ignasian – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm Unit Pelayanan Pastoral dan Pengembangan Kerohanian Kampus Wed, 19 Jun 2019 05:39:27 +0700 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.2 https://unit./cm/wp-content/uploads/2019/01/cropped-icon-32x32.jpg ignasian – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm 32 32 Apa itu Jalan Salib Ignasian? https://unit./cm/apa-itu-jalan-salib-ignasian/ https://unit./cm/apa-itu-jalan-salib-ignasian/#respond Mon, 11 Mar 2019 02:32:20 +0000 https://unit./cm/?p=1639 lanjut

]]>
Jalan Salib pertama kali dipopulerkan oleh Ordo Fransiskan (OFM) sejak sekitar abad ke-14. Para biarawan Fransiskan ini kemudian memberi nama dan tempat perhentian pada Jalan Salib dengan jumlah perhentian yang banyak dan berbeda dari Jalan Salib yang sekarang. Jalan Salib ini akhirnya menjadi sebuah devosi yang tidak terpisahkan bagi para peziarah, Paus Klemens XII menetapkan jumlah dan lokasi perhentian Jalan Salib secara definitif. Ibadat Jalan Salib sendiri adalah sebuah devosi dan bukan termasuk dalam rumusan liturgi. Oleh karena itu, ibadat ini dapat disesuaikan dengan konteks umat supaya menjadi lebih bermakna dan menyentuh, sehingga umat lebih terbantu dalam merenungkan misteri keselamatan hidup yang terselenggara oleh Allah.

Sebagai Lembaga Pendidikan Jesuit, Campus Ministry Universitas Sanata Dharma mencoba merumuskan Jalan Salib yang dilandasi oleh kisah hidup St. Ignatius Loyola ketika sedang singgah di kapel La Storta. Ketika itu, St. Ignatius berjumpa dengan Yesus yang memanggul salib dan mendapat peneguhan rohani yang luar biasa. Campus Ministry ingin mengajak umat melaksanakan Jalan Salib bersemangatkan Igantian, secara khusus untuk merenungkan peristiwa keselamatan dan peneguhan dari Allah yang terus berlangsung sampai sekarang. Oleh karena itu, setiap perhentian/stasi yang berbeda-beda telah ditetapkan untuk menjadi bahan permenungan bersama setiap hari Jumat dengan tema yang lebih kontekstual. Dalam Jalan Salib ini, umat akan diajak untuk berefleksi dan melakukan aksi nyata sebagai pengalaman yang semakin meneguhkan, sehingga diharapkan Jalan Salib ini menjadi oase kecil baru di tengah kerinduan umat untuk dekat dengan Tuhan dalam setiap tantangan kehidupan.

~ Campus Ministry USD

]]>
https://unit./cm/apa-itu-jalan-salib-ignasian/feed/ 0
Pemilu: Sebuah Undangan Untuk Menciptakan Kebaikan Bersama https://unit./cm/pemilu-sebuah-undangan-untuk-menciptakan-kebaikan-bersama/ https://unit./cm/pemilu-sebuah-undangan-untuk-menciptakan-kebaikan-bersama/#respond Tue, 05 Mar 2019 08:36:47 +0000 https://unit./cm/?p=1631 lanjut

]]>
 

Di tahun 2019 ini, kita akan memasuki babak baru dalam sejarah Republik Indonesia, yaitu digelarnya Pemilihan Umum serentak, di mana akan dilaksanakan pemilihan presiden dan wakil presiden, serta anggota legislatif baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota sekaligus. Maka, tidak heran jika seluruh media massa, baliho di jalanan, bahkan handphone kita, akan selalu dipenuhi pesan dan wajah calon pemimpin dan wakil rakyat. Mereka mencoba menarik simpatisan sebanyak-banyaknya dengan menawarkan program dan keunggulan masing-masing. Namun, tidak sedikit pula yang justru berusaha memenangkan hati rakyat lewat cara-cara yang tidak simpatik, seperti kampanye negatif dan penyebaran berita bohong.

Berangkat dari keprihatinan ini, Campus Ministry, BEM USD, dan DPMU,  berkolaborasi menyelenggarakan kelas diskusi Ignasian. Acara ini diselenggarakan untuk mempersiapkan mahasiswa Sanata Dharma, dalam menyongsong pesta demokrasi yang sudah di depan mata. Hadir sebagai pembicara yaitu Romo H. Angga Indraswara, SJ. dalam kelas diskusi Ignasian yang dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2018 lalu di Arrupe Huis, Pusat Studi Lingkungan USD, Soropadan.

Romo Angga mengawali kelas ini dengan mengingatkan kembali, tentang realitas kita sebagai manusia beriman. Iman di sini, bukan melulu soal laku berdoa dan membaca Kitab Suci saja, melainkan keseluruhan diri manusia seutuhnya sebagai citra Allah. “Iman mendorong manusia untuk terus mencoba memahami apa yang diimaninya itu”, ungkap Romo Angga. Sebagai universitas Yesuit, Universitas Sanata Dharma mengikuti teladan hidup Santo Ignasius dari Loyola. Salah satu semboyannya yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, yaitu “Finding God in All Things”,  menemukan Tuhan dalam segala hal.

