Keberagaman – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm Unit Pelayanan Pastoral dan Pengembangan Kerohanian Kampus Fri, 12 Nov 2021 11:57:29 +0700 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.2 https://unit./cm/wp-content/uploads/2019/01/cropped-icon-32x32.jpg Keberagaman – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm 32 32 Perhentian 3 “Pemimpin untuk Sesama” https://unit./cm/perhentian-3-pemimpin-untuk-sesama/ https://unit./cm/perhentian-3-pemimpin-untuk-sesama/#respond Fri, 12 Nov 2021 11:42:23 +0000 https://unit./cm/?p=2692 lanjut

]]>
Berziarah Bersama Ignatius Loyola

Dewi Santika adalah seorang presiden mahasiswa di Universitas Sanata Dharma. Dewi adalah mahasiswa yang ingin menjadikan dirinya itu berguna untuk sesama, terutama di dalam kehidupannya sebagai mahasiswa. Mahasiswi berdarah Medan ini ingin membuktikan bahwa seorang perempuan juga dapat menjadi pemimpin yang baik.

Seri dokumenter ini diproduksi oleh Campus Ministry Universitas Sanata Dharma dalam rangka memperingati 500 tahun pertobatan St. Ignatius Loyola.

Link untuk menonton dibawah ini

https://youtu.be/m5h7_kVo59o

]]>
https://unit./cm/perhentian-3-pemimpin-untuk-sesama/feed/ 0
Perhentian 2 “Kutemukan Tuhan dalam Sesama” https://unit./cm/perhentian-2-kutemukan-tuhan-dalam-sesama/ https://unit./cm/perhentian-2-kutemukan-tuhan-dalam-sesama/#respond Tue, 09 Nov 2021 11:18:38 +0000 https://unit./cm/?p=2682 lanjut

]]>
Berziarah Bersama Ignatius Loyola

Okta merupakan mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ia mengalami suatu peritiwa perjumpaan, sehingga membuat ia ingin berubah menjadi Okta yang lebih baik lagi. Okta yang semula merupakan mahasiswa yang kurang aktif, namun saat ia berjumpa dengan teman-temannya ia mengalami sebuah dorongan untuk berubah. Dan akhirnya sekarang Okta menjadi mahasiswa yang aktif dan menemukan dirinya yang seutuhnya.

Seri dokumenter ini diproduksi oleh Campus Ministry Universitas Sanata Dharma dalam rangka memperingati 500 tahun pertobatan St. Ignatius Loyola.

Link untuk menonton dibawah ini:

https://youtu.be/2iDdC_qBjH4

]]>
https://unit./cm/perhentian-2-kutemukan-tuhan-dalam-sesama/feed/ 0
Perhentian 1 “Hidup yang Dibarui dalam Tuhan” https://unit./cm/perhentian-1-hidup-yang-dibarui-dalam-tuhan/ https://unit./cm/perhentian-1-hidup-yang-dibarui-dalam-tuhan/#respond Fri, 05 Nov 2021 11:29:39 +0000 https://unit./cm/?p=2673 lanjut

]]>
“Berziarah Bersama Ignatius Loyola”

Widia adalah seorang mahasiswi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam kehidupannya, dia mengalami sebuah transformasi yang mendewasakan. Ia rela meninggalkan kenyamanan sebagai seorang “Gusti” di Bali untuk mengeksplorasi dirinya di tempat yang baru.

Seri dokumenter ini diproduksi oleh Campus Ministry Universitas Sanata Dharma dalam rangka memperingati 500 tahun pertobatan St. Ignatius Loyola.

Klik link berikut untuk memasang reminder: https://youtube.com/c/CampusMinistryUSD

Connect with us on social media:

YouTube: https://youtube.com/c/CampusMinistryUSD
Instagram: https://instagram.com/campusministryusd?utm_medium=copy_link
Twitter: https://twitter.com/cmsanatadharma?t=15nE4xzJlSnglCQaX2bWlQ&s=08
Facebook: https://facebook.com/cm.usd
Tiktok: https://vt.tiktok.com/ZSejWACyx/

Klik link dibawah untuk menonton:

https://youtu.be/2MNvhM99N6s

]]>
https://unit./cm/perhentian-1-hidup-yang-dibarui-dalam-tuhan/feed/ 0
Pain Tolerance – Sebuah Pembeda Pembangun Kebersamaan https://unit./cm/pain-tolerance-sebuah-pembeda-pembangun-kebersamaan%ef%bb%bf/ https://unit./cm/pain-tolerance-sebuah-pembeda-pembangun-kebersamaan%ef%bb%bf/#respond Mon, 14 Jan 2019 05:23:19 +0000 https://unit./cm/?p=1551 lanjut

]]>
 

Sejak duduk di jenjang Sekolah Dasar, telinga kita tentu sudah tidak asing dengan semboyan bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”. Semboyan tersebut menggambarkan keanekaragaman bangsa Indonesia yang kita hayati pula sebagai sebuah bentuk kekayaan, yang patut disyukuri. Kendati demikian, benarkah kita sudah betul-betul memahami hakikat dari kalimat sakti yang telah berusia kurang lebih 7 abad tersebut? Perjalanan saya mendalami Psikologi selama 6 tahun terakhir ini menghantarkan saya pada sebuah momen reflektif mengenai diversitas dalam menjalani hidup di tanah air.

