sapaan antarpribadi dan kegigihan untuk terus mencari jati diri yang sesungguhnya dengan membuka peluang agar dapat berkembang di tengah beragamnya latar belakang orang-orang di kampus, ternyata sesuatu yang indah dalam kehidupan yang nyata. Selama tiga tahun terakhir, saya melihat bahwa ketika seleksi masuk kepanitiaan maupun organisasi, tidak pernah saya temui ada yang menanyakan tentang identitas agama, suku, maupun rasnya. Semua penyelenggara kegiatan menerima dengan baik setiap orang yang ingin berpartisipasi dan berkembang.

Dalam satu kesempatan, saya akhirnya boleh merasakan kepanitiaan yang majemuk. Ketika itu, saya mengikuti kepanitiaan Ekaristi Kaum Muda dan Dialog Lintas Iman. Dalam kepanitiaan itu, walaupun ada corak kegiatan katolik dalam acara Ekaristi Kaum Muda, tetapi teman-teman saya dari lintas agama dan suku tidak sungkan untuk berpartisipasi dan mendaftar. Pada kesempatan yang lain, komunitas kerohanian katolik yang saya ikuti akhirnya memperoleh anggota yang muslim dan budha di dalamnya. Uniknya, mereka akhirnya berani memutuskan untuk menjadi koordinator divisi dalam komunitas tersebut. Teman-teman menyambut dengan baik keputusan mereka, sehingga semua unsur dalam komunitas tersebut dapat berkembang bersama hingga saat ini. Secara umum, saya melihat bahwa dinamika ini sampai pada sapaan personal yang tidak mementingkan lagi agama, suku, maupun ras yang melekat dalam diri setiap orang.

Kita adalah Kurawa dan Pandawa dalam satu kesempatan yang sama. Lebih tepatnya, kita adalah Karna dalam hidup kita. Sosok seperti Karna ditampilkan agar kita memiliki gambaran akan sosok yang netral karena sangat sulit menggolongkan Karna dalam kelompok Kurawa maupun Pandawa. Sekalinya kita mengelompokkan Karna dalam golongan Pandawa, kita harus ingat bahwa semasa hidupnya Karna sangat setia pada Kurawa karena sudah memperoleh kemuliaan dalam hidup. Akan tetapi, jika kita mengelompokkan Karna sebagai Kurawa, kita juga harus tahu bahwa Karna memiliki keutaman untuk membela kebenaran seperti Pandawa dengan caranya sendiri.

Oleh karena itu, Karna menjadi sosok yang tepat yang menggambarkan setiap pribadi manusia karena sisi Pandawa dan sisi Kurawa berdinamika indah di dalam dirinya. Pada akhirnya, segala lakon dalam kehidupan kita kembali pada keputusan kita untuk menghadapi dunia ini. Kita boleh menjadi Karna yang Pandawa dan boleh menjadi Karna yang Kurawa di waktu yang bersamaan. Setiap sisi memiliki perannya masing-masing. Setiap sisi memiliki sisi baik dan sisi jahatnya masing-masing. Melalui kebijaksanaan yang kita pelajari setiap hari dalam dinamika kehidupan, pada akhirnya kita akan menemukan jawaban atas Karna yang mana yang akan saya lakoni. Kembali, dengan srawung yang penuh kasih dan tanpa perlu embel-embel atribut agama, ras, suku, dan atribut-atribut yang lain, kita dapat menemukan diri kita sendiri dalam perjalanan hidup.

Bukan menjadi masalah lagi Karna yang mana, selama dalam proses srawung itu kita melandaskan diri pada kasih, kita tidak akan menyalahkan keadaan yang saat ini mungkin menghimpit kita. Hal tersebut akan membuat kita memiliki kekuatan untuk terus berkembang dan menemukan diri. Masing-masing pribadi seperti Pandawa, Kurawa, dan bahkan Karna memiliki caranya sendiri untuk membagikan kasih dalam srawung yang mereka bangun dengan dunianya. Oleh karena itu, setiap pribadi juga akan memiliki caranya tersendiri untuk membagikan kasih dalam cara srawung yang tersendiri pula.

 

 

Rosalia Tatiana Govitkeva

(Komunitas Paingan/Ignatian Study Club)

Pemenang Juara I Lomba Esai ISC APTIK 2018

 

Sumber:

Kresna, Ardian. (2012). Mengenal wayang. Yogyakarta: Laksana.

Amrih, Pitoyo. (2007). Kebaikan kurawa. Yogyakarta: Pinus.