Melalui ungkapan ini, kita diajak untuk menemukan Tuhan dalam segala situasi hidup, termasuk menemukan Tuhan dalam situasi dunia yang selain penuh dengan kebaikan, juga tidak lepas dari kerusakan dan keprihatinan. Maka dalam situasi aktual akhir-akhir ini, kita diajak menemukan Tuhan dalam hiruk pikuk menyongsong Pemilihan Umum Indonesia tahun 2019. Kita tahu, bahwa dinamika politik menjelang pemilu begitu kuat dan kita justru lebih sering melihat banyak keburukan yang ditampilkan dalam media. Namun, Tuhan menghadirkan kita di dunia ini, justru untuk masuk ke dalam persoalan-persoalan itu, dan berjerih payah di dalamnya, berjuang untuk menjadikan persoalan hidup sebagai bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Itulah iman.

Dalam keheningan dan kesejukan yang diberikan Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma, Romo Angga juga menyampaikan, bahwa ada perbedaan yang mendasari agama dan politik. Agama, adalah sesuatu yang mutlak. Politik, adalah sesuatu yang relatif. Maka jelas, dalam politik pasti ada perbedaan. Akan tetapi, perbedaan itu, juga pasti bisa disatukan melalui perjumpaan. Disatukan di sini, bukan berarti menyatukan segala hal yang berbeda. Namun, menyatukan pandangan yang berbeda dengan satu visi yang sama, yaitu politik adalah sebagai sebuah upaya untuk menciptakan kebaikan bersama, bukan untuk mengejar kekuasaan sebesar-besarnya.

Sebagai manusia yang beriman, kita diutus pula untuk terlibat dalam kehidupan politik, karena lewat itulah kita bisa turut serta menciptakan kebaikan bagi sesama. Maka, Pemilu 2019 adalah undangan bagi kita untuk menciptakan kebaikan bersama. Kita didorong untuk menggunakan hak pilih sebagai wujud partisipasi aktif dalam membangun hidup bersama yang lebih baik. Kita juga didorong untuk memilih bukan atas dasar pertimbangan suka atau tidak suka, namun dengan akal sehat kita. Apabila kita memutuskan untuk tidak peduli (golput), berarti kita tidak ikut serta dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan manusia. Dengan menggunakan hak pilih kita secara bijak, kita telah berupaya menjaga demokrasi sebagai jati diri Indonesia.

 

Dimas Hanung

TM USD 16

 

]]>
https://unit./cm/pemilu-sebuah-undangan-untuk-menciptakan-kebaikan-bersama/feed/ 0
Berpolitik: Beriman secara Kritis https://unit./cm/berpolitik-beriman-secara-kritis/ https://unit./cm/berpolitik-beriman-secara-kritis/#respond Thu, 28 Feb 2019 04:44:48 +0000 https://unit./cm/?p=1627 lanjut

]]>
“Tentukan Pilihan, Awali Perubahan”

Pendidikan Politik Mahasiswa

Kelas Spiritualitas Ignasian 2019

Universitas Sanata Dharma

 

Pengantar:

 

  1. Sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi, Universitas Sanata Dharma (USD) berhasrat membentuk generasi muda menjadi pribadi-pribadi yang bersedia dan siap menjadi agen-agen perubahan (agents of change) dalam komunitas dan masyarakat tempat mereka berkarya. Perubahan yang ingin dihadirkan oleh USD melalui pendidikan generasi muda terarah pada perwujudan masyarakat yang semakin menjunjung tinggi keluhuran martabat manusia, sehingga dunia sungguh menjadi rumah bukan hanya bagi yang berkuasa, melainkan bagi semua manusia dan ciptaan, khususnya mereka yang miskin dan tersingkir. Inilah semangat dasar yang diharapkan menjiwai semua insan yang tergabung dalam sivitas akademika
  2. Visi untuk menjadikan masyarakat semakin bermartabat niscaya membawa USD masuk pada geliat dan perjuangan, duka cita dan kekecewaan, serta kegembiraan dan harapan masyarakat Indonesia. USD bukanlah sebuah menara gading yang tercerabut dari ruang kehidupan masyarakat Indonesia. Persis karena itu, perkara-perkara yang menggelisahkan masyarakat Indonesia mesti menjadi bagian dari pergulatan USD.
  3. Pada tahun 2019, perkara yang menjadi pusat perhatian segenap masyarakat Indonesia adalah pelaksanaan Pemilu 2019. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia dan sebagai Perguruan Tinggi Jesuit, USD jelas memiliki tanggung jawab untuk terlibat. Salah satu bentuk nyata keterlibatan USD adalah menyiapkan segenap mahasiswanya untuk dapat memilih secara “cerdas dan humanis”. Keterlibatan semacam ini lahir dari kesadaran bahwa berpolitik adalah perwujudan kritis dari cara beriman Ignasian.