Kenyataan bahwa saya terlahir sebagai “minoritas” dalam pengertian tertentu juga boleh dikatakan membuat saya “sudah kenyang” dengan berbagai isu intoleransi, diskriminasi, marjinalisasi, dan -si – si lainnya. Pengalaman unik tersebut menjadi bahan pemikiran panjang yang terus-menerus saya renungkan hingga saat ini. Hingga akhirnya, kacamata psikologis yang saya sebutkan tadi membantu saya melahirkan buah pikir yang menurut saya berbeda dengan pemahaman saya di waktu lampau.

Benar bahwa insan Indonesia, apalagi dunia, berbeda-beda dalam gender, bahasa, suku, budaya, hingga agama – yang dewasa ini sering menjadi kambing hitam pemecah persatuan. Misalnya, dalam budaya Bugis di Sulawesi Selatan, dikenal istilah calabai untuk menyebut kelompok orang dengan fisik laki-laki yang berperilaku layaknya perempuan, serta istilah calalai untuk mengelompokkan orang dengan fisik perempuan yang berperilaku seperti layaknya laki-laki. Tidak hanya dalam hal kepercayaan, bahasa dan dialek, ataupun suku bangsa; di Indonesia sendiri ternyata terdapat lebih dari 2 jenis pembagian gender. Lebih mengejutkan lagi, dalam sebuah survei yang dilakukan oleh surat kabar mahasiswa di Sydney University secara online, para partisipannya menggolongkan diri mereka ke dalam 57 jenis gender! (Blair, 2014).

Kendati demikian, bukan hal tersebut yang hendak saya bahas dalam kesempatan kali ini. Dalam kapasitas saya sebagai mahasiswa Psikologi, saya menyadari ada sebuah pembeda antara satu orang dengan orang yang lainnya yang jauh lebih sederhana, sekaligus jauh lebih kompleks, yang jarang disadari keberadaan dan sisi pentingnya. Pembeda yang saya maksud tersebut adalah kemampuan seseorang untuk menoleransi rasa sakit (pain tolerance). Meskipun pain tolerane biasanya merujuk pada sakit fisik, dalam konteks ini, yang saya maksud adalah baik rasa sakit fisik maupun psikis.

Berapa kali, seumur hidup kita, kita mengatakan kepada orang lain, “Masa gitu aja nyerah sih?”, atau “Halah gitu aja ngeluh!”, atau “Itu sih belum seberapa…” lalu kita mulai menceritakan “kehebatan” kita, seberapa kita kuat dalam menghadapi rasa sakit, ataupun seberapa mampu kita bertahan dalam permasalahan (yang kita rasa jauh lebih berat daripada permasalahan orang lain). Tanpa kita sadari, setiap orang memiliki kapasitasnya masing-masing. Misalnya, seorang kenalan saya bercerita bahwa ia menangis selama 2 hari, bahkan tidak masuk kerja karena hewan peliharaannya mati. Sementara itu, bagi rekan pembaca yang tidak menyukai hewan, atau tidak memiliki pengalaman serupa, mungkin hal tersebut akan terasa menggelikan, bahkan mustahil untuk dilakukan.

Berbicara mengenai pain tolerance lebih jauh, saya juga akan membagikan sedikit bagian homili dalam misa Hari Raya Penampakan Tuhan yang saya hadiri beberapa waktu lalu. Pada hari tersebut, Gereja semesta mendengarkan kisah mengenai tiga orang Majus dari Timur. Dalam kisah tersebut, ada sesuatu yang unik dalam persembahan yang dibawa oleh ketiga orang bijaksana tersebut. Persembahan yang tidak biasa tersebut adalah mur.

Menurut Romo yang memimpin misa, mur merupakan suatu jenis rempah yang digunakan untuk kesehatan maupun upacara kematian. Hal ini menggambarkan bahwa selain mempersembahkan harta yang dipandang mewah, seperti halnya emas, yang menegaskan bahwa Yesus yang lahir di kandang adalah raja, persembahan berupa mur menjadi sebuah simbol pula bahwa pemberian yang sederhana dan manusiawi dapat menjadi besar artinya apabila diberikan dengan hati yang tulus.

