Integrity Days – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm Unit Pelayanan Pastoral dan Pengembangan Kerohanian Kampus Tue, 18 Jun 2019 02:59:18 +0700 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.2 https://unit./cm/wp-content/uploads/2019/01/cropped-icon-32x32.jpg Integrity Days – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm 32 32 Cepak-Cepak Kaki https://unit./cm/cepak-cepak-kaki/ https://unit./cm/cepak-cepak-kaki/#respond Mon, 04 Jul 2016 06:34:15 +0000 https://unit./cm/?p=919 lanjut

]]>
Cepak-cepak kaki. Kakinya mo pindahan po yo? Hehehe.. Iya, kakinya mau pindahan dari kos ke kampus. Kalau lihat gambar di atas, temen-temen pasti mikirnya macem-macem. Ada yang langsung bilang nggak mungkin (biasanya yang bilang gini anak-anak yang kosnya jauuuh dari kampus, tapi ada juga yang kosnya deket ngomong kayak gitu :p). Ada yang penasaran juga. Nah, daripada penasaran, mari kujelaskan.
“1 Hari dalam 1 Minggu Berjalan Kaki Kost-Kampus” merupakan gerakan yang diusung panitia Integrity Days Campus Ministry Universitas Sanata Dharma. Gerakan ini bermula dari keprihatinan terhadap tempat parkir kampus yang overload motor. Di kampus Mrican sendiri, kalau parkiran sudah penuh, akan muncul tulisan ‘Parkiran Penuh’ di pintu masuk dan pintunya ditutup. Motor-motor yang tidak kebagian tempat parkir pun dialihkan ke parkiran di pinggir lapangan realino. Kan nggak asik banget. Teman-teman lain yang mau menggunakan fasilitas di sekitar lapangan menjadi terganggu, misalnya aja yang jogging mau nggak mau harus mengembangkan keahlian ber-matriks alias menghindari halangan di depan secara terampil.
Kenapa parkiran penuh? Salah satu penyebabnya adalah ada teman-teman yang ngekos dan kosnya tuh nggak jauh-jauh amat dari kampus memilih untuk menggunakan motor sebagai alat transportasi ke kampus. Padahal seharusnya bisa jalan kaki, lho.. 🙂 Bonusnya kita jadi tambah sehat dan bisa ikutan menghambat global warming — katanya global waming sudah pada tahap tidak bisa dikembalikan 🙁
Gerakan ini sudah dimulai tanggal 13 Maret 2014. Panitia membagikan stiker ke mahasiswa-mahasiswa di kampus Mrican dan Paingan. Teman-teman mahasiswa boleh foto-foto dengan menampilkan stiker tersebut dan mengunggah fotonya ke facebook Integrity Days atau mention ke @IntegrityDays. Untuk selanjutnya, teman-teman bisa memilih hari sendiri untuk berjalan kaki. Nggak mesti seminggu sekali sih ya, lebih dari sekali boleh. Setiap hari boleh bangeeett.. Nggak mesti dari kos, dari rumah sendiri boleh, dari rumah tante boleh, dari rumah simbah boleh bangeeett..
Harapannya melalui gerakan ini:
  1. Parkiran nggak overload lagi
  2. Fasilitas kampus (lapangan realino dan sekitarnya) bisa berfungsi sebagaimana mestinya
  3. Mahasiswa di seluruh Indonesia ikutan jalan kaki ke kampus 🙂
TENTUKAN HARIMU, MARI BERJALAN KAKI.
(Maria Audrey)

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/cepak-cepak-kaki/feed/ 0
Solidaritas Nge-click https://unit./cm/873/ https://unit./cm/873/#respond Mon, 30 May 2016 01:56:29 +0000 https://unit./cm/?p=873 lanjut

]]>
Solidaritas Nge-click

Oleh: Cristoporus Dika Adiatma (Juara I Lomba Esai Integrity Days 2016)

 

Era informasi di dunia sekarang ini ditandai dengan perkembangan internet yang memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Berdasarkan data pada tahun 2015, jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat hingga 88 juta pengguna[1]. Di dunia, penguna internet bahkan mencapai 3 miliar[2]. Internet memang memudahkan penggunanya untuk memperoleh informasi atau membagikan informasi kepada dunia. Peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain dapat diketahui secara cepat oleh manusia di tempat lainnya. Bahkan pada masa sekarang ini, pengguna internet dapat mewujudnyatakan rasa solidaritasnya terhadap suatu permasalahan atau informasi melalui suatu web tertentu. Hal ini tentu saja menjadi fenomena yang menarik untuk didalami.