 

Perihal Beriman:

 

  1. Beriman adalah sebuah tindakan manusiawi (actus humanus). Artinya, beriman adalah sebuah pilihan sadar yang dibuat oleh manusia. Pilihan itu merupakan sebuah pilihan dasar yang mewarnai seluruh aspek kehidupannya. Sebagai sebuah tindakan manusiawi, beriman niscaya melibatkan dimensi Yang Transenden. Tidak ada iman yang melulu imanen atau duniawi. Oleh karena itu, jika mau dirumuskan secara sangat sederhana, beriman adalah sebuah cara berada (way of being) di dunia yang dibentuk oleh relasi pribadi dengan Yang Transenden.
  2. Sebuah cara berada niscaya melibatkan keseluruhan diri manusia secara integral. Manusia per definisi memiliki tiga dimensi konstitutif, yaitu (1) afektif, (2) intelektual, dan (3) korporeal.
  3. Dimensi afektif menunjuk pada kapasitas manusia untuk mengalami pelbagai perasaan manusiawi, entah itu gembira, penuh pengharapan, marah, kecewa, putus asa, dan lain-lain. Pada dimensi ini pulalah, manusia bisa merasakan daya Sang Transenden sebagai bagian dari realitas hidupnya. Dalam kapasitasnya untuk mengalami semua itu, manusia juga memiliki kemampuan inheren untuk memilah-milah pelbagai gerakan yang muncul dalam batinnya, sehingga ia dapat memilih yang lebih membawanya pada daya Sang Transenden. Ini tentu saja terkait dengan dimensi intelektualnya.
  4. Dimensi intelektual menunjuk pada kapasitas manusia untuk menggunakan nalarnya untuk menangkap, memahami, dan membeda-bedakan simpang-siur gejala yang membentuk realitas kehidupannya. Daya intelektual menjadikan manusia sanggup untuk membedakan yang baik dan buruk, benar dan salah. Kesanggupan ini hanya akan menjadi semakin tajam apabila dilengkapi dengan kedalaman penguasaan ilmu-ilmu “sekuler”, entah itu politik, ekonomi, hukum, psikologi, teknologi, informatika, matematika, dan lain-lain. Lugasnya, kedalaman intelektual adalah bagian tak terpisahkan dari iman.
  5. Dimensi korporeal menunjuk pada kenyataan bahwa eksistensi manusia di dunia tak bisa dilepaskan dari tubuhnya. Dengan tubuhnya, manusia dapat mewujudkan gagasan, niat, dan rencana menjadi sebuah kenyataan. Persis karena itu, dimensi korporeal senantiasa melibatkan kehendak (will) manusia untuk membuat perwujudan konkret-riil dan kasat mata. Arah dari keterlibatan ragawi ini adalah perwujudan kebaikan bersama (common good) dalam masyarakat.
  6. Beriman niscaya melibatkan ketiga dimensi manusia itu secara utuh dan integral. Lalu, karena manusia adalah makhluk historis, beriman sebagai tindakan manusiawi tidak dapat dilepaskan dari tradisi yang dibentuk oleh pelbagai faktor yang muncul di sepanjang sungai sejarah. Tradisi beriman yang menjadi dasar dan roh dari USD sebagai Perguruan Tinggi Jesuit adalah Spiritualitas Ignasian. Spiritualitas ini lahir dari pengalaman mistik Ignasius Loyola. Dalam bingkai ini, beriman lalu dipahami sebagai “cara berada di dunia yang dibentuk oleh Spiritualitas Ignasian”. Singkatnya, ini bisa disebut sebagai “Cara Beriman Ignasian”.

 

Beriman di Dunia:

 

  1. Salah satu ciri dasar Spiritualitas Ignasian yang membentuk karakteristik pendidikan Jesuit adalah iman yang mengafirmasi kebaikan dunia. Dunia bukanlah tempat terkutuk, melainkan tempat ditemukannya rahmat. Dengan perkataan lain, dunia adalah tempat ditemukannya Allah yang mengomunikasikan diri-Nya sendiri kepada seluruh ciptaan dan lewat seluruh ciptaan. Karena Allah ditemukan di dunia, cara beriman Ignasian tidak menolak dunia. Sebaliknya, dunia mesti didekati dengan “rasa kagum” pada pelbagai gejala yang mungkin muncul dan membawa ciptaan pada kepenuhannya. Ini sering diungkapkan dengan ekspresi “Finding God in All Things”.
  2. Mengafirmasi kebaikan dunia bukan berarti sebuah cara pandang naif yang melihat dunia sebagai sebuah kesempurnaan. Justru sebaliknya, cara pandang yang ingin dikenakan oleh Cara Beriman Ignasian meliputi sebuah realisme yang mengakui bahwa dunia ditandai dengan macam-macam keretakan. Namun, itu tidak berarti bahwa dunia harus dihancurkan. Bukan pula alasan untuk melarikan diri dari dunia. Model beriman “apokaliptik”, yang meyakini bahwa dunia harus terlebih dahulu dihancurkan sebelum dibangun kembali, juga model beriman yang mengasingkan diri dari dunia tidaklah sesuai dengan Cara Beriman Ignasian.
  3. Cara Beriman Ignasian terarah pada transformasi dunia kehidupan manusia dan ciptaan. Akan tetapi, jalan yang ditempuh bukanlah penghancuran dunia, melainkan transformasi manusia menjadi aktor-aktor pembawa perubahan ke arah dunia yang semakin manusiawi, karena dalam kepenuhan kemanusiaanlah terpancar kemuliaan Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Ignasius Loyola, semakin kebaikan manusiawi bersifat universal, semakin terpancar pula keilahian.