Dikaitkan dengan kehidupan kita sehari-hari, kita seringkali terkecoh dengan pandangan bahwa suatu pemberian haruslah mahal dan hebat. Padahal, hadiah yang bermakna biasanya justru berbentuk pemberian yang sesuai dengan kebutuhan si penerima. Dan untuk mengetahui kebutuhan orang lain, diperlukan suatu kepekaan dan kerendahan hati untuk mau bertanya ataupun mencari tahu mengenai apa yang sedang diharapkan oleh orang yang hendak kita berikan sesuatu ataupun pertolongan.

Dengan demikian, sebenarnya kondisi manusia yang diciptakan dengan tingkat pain tolerance – istilah yang saya pinjam untuk menggambarkan batas kemampuan seseorang untuk dapat menerima rasa sakit fisik maupun psikis – yang berbeda-beda, tentu merupakan suatu pemberian yang sesuai dengan kebutuhan juga. Dengan adanya tingkat kepekaan dan toleransi yang berbeda-beda tersebut, bukankah kita jadi punya kesempatan untuk memperhatikan satu sama lain dengan lebih baik lagi?

Keberadaan fenomena tersebut membantu kita untuk mau belajar peka terhadap kebutuhan orang lain, yang secara tidak langsung akan menjadi bibit toleransi dalam masyarakat kita yang multikultural dalam berbagai kategori. Adanya toleransi tersebut akan memperkuat persaudaraan kita. Dengan demikian, pantaslah pain tolerance tersebut disebut sebagai pembeda yang justru dapat membangun kebersamaan.

Referensi

Blair, T. (2014). University gender identity survey offers a mind boggling 57 different options but none are simply male or female. The Daily Telegraph. Diunduh dari https://www.dailytelegraph.com.au/news/nsw/university-gender-identity-survey-offers-a-mind-boggling-57-different-options-but-none-are-simply-male-or-female/news-story/17622c51990990c13ab66a19f61701c6 pada Januari 2019.

 

archangela.tiffany©0119

Depok, Indonesia

Alumni Psikologi USD

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]

 

]]>
https://unit./cm/pain-tolerance-sebuah-pembeda-pembangun-kebersamaan%ef%bb%bf/feed/ 0
Menggemakan Kebenaran Melalui Jalan Sunyi https://unit./cm/menggemakan-kebenaran-melalui-jalan-sunyi/ https://unit./cm/menggemakan-kebenaran-melalui-jalan-sunyi/#respond Wed, 26 Sep 2018 03:12:31 +0000 https://unit./cm/?p=1505 lanjut

]]>
Saya ingin mengawali permenungan kali ini dengan membahas judul yang para pembaca sekalian telah baca, “Menggemakan Kebenaran melalui Jalan Sunyi.” Dulu semasa SMA, guru sastra saya pernah menjelaskan suatu teori, bahwa judul itu baiknya dibuat di akhir penulisan sebuah karangan. Hal ini bertujuan agar judul tersebut dapat merangkum seluruh isi tulisan. Akan tetapi, entah dari mana datangnya, saya tiba-tiba tertarik dengan kata-kata di atas. Tanpa berpikir panjang, akhirnya kata-kata tersebut saya tetapkan sebagai judul, meskipun saat itu saya sama sekali belum terpikirkan bagaimana isi dari tulisan ini. Menabrak teori? Iya. Tetapi, dunia tidak akan pernah indah jika segala sesuatunya selalu selaras dengan teori.

Awalnya saya bingung mengapa saya memilih kata “menggemakan” sebagai pembuka dari judul dan bukannya “meneriakkan”. Setelah ditimbang-timbang, saya kira judul artikel ini memang lebih manis dan pas jika menggunakan kata “menggemakan” daripada “meneriakkan.” Bagi saya, alasannya sederhana. Pertama, kata “menggemakan” (gema), lebih banyak konotasi positifnya dibandingkan dengan kata “meneriakkan” (teriak). Kedua, jika dilihat dari segi ekonomis, “menggemakan” lebih menguntungkan, karena sekali ada suara yang berbunyi, suara tersebut akan berbunyi berulang-ulang dengan sendirinya. Sedangkan, “meneriakkan” terkesan kita harus mengeluarkan tenaga yang banyak hanya untuk memunculkan satu suara yang tidak dapat berbunyi berulang-ulang. Di samping itu, ketika menyandingkan kata “menggemakan” ini dengan kata “jalan sunyi,” paduannya akan memunculkan keindahan tersendiri. Hanya di dalam kesunyian dan kekosonganlah, gema itu dapat terdengar dengan lebih jelas.