Beberapa pertanyaan berikut dapat membantu pendalaman fenomena ini, yakni: bagaimana era informasi digital mengubah cara bersolidaritas?; Apa makna solidaritas sesungguhnya dan bagaimana sejarah perkembangannya?; Bagaimana dunia informasi dapat mendukung dan mengembangkan solidaritas? Ketiga pertanyaan tersebut hendak dijawab dalam tulisan ini.

  1. Fenomena Solidaritas Nge-click

Situs change.org adalah wadah petisi terbesar di dunia memperkuat siapa saja dan di mana saja untuk menciptakan perubahan yang ingin mereka lihat[3]. Bagi mereka yang menghendaki adanya perubahan terhadap suatu fenomena tertentu, mereka harus membuat suatu petisi mengenai perubahan itu, menentukan target jumlah dukungan yang diinginkan, lalu menyebarkannya untuk mendapatkan tanda tangan tanda dukungan dari netizen lainnya. Bila petisi tersebut mencapai targetnya, maka petisi itu dapat diajukan kepada pihak terkait dan perubahan akan terjadi karena petisi ini mewakili suara dari banyak orang dan sangat besar peluang untuk keberhasilan akan adanya perubahan.

Pada tahun 2014, Beberapa petisi berhasil membuat perubahan, seperti petisi Save Aru yang menuntut dihentikannya pembabatan hutan massal di wilayah kepulauan Aru. Petisi ini berhasil membatalkan izin perkebunan tersebut dan menyelamatkan 500.000 hektar hutan beserta satwa-satwa endemik di dalamnya. Petisi lain adalah petisi Blusukan Asap yang menuntut agar Presiden Joko Widodo untuk mengunjungi Desa Sungai Tohor dan mulai mencari solusi untuk menyelesaikan masalah bencana asap gambut di Riau. Hasilnya, Bapak presiden melakukan kunjungan tersebut.

Semenjak diluncurkan pada tahun 2007 oleh Ben Rattray, change.org telah menjadi situs yang memberikan sarana untuk mengadakan perubahan dengan mengumpulkan dukungan sosial. Situs ini menjadi populer di Indonesia setelah peristiwa pemilihan umum pada tahun 2014. Situs ini memberikan cara baru bagi masyarakat di masa sekarang ini untuk menunjukkan solidaritas atau dukungan. Pengguna internet hanya perlu masuk ke dalam situs change.org, memilih dan membaca petisi-petisi yang ada, dan menge-click kotak tanda tangani petisi ini sebagai wujud solidaritas mereka. Mudah bukan.

Beberapa teman seringkali menunjukkan dengan bangga bahwa dia sudah mendukung suatu petisi dan merasa bahwa dirinya sudah bersolidaritas. Beberapa juga membagikannya di media sosial bahwa dirinya sudah mendukung petisi tertentu, memberi komentar, dan berperan dalam suatu perubahan sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa ada suatu bentuk solidaritas baru dengan tindakan meng-click.

Beberapa hal baik yang dapat ditemukan dari fenomena ini adalah ajakan untuk melakukan suatu perubahan senantiasa digemakan. Fenomena ini mendorong banyak orang untuk memiliki keresahan dan membuat perubahan di tengah kehidupan sekarang ini. Pengguna internet diajak untuk berani bersikap kritis terhadap realitas sosial di sekitar mereka. Selain itu, adanya petisi juga menggugah banyak pengguna internet untuk memperoleh informasi dan mencari kebenaran terkait petisi tersebut sebelum akhirnya mendukungnya. Namun, apakah dengan tindakan meng-click suatu solidaritas itu sungguh-sungguh diwujudnyatakan sehingga solidaritas itu adalah menekan tombol kiri mouse?

  1. Memahami Solidaritas

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, solidaritas berarti sifat (perasaan) solider; sifat satu rasa (senasib dan sebagainya). Sedangkan kata solider sendiri merupakan bersifat mempunyai atau memperlihatkan perasaan bersatu (senasib, sehina, semalu, dan sebagainya)[4]. Adapun berdasarkan etimologinya, solidaritas berasa dari kata Prancis, solidaire dan solidarite[5] yang berarti kesatuan dan persetujuan akan suatu perasaan atau tindakan tertentu, terlebih dalam suatu kelompok individu dengan kesamaan tertentu. Dengan demikian, solidaritas dapat didefinisikan suatu perasaan atau tindakan yang menunjukkan kesatuan dengan perasaan atau tindakan lainnya karena adanya kesamaan tertentu (tujuan, pengalaman).

Di dalam sejarah, kata solidaritas menjadi sering digunakan sejak tumbangnya komunisme di Eropa (1989). Peristiwa ini tidak dipelopori oleh perjuangan sekelompok orang yang memiliki semangat solidaritas dengan nama Solidarnosc. Kelompok ini merupakan kelompok masyarakat perkeja di Polandia yang mulai melawan rezim komunisme di negara tersebut. Kelompok ini dipimpin oleh Lech Walesa.