 

Panggilan untuk Terlibat:

 

  1. Cara Beriman Ignasian jelas bukanlah sebuah model beriman yang hanya menantikan pintu langit terbuka. Dalam Cara Beriman Ignasian, Allah yang diimani adalah Allah yang hadir secara aktif untuk menjadikan dunia semakin manusiawi, dan dengan itu semakin ilahi. Panggilan untuk terlibat dan berjerih-payah bersama Allah ini adalah unsur konstitutif dari Cara Beriman Ignasian. Terlibat secara aktif dalam persoalan-persoalan dunia bukan di luar iman dan spiritualitas. Justru sebaliknya, itu adalah bagian inti dari Cara Beriman Ignasian. Sebagaimana dikatakan oleh Hironimus Nadal, “Dunia adalah rumah kita”. Persis karena itu, setiap pribadi dipanggil untuk terlibat dalam segala carut-marut perkara yang mewarnai kehidupan manusia di dunia.
  2. Kesanggupan terlibat di dunia berarti secara sadar menjadikan pelbagai persoalan-persoalan dunia sebagai bagian integral dari kehidupan. Secara konkret, ini berarti memiliki solidaritas pada sesama yang menderita. Kalau ada sesama manusia yang belum bisa hidup secara layak, hal itu menyentuh hidupnya. Kalau ada sesama manusia yang belum bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik, hal itu turut menggelisahkannya. Kalau ada sesama yang keyakinan agamanya ditindas, hal itu menggerakkannya untuk terlibat membela. Solidaritas tidak hanya berarti merasakan kasihan. Solidaritas berarti komitmen sepenuh diri untuk memperjuangkan nasib sesamanya yang menderita.
  3. Dalam tataran hidup sehari-hari, kesanggupan untuk menjawab panggilan di dunia berarti kesungguhan untuk belajar memandang dunia sebagaimana Allah memandangnya, menangkap, memahami, dan bertindak di dunia sebagaimana Allah melakukannya. Apakah manusia bisa melakukan itu? Ya, karena manusia diciptakan sebagai citra Allah di dunia. Ini berarti manusia memiliki kemampuan dalam dirinya untuk menghadirkan kebaikan Allah di dunia, meskipun tidak secara penuh. Kemampuan inilah yang memungkinkan manusia sepenuhnya terlibat dalam gerak Allah di dunia.

 

Prinsip-prinsip Dasar Keterlibatan:

 

  1. Dalam Cara Beriman Ignasian, keterlibatan di dunia diwarnai oleh tiga prinsip dasar, yaitu (1) Ad Maiorem Dei Gloriam, (2) Semangat Magis, dan (3) Opsi Keberpihakan pada yang miskin dan tersingkir.
  2. Ad Maiorem Dei Gloriam berarti Demi Kemuliaan Allah yang Semakin Besar. Ini bisa juga diartikan “Demi Semakin Dimuliakannya Nama Allah”. Prinsip ini menegaskan bahwa motivasi keterlibatan bukanlah mengejar kemuliaan pribadi (self-glory). Keterlibatan bersumber dari pengalaman akan Allah yang mencintai kita dengan segala keberdosaan kita. Kesadaran akan cinta Allah yang tanpa syarat melahirkan rasa syukur. Rasa syukur menggerakkan untuk mencintai dan mengabdi Allah di dunia, sehingga nama-Nya semakin dimuliakan oleh sesama yang dilayani.
  3. Semangat Magis berarti kesanggupan dan kesungguhan untuk mengejar keunggulan dalam segala bentuk keterlibatan. Panggilan untuk terlibat dalam gerak Allah di dunia tidak akan terwujud tanpa kompetensi dan kecerdikan yang unggul dalam “logika, cara pikir, dan strategi” duniawi. Itulah mengapa kita dituntut untuk memiliki keunggulan dalam bidang-bidang ilmu yang kita dalami, entah itu politik, diplomasi, ekonomi, hukum, teknik, matematika, kepemimpinan, manajemen, dan lain-lain. Lugasnya, spiritualitas Ignasian menuntut kesanggupan untuk menjadi unggul dalam bidang-bidang ilmu duniawi. Tanpa itu, tidak akan terjadi perubahan. Sebaliknya, kita hanya akan mudah ikut arus populer di dunia karena tidak sanggup berpikir kritis. Sekali lagi, keunggulan dalam bidang ilmu duniawi ini bukan untuk mengejar prestasi pribadi. Itu semata-mata adalah sarana yang secara sadar dipilih untuk menjawab panggilan terlibat di dunia.
  4. Opsi keberpihakan kepada kaum miskin dan tersingkir menegaskan bahwa keterlibatan kita dimaksudkan pertama-tama untuk mengangkat kehidupan mereka yang paling dirugikan oleh sistem, struktur, kebijakan, dan kecenderungan kultural. Mereka adalah kaum miskin, pengungsi, korban intoleransi, korban pelanggaran HAM, dan lain-lain. Opsi keberpihakan kepada mereka menuntut lebih dari tindakan karitatif. Opsi keberpihakan kepada mereka berarti kesanggupan untuk memperjuangkan transformasi sistem, struktur, kebijakan, dan kecenderungan kultural.