Dari dua alasan yang saya ungkapkan di atas, masih ada satu alasan yang menurut saya paling menarik jika dijadikan pembahasan dalam artikel ini. Ketika mendengar ada orang lain yang berteriak dalam jarak dekat maupun jarak yang cukup jauh, umumnya orang akan merespon dalam dua cara, yaitu menghindar karena munculnya kebisingan akibat adanya teriakan, atau sekedar memasang telinga untuk mendengarkan isi teriakan tersebut. Tetapi, jika orang tiba-tiba mendengar sebuah gema, satu-satunya respon yang muncul dari orang-orang adalah mendengarkan dengan lebih seksama gema yang berbunyi tersebut. Bahkan pada kesempatan tertentu, orang tidak hanya sampai pada tahap mendengarkan dengan seksama, tetapi juga merasakan gema tersebut sampai ke hatinya. Hal ini mengindikasikan, bahwa untuk mendengarkan keindahan dari sebuah gema yang muncul diperlukan adanya kepekaan atau unsur kebatinan pada diri setiap orang.

Judul hingga tiga paragraf pertama ini saya pakai sebagai metafora bagi orang-orang yang memperjuangkan kebenaran tanpa diketahui banyak orang dan tanpa mengusik ketenangan hidup dari orang-orang yang memang tidak harus mengetahui perjuangan mereka. Salah satu kelompok yang turut berjalan di jalan sunyi ini adalah AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan ANBTI (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika). Saya mengenal dan mengetahui eksistensi mereka juga belum lama semenjak mereka melakukan launching buku yang berjudul “Jurnalis Bukan Juru Ketik: Panduan Meliput Isu Keberagaman” pada 1 September 2018 kemarin. Melalui buku tersebut, saya mulai sedikit demi sedikit mengetahui bagaimana dinamika perjalanan aliansi-aliansi tersebut. Mereka merupakan dua dari sekian banyak aliansi yang memperjuangkan kelompok-kelompok tertindas karena arogansi pihak-pihak tertentu yang tidak menyukai keberadaan dari kelompok-kelompok tersebut.

Satu hal yang unik di sini adalah, untuk kali pertamanya saya mendengar ada pihak yang mengangkat jurnalis sebagai salah satu ujung tombak untuk membungkam pihak-pihak intoleran tadi agar fenomena pelanggaran dalam hal kebebasan beragama tidak terjadi lagi. Selama ini memang yang saya tahu, tidak banyak peristiwa semacam itu yang terekspos serta diperhatikan secara khusus oleh masyarakat dan pihak yang berwenang. Bahkan dari diskusi dalam acara yang saya ikuti ini, terungkap fakta bahwa tidak banyak jurnalis yang mau terjun untuk meliput, menulis, dan mempublikasikan fenomena tersebut. Kalaupun ada jurnalis yang mau meliput, seringkali berita yang dipublikasikan justru semakin memojokkan pihak korban. Akhirnya, hal ini membuat banyak pihak menutup-nutupi kasus yang terjadi, bahkan banyak korban yang memilih bungkam. Padahal dengan bungkamnya para korban dan pihak-pihak yang berwenang, kelompok-kelompok yang intoleran ini justru semakin arogan karena merasa tidak mendapat ‘teguran’ dari masyarakat.

Dari gambaran singkat tersebut, sudah selayaknya kita mengapresiasi mereka, dalam hal ini para jurnalis, yang berani mengambil sikap untuk terjun dan memberitakan kebenaran di jalan sunyi ini. Kita tidak pernah tahu seberapa rumit setiap pelanggaran yang terjadi, sehingga para jurnalis ini harus selalu menelusuri celah sempit dalam mencari informasi yang sebenar-benarnya. Kita juga tidak pernah tahu, apa saja yang dihadapi oleh para jurnalis selama proses peliputannya, termasuk segala bentuk teror yang mereka terima. Untuk itu, menurut saya, bentuk apresiasi yang paling baik bagi para jurnalis ini adalah menjadi gema bagi kebenaran yang telah mereka ungkap. Gema yang saling mengisi agar semakin banyak orang tergelitik baik telinga maupun hatinya untuk mau peka, mendengarkan, dan tergerak demi kebenaran yang selama ini tertutupi teriakan-teriakan kaum intoleran yang lebih nyaring. Jika setiap dari kita akhirnya mau ambil bagian dalam menjadi gema bagi suara kebenaran ini, maka perdamaian akan semakin dirasakan oleh banyak orang yang rindu akan suara-suara indah keberagaman di Indonesia.