Awal mulanya adalah tindakan pemogokan di pabrik-pabrik sejak awal 1980-an.  Kemudian, dibentuklah kelompok bawah tanah bernama Solidarnosc yang menuntut perbaikan taraf hidup, pengaturan sistem pemerintahan, dan akses kepada media[6]. Gerakan ini merupakan gerakan tanpa kekerasan yang mengajak semua pekerja untuk bergabung dan berjuang bersama. Semakin lama, gerakan ini memiliki pendukung yang semakin banyak dan menyebabkan efek yang semakin besar pula bila mereka melakukan pemogokan dan demonstrasi. Akibatnya, pemerintah mengadakan pembicaraan serius dengan kelompok Solidarnosc ini dan sepakat untuk mengadakan konferensi meja bundar untuk merencanakan arah dan tindakan dalam mengatur negara.

Konferensi yang berlangsung hingga dua bulan ini membahas isu-isu yang merupakan tuntutan dari kelompok Solidarnosc. Akhirnya, pada 4 April ditandatangani perjanjian Meja Bundar. Kemudian, pada 4 Juni diadakan pemilu yang dimenangi oleh partai Solidarnosc secara mutlak sehingga Lech Walesa diangkat menjadi presiden. Sejak itu, rezim komunisme di Polandia berakhir dan berita ini menjadi inspirasi bagi penduduk di negara-negara komunis lainnya untuk melawan rezim komunisme dengan solidaritas.

Di Indonesia sendiri pernah terjadi dukungan solidaritas yang menyebabkan perubahan bagi seseorang. Pada tahun 1968, pengacara terkenal, Yap Thiem Hien membela seorang kliennya. Dalam persidangan Yap, justru membeberkan bahwa kliennya diperas oleh Jaksa Simandjutak dan Deputi Panglima Polisi Jakarta, Inspektur Jendral Mardjaman[7]. Akhirnya Yap justru di jerat pasal fitnah dan mencemarkan nama baik. Ia divonis penjara setahun.

Dukungan mengalir dari berbagai pihak, dan banyak tulisan di media massa yang justru membela integritas advokat senior ini. Dukungan ini menjadi kekuatan tersendiri bagi kasus yang dihadapi oleh Yap. Hiruk pikuk suara masyarakat menentang kesewang-wenangan pemerintah akhirnya berpengaruh dalam proses banding. Pengadilan tinggi menurunkan hukumannya menjadi 14 hari. Pada akhirnya, Yap pun dibebaskan dan dinilai tidak bersalah karena tindakannya itu dinilai sesuai dengan fungsinya sebagai pembela.

Dari definisi dan sejarah solidaritas, dapat ditemukan beberapa kriteria dari solidaritas yang sekiranya dapat dijadikan pedoman untuk menilai wujud tindakan solidaritas. Ada tiga hal penting dalam solidaritas. Pertama, solidaritas diawali oleh interaksi dengan yang lain (baik manusia, situasi sosial ataupun lingkungan alam). Interaksi ini menghasilkan rasa kesamaan (senasib, seperasaan, sependeritaan). Kedua, solidaritas terjadi karena adanya keprihatinan atau mengikuti keprihatinan yang sama. Sejarah menunjukkan bahwa keprihatinan akan komunisme menyebabkan banyak warga melakukan tindakan yang sama dan berjuang bersama-sama. Ketiga, solidaritas menghasilkan suatu aksi yang membawa pada perubahan kehidupan menjadi lebih baik.

Kriteria solidaritas ini dapat membantu kita dalam memberi penilaian apakah solidaritas meng-click sudah tepat dimaknai sebagai suatu wujud solidaritas? Bila melihat kriteria yang diperoleh dari definisi dan sejarah solidaritas, dapat ditemukan bahwa solidaritas meng-click itu diawali oleh interaksi dengan realitas dalam bentuk cerita yang disampaikan melalui isi dari petisi. Informasi dari petisi ini membawa kepada suatu keprihatinan tertentu akan fakta yang ada di dunia ini dan menyebabkan adanya kesamaan dalam keprihatinan sehingga membuat pengguna internet tergerak untuk mendukung petisi. Akhirnya, satu tindakan nyata adalah dengan meng-click kotak tanda tangani petisi ini. Dengan demikian, solidaritas meng-click juga sudah merupakan suatu tindakan nyata dari solidaritas. Namun, apakah cukup hanya sampai di situ saja? Rasanya,tidak. Solidaritas ini masih bisa kita lampaui.

  1. Melampaui Solidaritas Meng-click

Paling tidak ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk melampaui solidaritas meng-click ini. Terlebih dahulu, semangat yang perlu dibangun adalah semangat lebih atau magis sehingga para pengguna internet tidak mudah berpuas diri dengan apa yang telah dilakukannya terlebih apabila dirinya telah mewujudkan solidaritas dengan menandatangani suatu petisi. Untuk itu, tiga hal ini baik untuk dilakukan.