 

Discernment sebagai Cara Bertindak Pribadi dan Bersama:

 

  1. Dalam Cara Beriman Ignasian, discernment adalah metode pengambilan keputusan yang dipilih secara sadar untuk terlibat secara penuh di dunia. Discernment mengandaikan kepekaan manusia pada pelbagai macam perasaan, pikiran, dan keinginan (feelings, thoughts, and desires) yang memenuhi ruang batinnya. Manusia yang melakukan discernment mampu menangkap, memilah-milah, serta memilih perasaan, pikiran, dan keinginan yang mengisi realitas batinnya, sehingga ia hanya mengikuti yang lebih membawanya pada tujuan ia diciptakan.
  2. Discernment tidak hanya dibuat pada tataran individu, tetapi juga dalam kebersamaan. Untuk itu, dibutuhkan kesanggupan untuk tidak hanya menangkap gerak batinnya pribadi, tetapi juga untuk mendengarkan bagaimana Roh Allah berkarya dalam diri pribadi lain. Kesungguhan dalam mendengarkan pribadi lain menjadi kunci, karena itu memaksa orang untuk keluar dari dirinya sendiri. Hanya dengan keluar dari dirinya, orang dapat melaksanakan kehendak Allah.

 

Beriman: Berpolitik Secara Kritis

 

  1. Dalam pandangan populer, politik acapkali dipahami sebagai segala cara yang perlu dilakukan untuk mendapatkan kekuasaan negara. Pandangan ini jelas menyimpang dari makna dasar politik. Secara sederhana, politik berarti segala usaha untuk menata kehidupan bersama, agar dapat semakin memberikan kebaikan bagi semua. Definisi ini jelas selaras dengan pemahaman bahwa beriman berarti cara berada di dunia yang dibentuk oleh gerak Allah untuk menjadikan dunia semakin manusiawi. Oleh karena itu, beriman dan berpolitik bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan dua hal yang amat dekat. Keduanya sama-sama merupakan upaya untuk menghadirkan kebaikan yang semakin universal dalam kehidupan bersama.
  2. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa ajaran-ajaran agama dapat begitu saja diterapkan dalam politik. Agama per definisi menyangkut sesuatu yang absolut dan partikular, sedangkan politik per definisi menyangkut perkara-perkara relatif dan umum. Serta-merta menerapkan ajaran agama dalam politik berarti menyingkirkan mereka yang berkeyakinan berbeda. Peran agama adalah memberikan pedoman dan nilai-nilai universal kehidupan. Ini perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang mampu diterima oleh semua. Karena hanya dengan itu, politik dapat sungguh menjadi sarana mewujudkan perdamaian dan keadilan di dunia.

 

Keterlibatan Kita:

 

  1. Bentuk keterlibatan seperti apakah dan pesan apakah yang perlu kita bawa sebagai mahasiswa USD kepada masyarakat Indonesia saat ini? Mari kita mencoba melakukan discernment dalam kebersamaan melalui dialog tiga putaran.

 

catatan pembicaraan yang disampaikan dalam Pertemuan I kegiatan Pendidikan Politik Mahasiswa USD di Arrupe Huis, Pusat Studi Lingkungan USD, 28 Februari 2019.

Romo H Angga Indraswara, SJ, B.A. M.Hum.

(Dosen Prodi Ekonomi Fak Ekonomi USD)

 

]]>
https://unit./cm/berpolitik-beriman-secara-kritis/feed/ 0
Conversar Arrupe: Dari Universitas Pos Ronda Menghasilkan Karya https://unit./cm/conversar-arrupe-dari-universitas-pos-ronda-menghasilkan-karya/ https://unit./cm/conversar-arrupe-dari-universitas-pos-ronda-menghasilkan-karya/#respond Tue, 20 Oct 2015 01:58:41 +0000 https://unit./cm/?p=729 lanjut

]]>
Gelak tawa kembali hadir ditengah-tengah Student Hall kampus I Universitas Sanata Dharma saat seorang komedian yang berusia separuh baya itu baru saja menuturkan ceritanya. Dialah Susilo Nugroho atau yang lebih familier dikenal sebagai Den Baguse Ngarso. Komedian yang juga seorang seniman teater ini kembali ke Sanata Dharma untuk membagi kisah kasihnya selama menempuh segala proses pendidikan dan kecintaannya terhadap profesi yang digelutinya dalam acara Conversar Arrupe.

Pak Sus, sapaan akrab beliau, menuturkan bahwa kecintaannya terhadap seni teater sudah ia mulai sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. “Masuk Sanata Dharma, seperti membuka ruang bagi pengembangan bakat saya”, begitu tegas beliau. Dengan menjalani apa yang kita cintai, pada hakikatnya kita sedang berusaha untuk menjadi diri sendiri. “Ijazah tak pernah bisa menentukan akan jadi apa kita nantinya.”

Pak Sus yang duduk bersama Beni, seorang Stand up komedian, pada hari Jumat, 25 September 2015 itu juga menceritakan tentang pengalamannya selama menjalani profesi yang menjadi kecintaannya itu. Bahwa dalam setiap pertunjukkan seni, terutama seni lawak, para pelakunya ingin mengajak setiap orang yang menonton untuk mau menangkap kata bukan hanya sebatas kata, melainkan makna dibalik kata yang disampaikan itu. “Stand Up Comedy mengajak kita untuk mau berpikiran terbuka”, begitu Beni yang merupakan alumnus Pendidikan Bahasa Inggris USD mencoba memberi penegasan dari apa yang disampaikan Pak Susilo.