 

_R_

(Rosminah)

Ignatian Study Club

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/menggemakan-kebenaran-melalui-jalan-sunyi/feed/ 0
Menjadi Sanata Dharma, Menjadi Indonesia https://unit./cm/menjadi-sanata-dharma-menjadi-indonesia/ https://unit./cm/menjadi-sanata-dharma-menjadi-indonesia/#respond Mon, 19 Jun 2017 01:44:55 +0000 https://unit./cm/?p=1120 lanjut

]]>
Menjadi Sanata Dharma, Menjadi Indonesia

Butir-butir keringat menetes di dahi sekumpulan anak muda itu. Ada yang memakai kerudung, ada pula yang berkalung rosario. Mereka duduk bersama di depan sebuah gerobak angkringan di kompleks Beringin Soekarno Kampus II Universitas Sanata Dharma. Meski wajah mereka nampak kelelahan, namun tawa ceria seringkali terdengar. Tidak jauh dari gerobak angkringan, sekumpulan anak muda juga terlihat tertawa lepas, saat mendengarkan lagu-lagu kocak atau celotehan komika yang beraksi di atas panggung. Siang itu mereka melahap bungkusan nasi kucing dan menikmati segelas es teh setelah bersama-sama berjalan kaki dari Pura Jagatnatha di Banguntapan ke Kapel Bellarminus di Mrican. Mereka sedang berkumpul di acara Angkringan Lintas Iman, sebuah dialog reguler yang digagas oleh para mahasiswa anggota komunitas mahasiswa berbasis agama di Universitas Sanata Dharma.

Hari itu, Angkringan Lintas Iman mengambil tema “Bersyukur Menjadi Indonesia”. Hari itu, 14 Oktober 2014, bertepatan dengan hari di mana sebagian umat Islam merayakan Idul Adha, umat Katolik memperingati pesta Santo Fransiskus Asisi serta umat Hindu merayakan Saraswati. Suasana hari itu terasa gamblang: tentang dialog, tentang solidaritas, dan tentang ilmu pengetahuan yang membawa manusia semakin beradab.

Ada beberapa sharing pemaknaan akan hari istimewa itu dari para mahasiswa yang berbeda agama. Mereka adalah Rizky, Sisca dan Kadek. Perkenankanlah saya menceritakannya kembali untuk kita semua.

 

***
Rizky, adalah seorang mahasiswa PGSD. Ia berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Ia adalah salah seorang aktivis Forum Keluarga Mahasiswa Muslim Bina Ukhuwah Dakwah Islam Universitas Sanata Dharma (FKM Budhi Utama). Kekhawatiran menjadi mahasiswa muslim di universitas Katolik tentu pernah hinggap di benaknya saat tahun-tahun awal perkuliahan. Seiring berjalannya waktu, justru kekhawatiran tersebut tidak pernah benar-benar menjadi nyata. Ia bisa menjalankan sholat di kampus, ia juga bisa tetap berdinamika dengan teman-teman komunitas muslim, bahkan ia bisa berpartisipasi di hampir semua kegiatan kemahasiswaan baik di tingkat program studi, fakultas maupun universitas. Ia merasa kampus menjadi rumah yang bisa memfasilitasinya untuk berkembang sebagai pribadi, tanpa pernah memandang agama yang dianutnya.

Menariknya, ternyata lebih dari sekali ia terlibat dalam kepanitiaan perayaan Natal maupun Tri Hari Suci di Kapel Bellarminus. Ia tahu bahwa di saat Natal dan Paskah para mahasiswa katolik banyak yang pulang kampung untuk merayakan bersama keluarga. Oleh karenanya, dengan sadar ia ingin membantu pelaksanaan misa. Pada awalnya banyak dari teman-teman Katolik yang justru bingung ketika ia dan beberapa teman muslimnya mendaftar ke Sekretariat Campus Ministry untuk terlibat dalam kepanitiaan. Mungkin ada yang merasa aneh, mungkin ada juga yang mencurigai. Ia biasanya mendaftar untuk menjadi seksi perlengkapan atau dokumentasi karena ia sadar betul tidak bisa membantu untuk urusan liturgi.

Suasana kampus mengingatkan Rizky pada suasana di kampungnya. Saat ada tetangga yang sedang punya gawe (hajatan) atau nandhang sripah (berduka), tentu setiap orang berusaha memberikan bantuan dari yang mereka bisa, tanpa memandang ia beragama apa. Di kampus ini, ia merasa merdeka untuk bisa terlibat dan menjadi sesama bagi yang lain.