  1. Berusaha membuat petisi bukan hanya mendukung petisi yang ada

Tujuan dari adanya change.org adalah untuk membantu orang dalam membuat perubahan. Semua yang menjadi anggota atau bagian dari situs tersebut memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan dengan membuat petisi. Oleh karena itu, memberikan dukungan petisi yang sudah ada itu tentu saja sudah merupakan hal yang baik, namun ada baiknya bila mulai mencoba untuk membuat petisi anda sendiri demi terwujudnya suatu perubahan sosial. Hal ini haruslah dimulai dengan pengamatan terhadap realitas di sekitar kita dan bersikap kritis atas apa yang sedang terjadi di masyarakat. Lalu, bayangkan hal lebih baik apa yang sekiranya bisa terjadi. Itulah perubahan yang anda inginkan dan bisa menjadi suatu petisi sendiri.

Di era informasi digital ini, kita dimudahkan dengan kecepatan informasi sehingga kita bisa mendapat berbagai pandangan baru yang sekiranya menjawab realitas sosial yang sedang kita hadapi atau usahakan untuk berubah. Oleh karena itu, membuat petisi untuk mengadakan perubahan bukanlah hal yang tidak mungkin, kita sudah memiliki beranekaragam sumber informasi dan data dari internet. Yang kita perlukan adalah kepekaan akan suatu masalah dan sikap kritis untuk mendalami masalah sosial tersebut.

2. Bertanggung jawab terhadap orang lain

Konsep solidaritas senantiasa terkait dengan relasi antar manusia. Bagaimana manusia sebagai makhluk sosial berinteraksi dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, untuk dapat semakin memperdalam pemahaman akan solidaritas konsep relasi antar manusia dari Emanuel Levinas sekiranya baik untuk dibahas.

Emanuel Levinas (1906-1995) adalah seorang filsuf yang merefleksikan pengalaman kelamnya selama perang dunia II. Bagi Levinas, konsep antroposentrisme, yang melihat diri manusia sebagai penguasa segalanya menyebabkan terjadinya banyak musibah di dunia ini. Konsep ini mengakibatkan manusia berusaha untuk menguasai satu dengan yang lainnya dan saling mengalahkan demi kepuasan dirinya sendiri (egologi). Hal ini menyebabkan manusia senantiasa melihat yang lain sebagai objek untuk dikuasai. Yang lain merupakan bagian dari diriku sehingga aku dapat menguasainya. Konsep-konsep inilah yang menyebabkan terjadinya perang dunia II dan pemusnahan massal.

Levinas berusaha untuk merumuskan suatu konsep agar tidak terjadi lagi bencana kemanusiaan seperti yang dialaminya tersebut. Beliau merumuskan Epifani wajah atau penampakan wajah yang merupakan peristiwa ketika manusia melihat wajah manusia lainnya yang menyebabkan dirinya merasa bertanggungjawab terhadap manusia lain itu. Hal ini berarti manusia senantiasa memiliki keterikatan dan tanggung jawab terhadap manusia lainnya dan tidak diperkenankan untuk memperdayai atau memanfaatkan manusia lain tersebut.

Levinas ingin menunjukan bahwa secara fenomemologis pada saat berhadapan dengan sesama kita langsung menyadari diri dipanggil olehnya untuk bertanggung jawab atas keselamatannya[8]. “Wajah” yang dimaksud bukan sekedar bagian dari organ tubuh manusia yang terletak di bagian depan kepala. Yang dimaksud dengan Levinas dengan istilah ini adalah situasi dimana ada orang yang muncul di depan kita. Ia hadir sebagai orang tertentu melalui wajahnya.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dalam wajah itu, orang lain tampak sebagai orang tertentu, orang lain yang bukan bagian dari diri saya. Konsekuensinya adalah bahwa wajah sebagai wajah tidak dapat dikuasai, dipegang atau diperbudak. Kedua, dalam wajah itu orang berada sama sekali di luar kita. Ketika seoseorang berhadapan dengan orang lain, ia menjadi tidak bebas lagi, tidak bisa bersikap apatis tetapi ia harus bertanggung jawab atasnya. Tanggung jawab itu bersifat total. Bebannya menjadi beban saya, tanggung jawabnya menjadi tanggung jawab saya.