Pak Sus dan Beni, keduanya, sepakat bahwa seorang pelawak, seniman teater, stand up komedian, akan mencapai tingkat keprofesionalitasan yang tinggi saat mereka mampu menceritakan kegagalan mereka dengan cara yang santai. “Ketika kegagalan diterima dengan senang hati, itulah saat kita naik ke level yang lebih tinggi,” tukas Pak Sus.

Disinggung soal pengalamannya selama berada di Sanata Dharma, Alumnus Pendidikan Akuntansi IKIP Sanata Dharma ini mengatakan bahwa Sanata Dharma itu ibaratnya sebuah pos ronda dimana kita bisa saling mengenal hampir semua warga Sanata Dharma. “Sanata Dharma dulu adalah kampus yang sangat dekat. Tak ada sekat yang membatasi antara mahasiswa, karyawan, dosen, bahkan rektor untuk saling berdiskusi.” Hal yang sama juga dirasakan oleh Beni yang bercerita bahwa habit ngobrol di Sanata Dharma adalah sebuah nilai positif dari Universitas ini sebagai wujud nyata semboyan Cerdas dan Humanis. Beni bertutur, “Cerdas dan Humanis bisa diartikan bahwa relasi antar sesama warga Sanata Dharma itu sama rata.”

Ketiadaan sekat-sekat yang membatasi diri mahasiswa inilah yang memunculkan sikap peduli di diri sendiri. Dan dengan seiring munculnya sikap peduli ini tumbuh pula lah nilai-nilai kerelijiusan dalam diri mahasiswa Sanata Dharma.

“Tingkat kerelijiusan Sanata Dharma ini ditunjukkan, salah satunya, dengan kepedulian mahasiswanya terhadap sesama manusia,” ujar Romo Andalas wakil rektor III yang hadir bersama Pak Sus dan Beni malam itu. Mahasiswa memang seharusnya seperti itu, mempunyai kepekaan dan kepedulian selayaknya seorang EO yang berpikir dan bertindak selayaknya seorang CEO.

(Wahyu Nur Cahyo)

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/conversar-arrupe-dari-universitas-pos-ronda-menghasilkan-karya/feed/ 0
Conversar Arrupe: Menjadi Seorang Perenung https://unit./cm/conversar-arrupe-saya-adalah-seorang-perenung/ https://unit./cm/conversar-arrupe-saya-adalah-seorang-perenung/#respond Wed, 22 Apr 2015 18:47:33 +0000 https://unit./cm/?p=549 lanjut

]]>
Ketika saya lahir, Tuhan sedang menulis puisi

Dan minum kopi dan listrik mendadak mati.

 

Saat itu bahasa Indonesia masih unyu

Dan pedoman ejaannya belum sempurna.

“Keren juga ini bahasa,” Tuhan berkata, “bisa

menjadikan negeri yang rumit cantik pada waktunya.”

(Dongeng Puisi karya Jokpin, 2014)

 

Itulah selarik puisi Jokpin yang membuat suasana Klinik Kopi petang itu terasa begitu khidmat. Hari itu, Jumat 17 April 2015, Joko Pinurbo atau yang kerap dipanggil dengan nama Jokpin hadir di acara Campus Ministry: Conversar Arrupe.

Ini kali kedua Campus Ministry mengadakan acara ngobrol-ngobrol tentang kisah dan kasih dengan alumni Universitas Sanata Dharma. Kali ini Jokpin alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ketika USD masih bernama IKIP Sanata Dharma hadir bersama Romo In Nugroho, SJ untuk berbagi kisah dan kasihnya.

Bertempat di Klinik Kopi, Jokpin memulai berbagi kisah kenapa ia memilih menjadi seorang penyair. Ia bertutur bahwa ada dua orang yang menjadi inspirasinya kenapa ia menjadi seorang penyair seperti sekarang ini. Pertama adalah Robert Frost seorang penyair Amerika dengan puisinya yang berjudul The Road Not Taken. Orang kedua adalah Romo Julius Darmaatmadja, SJ yang kala itu menjabat Rektor Seminari Menengah Mertoyudan. “Romo Julius Darmaatmadja, SJ adalah orang yang membimbing saya untuk bersetia kepada visi misi dalam hidup. Beliau memberikan pendampingan rohani agar saya mampu menghidupi pilihan yang telah saya pilih: menjadi seorang penyair” begitu tutur Jokpin.

Joko Pinurbo bercerita bahwa dalam penciptaan karya puisinya, ia membutuhkan waktu yang tidak singkat. Dalam proses yang membutuhkan waktu cukup lama itu, Jokpin sempat bercerita bahwa ia merasa kariernya sebagai seorang penyair tak akan terwujud. Ia mengalami kegagalan yang tak bisa dibilang sedikit. Tapi, dari kegagalannya lah ia bercerita tentang kesabaran. Tentang perenungannya untuk kembali mengenali jati dirinya sendiri dan menyelami lebih dalam lagi tentang visi misi hidup yang telah ia pilih dan jalani. Hingga akhirnya lahirlah sebuah puisi luar biasa berjudul Celana Ibu.