Hari itu, 4 Oktober 2014, sebagian umat Islam sudah merayakan Idul Adha. Hari itu adalah momentum di mana umat Islam merefleksikan semangat kurban yang diturunkan dari kisah Nabi Ibrahim. Kurban berasal dari kata Qurb, yang berarti dekat. Maka berkurban bisa dimaknai sebagai memberikan yang terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ritual kurban pada akhirnya tidak hanya bermakna bagaimana manusia mendekatkan diri kepada Tuhannya, akan tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan. Semangat hari raya qurban adalah semangat iman yang teguh kepada Allah dan solidaritas kepada manusia. Maka tidak heran jika di kampung-kampung di Yogyakarta dan Jawa Tengah, kita sering menemui daging kurban tidak saja dibagikan kepada para dhuafa, namun juga kepada siapa saja yang menjadi ‘sesama’ di kampung mereka, apapun agamanya, apapun status sosialnya. Ini pula yang mengingatkan Rizky, bahwa beriman itu harus mewujud dalam hidup sehari-hari, yaitu membangun ukhuwah (persaudaraan) dengan sesama manusia.

 

***
Sisca, seorang mahasiswi Pendidikan Fisika. Ia berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Ia adalah anggota lektor (pembaca Sabda Allah pada saat Misa) dari Komunitas Paingan. Di kampus Universitas Sanata Dharma, Sisca dan teman-teman katoliknya memang tidak pernah merasakan kesulitan untuk mengaktualisasikan diri. Bagaimanapun Sanata Dharma adalah perguruan tinggi katolik. Namun justru atas kesadaran itu, Sisca merasa perlu untuk berbuat lebih bagi teman-teman berbeda agama yang juga menuntut ilmu di kampus ini. Ia sangat gembira justru ketika harus berbagi ruang kegiatan Campus Ministry Paingan dengan temanteman FKM Budi Utama yang akan mengadakan kajian-kajian Islam, di saat para lektor melakukan latihan rutin membaca Alkitab.

Sisca dan teman-teman Komunitas Paingan juga-lah yang pada akhirnya mempunyai ide untuk mempertemukan komunitas-komunitas lintas agama di kampus dalam kegiatan yang khas anak muda: kompetisi futsal. Ia sendiri tidak bisa bermain futsal, tapi menurutnya futsal bisa menjadi ajang perjumpaan yang baik bagi mahasiswa lintas iman. Olah raga selalu menjadi sarana keterlibatan dan membangun persahabatan, seperti credo olimpiade “The most important thing is not to win but to take part”. Maka, sejak 2013, setiap selesai masa ujian tengah semester (April dan Oktober), biasanya diadakan lomba-lomba olah raga antar komunitas lintas agama di lapangan Paingan. Dari yang awalnya hanya futsal, kini sudah berkembang di cabang lainnya seperti bola basket dan bola voli. Setelah lomba biasanya mereka menghabiskan waktu sambil ngobrol dan nongkrong di lapangan Paingan. Hadiahnya, selain trophy ada pula makanan ringan, yang sering dinikmati bersama-sama, entah mereka menang entah tidak.

Hari itu Pesta Santo Fransiskus Asisi, dan Sisca seperti umat Katolik lainnya, tergugah untuk merefleksikan semangat dialog yang diperjuangkan oleh sang Santo. Fransiskus Asisi adalah seorang pewarta yang terlibat dialog mendalam tentang iman Kristen-Islam dengan Sultan Malik al-Kamil di tengah terjadinya Perang Salib. Memang, setelah pertemuan itu Perang Salib masih terus berkecamuk. Namun pertemuan antara Santo dan Sultan itu bagai sebuah oase di tengah padang gurun peperangan dan sebuah embrio bagi munculnya dialog Kristen-Islam. Inilah yang menggerakkan Sisca, si lektor, untuk terus
menghidupi harapan tentang dialog dalam keberagaman. Sisca dengan caranya telah mengusahakan dialog dengan teman-teman mahasiswa berbeda agama di kampus ini, meskipun saat ini ia merasa bahwa suara-suara intoleran di luar sana terdengar lebih nyaring daripada suara yang memperjuangkan penghargaan pada dialog dalam keberagaman. Ia sadar betul bahwa Yogyakarta, tempat di mana orang-orang muda menuntut ilmu, tidaklah se-indah dan se-romantis yang sering digambarkan banyak orang. The City of Tolerance sering pula menampilkan wajah-wajah intoleransi. Pembubaran kegiatan agama, penutupan tempat ibadah, penolakan pada kelompok mahasiswa yang berasal dari daerah tertentu, tidak jarang mewarnai kota yang sarat dengan nilai-nilai budaya ini.

Bisa jadi suara-suara intoleran tidak akan pernah benar-benar hilang dari hidup masyarakat, namun bagi Sisca, harapan untuk membangun perjumpaan dan dialog di tengah keberagaman adalah sesuatu yang sangat layak untuk diperjuangkan.