Pada masa informasi digital ini, wajah yang berjumpa dengan kita tersebut dapat diperluas menjadi berbagai informasi yang membawa kita pada keinginan untuk solider dengan mereka yang lemah. Solidaritas memang diwujudkan dengan suatu tindakan yang mendukung atau membantu untuk terjadinya perubahan sosial, tetapi dibalik tindakan tersebut ada rasa tanggung jawab terhadap realitas lain yang diperoleh melalui perjumpaan dengan realitas. Oleh karena itu, solidaritas meng-click membawa kita pada rasa tanggung jawab itu dengan membaca informasi lalu merasakan empati dengan manusia atau realitas lainnya, hingga akhirnya ada aksi untuk bersolidaritas dengan mereka. Hanya saja, semua tindakan dan aksi yang sederhana ini perlu didasari oleh rasa tanggung jawab terhadap manusia atau realitas lainnya. Bila tidak ada rasa tanggung jawab itu, solidaritas meng-click hanya menjadi pemenuhan diri saja yakni tindakan yang hanya berpusat pada diri sendiri saja.

3. Perbaikan dan pengembangan diri

Solidaritas senantiasa memerlukan aksi nyata demi terwujudnya perubahan sosial seperti yang diharapkan. Aksi nyata itu bisa dilakukan secara langsung oleh diri sendiri atau dengan mendukung tindakan dari orang lain. Akan tetapi, bila tidak bisa melakukan aksi nyata paling tidak ada hal lain yang bisa dilakukan sebagai tindakan solidaritas, yakni memperbaiki dan mengembangkan diri. Ya, mulailah dari diri sendiri.

Belum lama ini terjadi beberapa kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh sekelompok orang kepada seorang wanita hingga korbannya meninggal dunia. Tentu saja, membaca berita kasus ini akan membuat kita prihatin akan apa yang terjadi dan tergerak untuk melakukan sesuatu bagi para korbannya. Namun, apa yang bisa kita lakukan? Mungkin, hanya bisa mendukung petisi mengenai hukuman bagi pelaku kekerasan seksual di change.org.

Kita sulit untuk bersolidaritas dengan para korban karena jarak yang jauh atau faktor ketidakmampuan untuk mewujudkan solidaritas itu. Namun, sebenarnya, kita bisa untuk memulai suatu solidaritas sederhana dengan belajar dari peristiwa tersebut dan menentukan suatu perubahan dalam hidup sendiri sebagai bentuk dukungan dan solidaritas atas peristiwa tersebut. Sebagai contoh, bisa saja, kita memikirkan bahwa peristiwa tersebut terlalu sadis dan para pelakunya tidak lagi memandang korban sebagai manusia. Dari sini, kita dapat mengetahui kesalahan para pelaku yang membiarkan nafsu menguasai pikiran mereka dan membuat mereka tidak lagi memandang korbannya sebagai manusia. Dari peristiwa ini, kita bisa belajar pentingnya mengahargai sesama sebagai manusia dan bukan hanya sebagai benda. Makna dan pelajaran yang didapat dari peristiwa inilah yang membantu kita untuk mengubah diri kita.

Perubahan dalam kehidupan pribadi ini akan melatih kita untuk peka terhadap apa yang terjadi di sekitar kita dan akhirnya, memberikan dampak perubahan sosial menuju kehidupan lebih baik. Perbaikan diri ini dimaksudkan bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi agar kita dapat menghargai dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap manusia lain.  Dengan demikian, kita pun menunjukkan solidaritas kita terhadap mereka yang mengalami kesulitan dan merasakan penderitaan.

  1. Penutup

Memasuki era perkembangan informasi digital, manusia dihadapkan dnegan beranekaragam bentuk perubahan yang dialaminya dalam hidup sehari-hari, termasuk dalam tindakan solidaritasnya. Fenomena solidaritas meng-click sebagai tindakan solidaritas yang sederhana tetapi memiliki kekuatan untuk membuat perubahan, merupakan suatu perkembangan bentuk dari solidaritas. Namun, perkembangan ini dapat menjadi keliru dan hanya berpusat pada diri saja apabila, para pengguna internet tidak mengembangkan sikap kritis terhadap situasi sekitar, rasa bertanggungjawab, dan melakukan perubahan bagi dirinya sendiri. Dengan demikian, era informasi ini, mendukung manusia untuk lebih solider kepada sesama dan realitas di sekitarnya dengan berbagai hal penting yang perlu diperhatikan.

 

Daftar Pustaka                                       

“Arti Kata Solidaritas – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online.” diakses pada 19 Mei 2016. http://kbbi.web.id/solidaritas.

Critchley, Simon, and Robert Bernasconi. The Cambridge Companion to Levinas. Cambridge University Press, 2002.

“Global Statshot: August 2015.” We Are Social Singapore. diakses pada 18 Mei 2016. http://wearesocial.com/sg/special-reports/global-statshot-august-2015.

Infographics, House of. “Infografis Change.org Di Tahun 2014.” House of Infographics, December 30, 2014. http://houseofinfographics.com/infografis-change-org-2014/.