“Kesuksesan adalah keseriusan kita dalam memperjuangkan cita-cita” Ia menambahkan. Jokpin juga sempat menyentil sedikit tentang kehidupan kuliah. Baginya masa-masa kuliah adalah masa yang sangat tak terlupa karena kuliah bukan hanya soal pengetahuan, tetapi lebih kepada etos kerja dan mental baja yang akan membuat seorang mahasiswa akan mampu bertahan dalam jangka waktu lama di dunia setelahnya.

Romo In Nugroho, SJ yang hari itu juga duduk bersama menambahkan bahwa membaca puisi-puisi karya Jokpin tak hanya sekadar soal membaca kata yang ditorehkan dalam secarik kertas, tetapi juga tentang kesabaran yang dilaluinya dengan mempertaruhkan segala mimpi, menjadi kunci kualitas suatu karya-karya Joko Pinurbo.

Kesabaran is the making”, begitu Romo In menjelaskan. Bahwa seseorang dapat menemukan kesabaran saat dia tahu kapan sesuatu itu harus diusahakan secara terus-menerus dan tahu kapan harus beristirahat.

Tentang perenungan yang dilakukan Jokpin, Romo In memberi pandangannya sendiri bahwa proses merenung adalah proses di “antara”. Proses yang tak banyak orang kuat untuk menjalaninya. “Saat menjalani proses perenungan kita akan berada di saat sunyi, saat yang paling tepat bagi diri kita untuk mengenal kembali siapa diri kita. Saat yang tepat untuk menyelami untuk dapat menemukan sesuatu yang pas untuk diri kita sendiri. Saat bagi kita belajar rendah hati dengan tidak memaksakan sesuatu yang tak sesuai untuk diri kita” kata Romo In.

Sebuah statement menarik dari Joko Pinurbo malam itu adalah masih adakah sekarang ini alumnus Universitas Sanata Dharma yang setia, tekun, dan bertanggungjawab penuh akan pilihan yang telah dipilih walaupun ia tahu bahwa pilihan itu tidaklah populer?

Masih adakah?

(Wahyu Nur Cahyo)

IMG_3821

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/conversar-arrupe-saya-adalah-seorang-perenung/feed/ 0
Conversar Arrupe: Berkarya Bersama https://unit./cm/conversar-arrupe-berkarya-bersama/ https://unit./cm/conversar-arrupe-berkarya-bersama/#respond Wed, 18 Mar 2015 23:37:27 +0000 https://unit./cm/?p=515 lanjut

]]>
Ishari Sahida atau yang lebih akrab dengan nama Ari Wulu hadir di tengah-tengah acara Conversar Arrupe yang diadakan Campus Ministry pada Kamis, 12 Maret 2015. Dalam dunia seni, khususnya di Yogyakarta, nama tersebut pastilah tidak asing. Ari Wulu adalah salah seorang yang berada di balik hingar bingar perhelatan tahunan Festival Kesenian Yogyakarta sejak 2013. Darah seni yang menurun dari ayahnya yang juga seniman ternama Jogja, (alm.) Sapto Rahardjo, membuat pria beralmamater Program Studi Sastra Inggris ini memiliki kepedulian lebih dalam bidang seni.

Dalam acara Conversar Arrupe, Mas Wulu banyak bercerita tentang bagaimana dia bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan seni yang ada di kota Jogja ini. Mulai dari bagaimana awal proses terlibat dalam Festival Kesenian Yogyakarta, hingga menjadi Board Director atau salah satu ketua di acara prestisius tersebut. Beliau juga banyak bercerita tentang FKY, tak hanya bagian menyenangkan dari acara tersebut, namun juga bagian-bagian kelamnya. Mulai dari dukungan pemerintah setempat yang beliau rasa kurang tepat sasaran, hingga penghargaan kepada seniman yang kadang sangat kurang.

Namun, bagi beliau hal-hal itu bukanlah suatu hambatan yang bisa membunuh kreativitas seseorang dalam berkarya. Bagi pria kelahiran 7 Juni 1979 ini, semua hambatan bisa diatasi dengan cara berkarya bersama dengan seniman-seniman lainnya maupun dengan orang yang dekat dengan dunia panggung gemerlap. Tentu saja dengan perhitungan yang sangat terencana dan kesiapan menghadapi segala risiko yang ada. Hasilnya, FKY25 dan FKY26 menjadi begitu meriah dan banyak orang yang ingin datang ke FKY. Singkatnya, FKY kembali bersinar dua tahun terakhir ini.

Mas Wulu yang sempat menyebut Kampus Sanata Dharma sebagai kampus romantis juga sempat berkata bahwa sebuah imajinasi tak bisa di batasi. “Tabrak wae, ora sah wedi. Sing penting ora gawe rugi wong liya,” (“Tabrak saja, tidak usah takut. Yang penting tidak merugikan orang lain”) begitu ucapnya saat ditanya bagaimana beliau tetap bisa berlaku kreatif. Mas Wulu yang telah aktif berkarya dalam dunia seni dan pertunjukan selama menjadi mahasiswa pun bertutur bahwa kreativitas bermula dari self-awareness atau rasa kepedulian kita dengan sesama dan lingkungan sekitar kita.