 

***
Kadek adalah seorang mahasiswi Hindu yang berasal dari Kabupaten Buleleng, Bali. Ia sedang belajar Psikologi. Ia juga aktif di Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma, baik di kampus maupun di Yogyakarta. Pada awalnya tidak terfikirkan bahwa ia akan kuliah di universitas katolik. Lewat Google, ia mencari program studi psikologi yang unggul di tanah air. Pilihan jatuh ke Universitas Sanata Dharma. Ia baru menyadari Sanata Dharma adalah universitas Katolik saat ada misa pembukaan tahun akademik. Tahun berlalu dan ia merasa nyaman di kampus ini.

Kadek merasa pilihannya tepat. Ia menemukan tempat mengembangkan diri lewat jalur akademik. Menurutnya, kuliah di Prodi Psikologi Sanata Dharma tidak membosankan karena mahasiswa juga diberi kesempatan untuk belajar dari lingkungan sosial. Ia teringat sebuah mata kuliah di mana para mahasiswa diajak untuk bertemu dengan pasien sebuah rumah sakit jiwa di daerah Pakem. Dari sana ia banyak belajar memahami manusia yang sangat unik, yang memiliki kehendak bebas dan juga harapan-harapan. Yang terkadang kehendak dan harapan itu tidak mewujud menjadi kenyataan yang dapat diterima masyarakat. Ia pernah berbincang cukup mendalam dengan seorang pasien yang bahkan mempunyai pandangan yang mendalam tentang hidup. Ia belajar banyak dari pengalaman pasien di rumah sakit jiwa! Melalui perjumpaan itu, ia memandang para pasien bukan sebagai pesakitan, tetapi sebagai manusa. Di Universitas Sanata Dharma, Kadek merasa bahwa belajar harus nyambung dengan realitas hidup manusia. Ia terkesan betul dengan motto universitas ini: Cerdas dan Humanis!

Hari itu, Kadek ikut berjalan kaki dari Pura Jagatnatha menuju Kapel Bellarminus, setelah merayakan upacara Saraswati. Bagi umat Hindu seperti dirinya, hari itu adalah peringatan turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia. Ilmu pengetahuan adalah dasar manusia untuk bersama mengusahakan kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan meningkatkan keberadaban umat manusia. Ilmu pengetahuan yang memuliakan kemanusiaan inilah yang membuat Kadek tergerak hatinya untuk terus menimba ilmu dan mengabdikannya pada sesama.

***
Angkringan Lintas iman telah mempertemukan ketiga orang muda itu: Rizky, Sisca, dan Kadek. Angkringan, bagi sebagian besar orang Yogyakarta, bukanlah sekedar warung makanan murah. Angkringan adalah juga tempat di mana dialog akan situasi sehari-hari masyarakat terjadi. Angkringan adalah susasana merdeka milik masyarakat untuk mengungkapkan keprihatinannya, tanpa memandang status sosial, tanpa protokoler, tanpa merasa takut untuk dipandang wagu ataupun saru (aneh dan tabu). Mungkin suasana kampus Universitas Sanata Dharma memang lebih mirip dengan angkringan daripada restoran mewah. Kampus ini mungkin memang menyediakan saat dan tempat bagi siapapun untuk saling berbagi pengalaman hidup, tanpa memandang dari mana mereka berasal. Kampus ini pada akhirnya menawarkan kebebasan dan kemerdekaan bagi siapa saja untuk tumbuh dan berkembang dengan segala potensinya.

Perjumpaan hari itu terasa semakin menarik ketika terjadi di kompleks Beringin Soekarno, sebuah taman dengan pohon beringin yang ditanam oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960 sebagai peninggalan bagi IKIP Sanata Dharma kala itu. Beringin adalah simbol pengayoman dan penghidupan bagi siapa saja. Dan hari itu, lima puluh empat tahun setelah pohon beringin ditanam, puluhan mahasiswa Universitas Sanata Dharma ngangkring bersama di Beringin Soekarno, berdialog tentang harapan menjadi Indonesia yang dikaruniai keberagaman.

Hari itu mereka makan dan berbagi pengalaman setelah sama-sama berjalan kaki, berziarah dari Pura Jagatnatha Banguntapan ke Kapel Bellarminus Mrican. Mereka berdoa, semoga setiap langkah perjalanan mereka, menjadi doa dan wujud rasa syukur atas besarnya kasih Tuhan yang menciptakan mereka sebagai saudara, meski saling berbeda. Hari itu mereka bersyukur menjadi orang-orang yang beriman dan berbagi ruang hidup yang sama: di Sanata Dharma, di Indonesia!