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/jalan-hidup-karna-pencarian-jati-diri-melalui-keterbukaan-hati/feed/ 0
Bedo-bedo Ora Popo, Sing Penting Kumpul https://unit./cm/bedo-bedo-ora-popo-sing-penting-kumpul/ https://unit./cm/bedo-bedo-ora-popo-sing-penting-kumpul/#comments Fri, 16 Nov 2018 07:33:01 +0000 https://unit./cm/?p=1539 lanjut

]]>
Sing penting kumpul.

Berkumpul menjadi hal yang sebagian orang anggap sangat menyenangkan. Apalagi bila membahas hal-hal yang sifatnya mudah dan menyenangkan, bahkan guyonan yang receh. Namun akan malas bila berkumpul dengan membahas yang rumit dan banyak berpikir. Akan tetapi kedua sisi yang berbeda itu bisa disatukan menjadi satu. Seperti yang saya rasakan beberapa hari lalu di acara “Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Agama 2018”. Ada suatu kalimat yang pernah saya dengar mengatakan “mangan ora mangan sing penting kumpul” (makan tidak makan yang penting kumpul), makan dalam kata ini menurut saya bukan diartikan secara harafiah makan makanan, namun saya mengartikan yang penting kumpul meskipun berbeda. Bedo-bedo gak opo-opo sing penting kumpul. Bagaimana tidak, karena peserta yang hadir berasal dari latar belakang agama yang berbeda, yakni ada Islam, Katolik, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu, bahkan ada pula mereka yang memiliki aliran kepercayaan yang lain seperti Sapta Darma. Keberagaman Indonesia saya rasakan benar nyata pada acara srawung ini.

Srawung yang diselenggarakan di hotel UTC Semarang ini, masih membekas di ingatan saya. Mulai dari acara pembukaan yang dibuka oleh Bapa Uskup sendiri hingga diakhiri dengan stand up comedy yang kocak menutup hari pertama dengan gembira.  Kemudian hari selanjutnya pun tak kalah asik karena pada sore harinya saya bisa bernostalgia di masa kecil, yakni bisa bermain permainan tradisional jaman dulu yang kini mulai terlupakan, seperti main egrang, gasingan, engklek, dan juga bakiak dari batok kelapa. Meskipun tak semua permainan saya kuasai namun rasanya sungguh seru karena lucu dan sekarang sulit sekali dijumpai. Pada hari terakhir senang rasanya bisa misa bersama dengan saudara seiman yang berasal dari daerah jawa tengah yang beragam. Ternyata banyak pula orang-orang muda yang mau aktif di kegiatan seperti ini. Apa yang ditawarkan dalam acara Srawung ini sungguh indah dan bermakna. Namun dari beragam acara yang ditawarkan,  saya justru merasakan rasa srawung yang nyata dan paling tak terlupakan adalah ketika srawung di dalam kamar tidur.

Saya bersama rombongan Campus Ministry Universitas Sanata Dharma sebenarnya termasuk dalam deretan yang datang terlambat sehingga kami tidak ikut dalam acara cap tangan, yang kemudian hasilnya dipakai dalam acara pembukaan. Namun untung saja kami semua mendapatkan kamar, begitu pula dengan saya yang ternyata menjadi orang pertama yang membuka kamar C330, tempat saya tidur bersama dengan 8 orang lain yang belum datang dan belum saya kenal latar belakangnya. Satu persatu penghuni kamar saya bertambah. Adalah mas Edy dari Banyumas dan Arka dari Klaten. Mereka menjadi teman perbincangan saya pertama kali di Srawung ini. Perbincangan kecil yang cukup hangat di awal kemudian berlanjut ke perbincangan yang lebih berat mengenai politik dan agama. Kami berbeda umur dan latar belakang. Mas Edy beragama Islam dan sudah bekerja. Mas Edy senang sekali membaca buku tentang keagamaan. Sedangkan Arka beragama Katolik dan masih duduk di bangku SMA kelas 3. Satu perbincangan yang masih teringat dalam benak saya yakni perbincangan hangat tentang agama. Mas Edy mengatakan bahwa doa Bapa Kami ada juga yang berbahasa Arab. Jujur saja saya tidak bisa bahasa Arab bahkan tidak tahu bahwa ada terjemahan Bapa Kami dalam bahasa Arab. Beliau menunjukkan video lagu seorang muslim yang menyanyikan doa Bapa Kami dalam bahasa Arab kepada saya dan Arka. Tidak hanya menunjukkan video saja, tapi beliau ternyata bisa juga mendaraskan doa Bapa Kami dalam bahasa Arab tersebut. Seketika saya pun berdecak kagum karena beliau yang muslim bisa mendaraskan dengan lancar doa Bapa Kami tanpa merasa tidak nyaman. Kagum karena masih ada orang yang toleransinya tinggi terhadap agama lain. Mampu terbuka terhadap keberagaman agama.