Media, Kompas Cyber. “20 Tahun ‘Solidarnosc’ – Kompas.com.” diakses pada 19 Mei 2016. http://female.kompas.com/read/2009/02/06/0404254/20.tahun.solidarnosc.

“Online Etymology Dictionary.” Diakses pada 19 Mei 2016. http://www.etymonline.com/index.php?term=solidarity.

“Pengguna Internet Indonesia Tembus 88 Juta – Kompas.com.” Diakses pada 18 Mei 2016. http://tekno.kompas.com/read/2015/03/26/14053597/Pengguna.Internet.Indonesia.Tembus.88.Juta.

“Solidarnosc | Iman Brotoseno.” diakses pada 19 Mei 2016. http://blog.imanbrotoseno.com/solidarnosc/.

[1] “Pengguna Internet Indonesia Tembus 88 Juta – Kompas.com,” diakses pada 18 Mei 2016, http://tekno.kompas.com/read/2015/03/26/14053597/Pengguna.Internet.Indonesia.Tembus.88.Juta.

[2] “Global Statshot: August 2015,” We Are Social Singapore, diakses pada 18 Mei 2016, http://wearesocial.com/sg/special-reports/global-statshot-august-2015.

[3] House of Infographics, “Infografis Change.org Di Tahun 2014,” House of Infographics, December 30, 2014, http://houseofinfographics.com/infografis-change-org-2014/ diakses pada 18 Mei 2016.

[4] “Arti Kata Solidaritas – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online,” diakses pada 19 Mei 2016, http://kbbi.web.id/solidaritas.

[5] “Online Etymology Dictionary,” diakses pada 19 Mei 2016, http://www.etymonline.com/index.php?term=solidarity.

[6] Kompas Cyber Media, “20 Tahun ‘Solidarnosc’ – Kompas.com,” diakses pada 19 Mei 2016, http://female.kompas.com/read/2009/02/06/0404254/20.tahun.solidarnosc.

[7] “Solidarnosc | Iman Brotoseno,” diakses pada 19 Mei 2016, http://blog.imanbrotoseno.com/solidarnosc/.

[8] Simon Critchley and Robert Bernasconi, The Cambridge Companion to Levinas (Cambridge University Press, 2002), hlm. 66-68.

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/873/feed/ 0
Pemenang Lomba Esai Integrity Days 2016 “Solidaritas di Era Informasi” https://unit./cm/pemenang-lomba-esai-integrity-days-2016-solidaritas-di-era-informasi/ https://unit./cm/pemenang-lomba-esai-integrity-days-2016-solidaritas-di-era-informasi/#comments Fri, 27 May 2016 08:04:58 +0000 https://unit./cm/?p=870 lanjut

]]>
Lomba Esai Integrity Days 2016

“Solidaritas di Era Informasi”

Setelah dilakukan penilaian atas 23 (dua puluh tiga) esai dalam rangka Integrity days 2016 yang bertemakan “Solidaritas di Era Informasi”. Dewan juri menyatakan dan memutuskan bahwa 2 (dua) esai berikut ini berhak menjadi juara.

No. Judul Penulis Nilai Sebagai
1. Solidaritas Nge-Click Cristoporus Dika Adiatma 160 Juara I
2. Solidaritas dalam Kentongan dan Facebook Agustinus Kartono 145 Juara II

Keputusan Dewan Juri ini bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.

Ditetapkan di Yogyakarta pada hari Jumat, tanggal 27 Mei 2016.

Selamat bagi para pemenang dan terima kasih kepada para peserta yang sudah turut memeriahkan lomba.

Campus Ministry USD

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/pemenang-lomba-esai-integrity-days-2016-solidaritas-di-era-informasi/feed/ 2
Lomba Esai Integrity Days 2016 “Solidaritas di Era Informasi” https://unit./cm/lomba-esai-integrity-days-2016-solidaritas-di-era-informasi/ https://unit./cm/lomba-esai-integrity-days-2016-solidaritas-di-era-informasi/#respond Mon, 09 May 2016 11:10:54 +0000 https://unit./cm/?p=854 lanjut

]]>
Dalam rangka momentum hari Pendidikan Nasional dan hari Kebangkitan Nasional, Campus Ministry mengadakan kegiatan Integrity Days 2016, kegiatan tahunan CM ini akan dimeriahkan dengan lomba esai bertemakan “Solidaritas di Era Informasi”.