Antonius Febri Harsanto
Kepala Campus Ministry

sumber: Buku Hatiku Tertambat Padamu

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/menjadi-sanata-dharma-menjadi-indonesia/feed/ 0
Orang Muda Katolik (OMK) Nyantri di Pondok Pesantren Al Qodir https://unit./cm/orang-muda-katolik-omk-nyantri-di-pondok-pesantren-al-qodir/ https://unit./cm/orang-muda-katolik-omk-nyantri-di-pondok-pesantren-al-qodir/#respond Tue, 25 Apr 2017 14:08:26 +0000 https://unit./cm/?p=1093 lanjut

]]>
Komunitas Paingan (KomPai) sebuah komunitas partner Campus Ministry, pada 23 April 2017 bersama segenap umat di Paroki Santo Petrus dan Paulus Babadan, membawa salib Asian Youth Day (AYD) dari Paroki Babadan menuju Stasi Santo Fransiskus Xaverius Cangkringan setelah sebelumnya salib diarak dari Paroki Santo Petrus dan Paulus Minomartani. Kirab salib ini juga dimeriahkan dengan pentas seni, bazaar, serta donor darah di Stasi Cangkringan. Ada hal yang berbeda dan menarik dalam kirab salib kali ini. Tepat pukul 15.30 WIB salib diarak dari Stasi Cangkringan menuju Pondok Pesantren Al Qodir. Walaupun hujan deras sempat menghambat acara ini, semangat kami tidak berkurang. Tidak kurang dari 50 peserta yang terdiri dari PIA, PIR, serta OMK mengantar salib menuju pondok pesantren dan disambut dengan hangat oleh kurang lebih 50 santri.
Kegiatan kirab salib ke pesantren ini sangat istimewa, sebab pimpinan pesantren sendirilah yang meminta salib AYD untuk dikirab ke pesantren Al Qodir. “Saya dan para santri sangat bangga, sangat bahagia, karena dapat turut serta menyemarakkan kegiatan AYD bersama teman-teman OMK,” ujar bapak Kyai Haji Masrur Ahmad MZ  saat menyampaikan sambutan di depan para peserta. “Kami menerima untuk saling sharing,” imbuhnya. Saat itu juga banyak dari kami yang takjub mendengar pernyataan tersebut, sangat menyejukkan rasanya kami dapat duduk berdampingan dengan sedemikian akrabnya. Lurah pesantren juga mengutarakan, “Para santri di sini ingin belajar hidup berdampingan dengan segala realitas di dunia, juga bagaiman kami dapat berbuat baik dengan sesama sebagai wujud dari ilmu yag selama ini kami pelajari.” Lurah pesantren berharap dari acara ini agar para santri memiliki moral yang baik dan pemikiran yang luas khususnya terkait agama katolik dan kegiatan AYD. Romo Paroki Babadan, Robertus Tri Widodo, Pr dalam kesempatan ini menyampaikan bahwa beliau sangat gembira merasakan persaudaraan diantara para santri dan rombongan dari Paroki Babadan.
Yulius Sanjaya sebagai ketua panitia sedikit mengenalkan ajaran agama katolik dan apa saja yang dilakukan dalam rangkaian kegiatan AYD. Sebelum memaparkan materi, peserta diajak untuk melakukan tepuk beat, permaianan berjalan dengan menyenangkan, semua tertawa dengan riang. “Analoginya seperti permainan barusan, AYD itu kegiatan dimana anak muda katolik di Asia berkumpul untuk bergembira bersama seperti yang kita lakukan saat ini,” ungkap Yulius. Yulius lalu mengenalkan atribut dan simbol-simbol pada bendera yang menyertai salib AYD, para santri mendengarkan dengan penuh perhatian. Sungguh pemandangan yang sangat indah, dimana keberagaman benar-benar dirawat dan perdamaian tumbuh dengan subur. Mengupayakan dialog dalam dan antar komunitas adalah usaha untuk merawat perjumpaan. Inilah sebuah peluang untuk merawat keberagaman.
Setelah sholat maghrib, kegiatan dilanjutkan dengan permainan serta pesan kesan peserta. Para santri merasa sangat tertarik karena mendapatkan banyak wawasan mengenai kegiatan kirab salib ini. OMK juga merasa beruntung karena memiliki kesempatan yang sangat jarang terjadi. “Ini adalah Bhineka Tunggal Ika yang sesungguhnya,” ungkap salah seorang OMK saat menyampaikan kesannya. Pukul 19.30 WIB acara berakhir dengan lancar. Kemudia salib kembali diarak menuju Stasi Cangkringan dan ditutup dengan adorasi di stasi sebelum keesokan harinya pada Senin, 24 April 2017 salib akan kembali dibawa ke Paroki Babadan.

– Margareta Via

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]

 

]]>
https://unit./cm/orang-muda-katolik-omk-nyantri-di-pondok-pesantren-al-qodir/feed/ 0