Keberagamaan tak selalu menjauhkan. Keberagamaan ternyata tak membedakan. Bahkan keberagamaan itu menyatukan dan menguatkan. Srawung singkat yang saya rasarakan di kamar tidur dengan berdiskusi dan bertukar pikiran ternyata mampu menyadarkan dan menambah pandangan saya terhadap keberagaman. Membuat saya lebih mengenal satu dengan yang lain. Menjadi diri sendiri dan apa adanya dalam berkumpul adalah intinya. Mereka ingin mengenalmu dan saya pun ingin mengenal mereka. Ketika orang sadar bahwa orang lain menerimanya maka secara otomatis orang tanpa ragu akan mampu mengimprovisasi diri. Mayoritas dan minoritas tak menjadi masalah bila semua orang bersahabat dan memiliki jiwa toleransi. Tidak ada kata selesai dari acara ini. Justru ini menjadi awal bagiku untuk berani ikut ambil bagian dalam menyatukan perbedaan melalui sikap kritis dalam menyikapi permasalahan dan ikut ambil bagian dalam kegiatan terlebih kegiatan lintas iman.

Refleksi dari Hosea

Peserta Srawung dari Komunitas Paingan USD

 

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]

]]> https://unit./cm/bedo-bedo-ora-popo-sing-penting-kumpul/feed/ 2 Toleransi Itu Sudah Ada https://unit./cm/toleransi-itu-sudah-ada/ https://unit./cm/toleransi-itu-sudah-ada/#comments Thu, 01 Nov 2018 08:31:38 +0000 https://unit./cm/?p=1512 lanjut

]]> Kegiatan Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda 2018 yang diadakan oleh Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 26-28 Oktober 2018 di Semarang benar-benar membuat saya terkejut dan terpukau. Terutama jumlah peserta yang membludak sehingga membuat para panitia kewalahan. Terlebih lagi peserta yang sangat banyak ini ternyata sangat antusias dan inisiatif dalam memeriahkan acara. Keterbukaan pikiran dan penerimaan yang besar diperlihatkan oleh semua yang terlibat dalam acara srawung ini.

Sebelum mengikuti kegiatan srawung, saya ternyata mempunyai pikiran yang pesimis terhadap keberadaan toleransi di Indonesia, walaupun saya tidak sepenuhnya salah tentang situasi intoleransi masyarakat Indonesia. Mungkin yang berbeda adalah bagaimana saya mengambil sikap tentang perbedaan itu. Sebelumnya saya memiliki perspektif bahwa toleransi merupakan hal yang harus dibentuk, dicari, dan dibuat oleh sebuah bangsa yang ingin memajukan kedamaian. Namun sekarang saya melihat toleransi adalah sesuatu yang sebenarnya sudah ada di sana dan hanya perlu disadari. Hal ini tampak sekali saat MC talkshow saling bercanda kekhasan agama masing-masing dan mereka justru tertawa lepas dan menerima candaan tersebut tanpa ada perasaan tersinggung sama sekali. Bahkan mereka berhasil menularkan toleransi yang mereka miliki kepada saya yang tertawa bersama mereka. Berangkat dari pengalaman ini saya akhirnya sampai kepada pandangan bahwa toleransi itu ada dan sudah menetap dalam hati setiap orang, hanya perlu disadari saja.

Jika intoleransi adalah kanker yang menyebar dan menjangkiti orang-orang yang terpapar olehnya, maka toleransi itu seperti wangi kue dari oven yang meresap kedalam memori setiap orang. Sayangnya wangi ini cepat terlupakan. Apabila wangi ini tercium barulah memori akan toleransi itu muncul lagi, membawa nutrisi bagi keterbukaan dan kedewasaan dalam memandang perbedaan. Oleh karenanya acara-acara yang mengedepankan perbedaan perlu terus diadakan agar toleransi tidak terlupakan.

Sebagai mahasiswa yang sebentar lagi akan terjun ke masyarakat, saya rasa sudah waktunya berhenti untuk bersikap apatis, toh saya sudah menikmati waktu saya yang damai dan tidak perlu pusing memikirkan orang yang berpikiran sempit dan berhati kecil penuh ketakutan akan perbedaan.  Mengikuti acara srawung ini membangkitkan toleransi saya, sehingga “gatel” rasanya apabila membiarkan intoleransi berkembang.

Refleksi dari Yoga

Peserta Srawung dari Komunitas Mahasiswa Buddhis dan Khonghucu
Dharma Virya USD

Featured Image: Instagram Sedulur Srawung

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/toleransi-itu-sudah-ada/feed/ 1