Bagi peserta yang ingin mengikuti lomba esai, silahkan mengunduh formulir pendaftaran pada tautan berikut ini

Informasi lebih lanjut dapat dibaca pada poster dibawah ini

lomba esai

terima kasih dan selamat berlomba 🙂

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/lomba-esai-integrity-days-2016-solidaritas-di-era-informasi/feed/ 0
Integrity Days 2015 : Bersepeda Merawat Kehidupan https://unit./cm/integrity-days-2015-bersepeda-merawat-kehidupan/ https://unit./cm/integrity-days-2015-bersepeda-merawat-kehidupan/#comments Wed, 01 Jul 2015 21:02:12 +0000 https://unit./cm/?p=632 lanjut

]]>
Semangat #BikeForLife dalam upayanya merawat kehidupan agaknya telah mengilhami tujuh orang mahasiswa Universitas Sanata Dharma untuk menyebarkan dan menggalakkannya kepada masyarakat yang lebih luas. Adalah Angga Dwi Putra, mahasiswa Fakultas Psikologi USD, bersama keenam temannya; Matias Rio Meilano, Gregorius Dwi, Fransiskus Muliadi, Andreas Corsini Miguel Takimai, Andi Septianto, dan Yosephus Wahyu, yang sangat bersemangat dalam mengkampanyekan pentingnya menjaga kelestarian kehidupan hutan bakau (mangroves) dan kepedulian terhadap penyandang autism.

Kegiatan kampanye yang dibungkus dengan aksi bersepeda dari Yogyakarta menuju Bali dimulai pada hari Selasa, 30 Juni 2015. Ketujuh orang mahasiwa USD ini, dengan semangat #BikeForAutismMangroves ‘Orang Muda Sebagai Pelopor Perubahan untuk Semakin Cerdas Dan Humanis’ berangkat dari pelataran kampus II USD.

Angga Dwi Putra, yang juga adalah koordinator aksi #BikeForAutismMangroves ini menjelaskan latar belakang kegiatan ini. “Kami menyadari bahwa masyarakat perlu mengenal Autism secara lebih mendalam lagi. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat secara luas dapat menerima individu yang mengidap Autism tersebut, jika hal itu sudah terlaksana harapan kami adalah tidak adanya diskriminasi dan tanggapan negatif dari masyarakat luas kepada mereka” begitu ungkapnya. “Mereka –individu dengan Autism, adalah karya Allah yang diciptakan dengan cara yang istimewa” imbuhnya.

Semangat merawat kehidupan yang juga merupakan slogan kegiatan tahunan Campus Ministry, Intergrity Days, juga coba mereka kampanyekan kembali dalam bentuk pelestarian hutan bakau (mangroves). Mangroves yang hidup di pantai berfungsi sebagai sabuk pengaman daratan dari abrasi gelombang laut. Lebih dari itu, mangroves, juga menjadi tempat hidup ikan-ikan kecil, burung-burung laut, dan beragam vegetasi lainnya.

Dewasa ini, dimana rasa kepedulian masyarakat luas terhadap kelestarian hutan bakau (mangroves) yang mulai menurun telah mengusik rasa keprihatihan ketujuh mahasiswa USD ini. “Itulah mengapa menjadi penting bagi kami untuk bisa mengajak masyarakat luas untuk kembali peduli terhadap kelestarian hutan bakau. Selain soal Autism, kami juga akan mengkampanyekan soal Mangroves ini di sepanjang pesisir pantai yang menjadi jalur kami. Dan Bali dipilih sebagai tujuan akhir kampanye ini karena di pulau itu, selain tempat wisata, ternyata adalah tempat penghasil sampah dan limbah. Banyak di antaranya yang dibuang dan mencemari laut di sana, dan itu akan berpengaruh buruk terhadap ekosistem jika tidak diolah secara benar.“

Romo Patrisius Mutiara Andalas, S.J., S.S., S.T.D., wakil rektor III USD dalam sambutannya melepas ketujuh orang muda pelopor perubahan ini mengatakan, “lewat mereka, para orang muda pelopor perubahan, Universitas Sanata Dharma ingin memberikan kontribusi dalam membawa pesan kemanusiaan dan ekologi yang lebih ramah kepada masyarakat luas. Perubahan dimulai dan menjadi lebih baik bila diawali dari hal-hal yang kecil. Dan hal-hal kecil itu, jika dilandasi dengan rasa cinta kasih akan membawa perubahan yang besar.”

Rombongan #BikeForAutismMangroves ini akan menempuh jarak kurang lebih 700 km menuju Bali dengan singgah di beberapa titik sebelumnya seperti Palur Karanganyar, Madiun, Jombang, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi, Tabanan, dan berakhir di Denpasar. Di setiap titik pemberhentian ini lah, rombongan akan melakukan kampanye mengenai Autism dan Mangroves. Rombongan direncanakan akan tiba di Bali pada hari Sabtu, 11 Juli 2015.

Bersemangatlah dalam upaya merawat kehidupan ini, teman!

(Wahyu Nur Cahyo)

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/integrity-days-2015-bersepeda-merawat-kehidupan/feed/ 5
Integrity Days 2015: Menumbuhkan Spiritualitas, Menjadi Pembela Kehidupan https://unit./cm/integrity-days-2015-menumbuhkan-spiritualitas-menjadi-pembela-kehidupan/ https://unit./cm/integrity-days-2015-menumbuhkan-spiritualitas-menjadi-pembela-kehidupan/#respond Mon, 11 May 2015 19:46:00 +0000 https://unit./cm/?p=565 lanjut

]]>
“Semua orang setara di hadapan spiritualitas pembela kehidupan” begitu yang diucapkan Wedhowerti, S.Pd., M.Hum. yang malam itu bertindak sebagai moderator diskusi di Integrity Days 2015. Integrity Days sendiri adalah agenda rutin tahunan Campus Ministry Universitas Sanata Dharma. Di tahun ini, tema yang diangkat mengenai Spiritualitas Pembela Kehidupan. Tema ini dimaksudkan agar kita sebagai manusia mempunyai rasa kepedulian terhadap kehidupan tanpa mengkerdilkan artinya.

ID2015_2

Bersama Ayu Utami, seorang penulis dan critical-spiritualist, dan Romo Patrisius Mutiara Andalas, S.J., S.S., S.T.D. yang juga menjabat sebagai wakil rektor III USD diskusi dimulai dengan cerita Ayu Utami. Mbak Ayu, begitu dia disapa, menjelaskan bahwa pengalaman manusia dalam menghadapi suatu masalah sangat sulit untuk bisa disamakan. Oleh karena itu, sering kali manusia mengeliminasi lapisan-lapisan suatu masalah hingga menjadi sangat tipis. Dan yang tersisa adalah sebuah pertanyaan boleh atau tidak sesuatu itu dilakukan.

Boleh atau tidaknya sesuatu dilakukan ini identik dengan perintah dan larangan yang ada di dalam agama. Kebanyakan orang beranggapan bahwa orang yang memiliki spiritualitas yang tinggi adalah orang yang mampu menjalankan perintah dan larangan agama yang didapatnya dari kitab suci.

Padahal sejatinya tidak selalu seperti itu. Bahwa spiritual itu dimaknai sebagai sesuatu yang tumbuh dari dalam diri seseorang dan agama adalah sesuatu yang berasal dari luar diri seseorang yang bertugas untuk menertibkan dan mengarahkannya.

Sebuah kritikan mengenai makna spritualitas juga ditulis Ayu Utami dalam bukunya Bilangan Fu yang dibacakan Romo Andalas pada diskusi yang berlangsung di Pendopo PGSD USD, Jumat 08 Mei 2015. “Ilmu agama dan ilmu pasti ada dalam satu paket pelajaran asing. Hasilnya adalah sebuah teleskop yang bisa melihat bintang tapi tidak bisa melihat kanan dan kirinya sendiri. Ia lupa bahwa bintang itu akan selalu menjadi misteri dalam hidupnya di dunia. Tapi ia juga telah kehilangan kemampuan melihat jarak dan prespektif yang lebih dekat. Ia mengukur hal yang metaforis secara matematis, yang spriritual secara rasional”

Romo Andalas menambahkan bahwa sebagai manusia kita acap kali terjebak pada hal-hal yang bersifat Urgent dan bukan pada hal yang bersifat Essential. Maka dari itu perlu adanya pendekatan antara hal yang spiritual dan hal kemanusiaan. Bahwa orang yang ingin meningkatkan spiritualnya maka orang itu perlu mendekatkan diri kepada tragedi-tragedi kemanusiaan. Tragedi-tragedi kemanusiaan yang dimaksud misalnya tentang hukuman mati, aborsi, pelacuran, poligami, dll.

“Tragedi kemanusiaan itu janganlah dianggap sebagai sesuatu yang sesuai dengan hukum maupun moral. Bahkan sebuah hukum  positif sendiri pun belum tentu tragedi-tragedi itu sesuai dengan moral. Maka dari itu kita sebagai manusia haruslah berani menjadi seorang pembela kehidupan”, imbuh Ayu Utami menggenapi pernyataan dari Romo Andalas.

Di Indonesia moral selalu berjalan beriringan dengan agama. Tanpa adanya relevansi dengan tragedi kemanusiaan, agama hanya akan dipahami sebagai serangkaian pembolehan atau pelarangan. Jadi, adalah penting bagi diri kita untuk mempunyai spiritualitas yang tinggi. Spiritualitas dimaknai ketika kita tidak terhenti pada sesuatu yang bersifat material, sesuatu yang terukur dengan kata “boleh” atau “tidak”.

Dan sudahkah kita siap membela Kehidupan dengan spiritualitas yang kita punya?

(Wahyu Nur Cahyo/CM)

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/integrity-days-2015-menumbuhkan-spiritualitas-menjadi-pembela-kehidupan/feed/ 0