Romo Alb. Buddy Haryadi, SJ yang juga turut serta menjadi narasumber di acara ini menambahkan bahwa di dalam pendidikan Jesuit, apa yang telah dilakukan Mas Wulu ini adalah suatu perwujudnyataan sebuah imajinasi yang digabungkan dengan pengetahuan dan hati. Kreativitas bukan sesuatu yang kodrati diterima manusia, melainkan sesuatu yang dibuat melalui serangkain kepedulian. Romo Buddy yang merupakan kepala Pusat Studi Ignasian USD juga memberi benang merah tentang cerita Mas Wulu dalam mengatasi semua hambatan. Bahwa dalam Spiritual Ignatian, kita memang harus tahu seberapa jauh batas kita dan punya cara untuk melampaui batasan itu. Secara tidak langsung Romo Buddy juga mengatakan bahwa apa yang telah dikaryakan Mas Wulu selama ini merupakan wujud nyata dari semboyan Universitas Sanata Dharma, cerdas dan humanis.

Lalu, saya sebagai seorang yang pernah dan masih ada di lingkungan sekitar Universitas Sanata Dharma, berpikir “Sudahkah aku, kita, menunjukkan perilaku cerdas dan humanis yang nyaris saban hari kita ucap dan dengar itu?”

(CA)

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/conversar-arrupe-berkarya-bersama/feed/ 0
Mengenal Conversar Arrupe https://unit./cm/mengenal-conversar-arrupe/ https://unit./cm/mengenal-conversar-arrupe/#respond Wed, 11 Mar 2015 03:09:58 +0000 https://unit./cm/?p=511 lanjut

]]>
Percakapan Rohani adalah salah satu dari peristilahan khas dalam Spiritualitas Ignasian. Percakapan Rohani dimaksudkan sebagai sarana pendampingan penuh kedalaman demi menuntun orang yang didampingi mencapai tujuan kerohanian Ignasian, yakni agar orang semakin menyadari kehadiran Allah dalam setiap langkah hidup nyatanya (finding God in all things). Akan tetapi, percakapan yang dimaksud tidak sempit sebagai percakapan tentang yang suci-suci, melainkan suatu relasi luwes antara yang didampingi dan yang mendampingi sehingga orang dikobarkan semangatnya dalam hidup kesehariannya. Maka sebagai kuncinya, percakapan rohani perlu dilihat sebagai percakapan penuh kedalaman dan memberi semangat bagi orang yang melakukannya.

Percakapan (“conversar” dalam bahasa Spanyol) dalam pengertian yang lebih umum adalah pembicaraan antara dua atau lebih pribadi-pribadi. Di sini pengertian atas istilah lebih memperhatikan atau menekankan percakapan sebagai momen atau peristiwa. Namun, sesungguhnya percakapan lebih dari suatu peristiwa. Ada akibat dari percakapan yang positif bahwa orang dapat belajar satu sama lain, dan mereka semakin mengenal satu sama lain. Percakapan yang mendalam dapat mengakrabkan orang-orang yang terlibat sehingga mereka satu hati dan satu semangat, saling mendukung dan percaya satu sama lain. Dengan demikian, percakapan Ignasian, “conversar”, perlu dilihat bukan sebagai obrolan tanpa isi yang ngalor-ngidul dan tanpa tujuan. Conversar menjadi momen pembicaraan santai, tapi serius, yang mengajak mereka yang terlibat untuk semakin akrab satu sama lain, dicerahkan dengan kedalaman pengetahuan maupun kerohanian, mendapat inspirasi dan semangat untuk punya visi atas hidup yang dialaminya.

Pater Pedro Arrupe, SJ (14 November 1907 – 5 Februari 1991) adalah Superior Jendral ke-28 dari ordo religius Katolik Roma, Serikat Jesus pada tahun 1965-1983. Sebagai Yesuit, Pater Arrupe dikenal sebagai tokoh Gereja dan dunia yang punya perhatian besar pada persoalan-persoalan aktual kemanusiaan.

Ketika ia menjadi Provinsial di Jepang, Pater Arrupe menjadi saksi hidup penderitaan pasca Perang Dunia II yang dialami Jepang, khususnya usai jatuhnya bom di Hirosima pada 6 Agustus 1945. Beliau memprakarsai berdirinya Jesuit Refugee Service (JRS) demi menanggapi keprihatinan sosial yang terjadi pada penderitaan para pengungsi dan manusia perahu di tahun tujuhpuluhan. Sebagai Jendral, Pater Arrupe memperbaharui komitmen dan perhatian perutusan Serikat Yesus kepada penderitaan kaum papa miskin melalui dekrit Kongregasi Jendral ke-32: “Perutusan Kita di Jaman Ini: Pelayanan Iman dan Penegakan Keadilan”.

Uraian di atas bermaksud memberikan gambaran inspirasi di balik acara Conversar Arrupe bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk ekspresi syukur Universitas Sanata Dharma atas karya pelayanan pendidikan. Ungkapan syukur tidak menjadi penuh bila berhenti sebagai ucapan bagi diri sendiri, tetapi syukur yang dibagikan akan potensial menggerakkan, memberi inspirasi dan meneguhkan orang lain untuk mengalami semangat dan visi yang sama. Dengan keyakinan yang sama, Conversar dimaksudkan sebagai momen sharing Universitas Sanata Dharma demi menularkan semangat dan sukacita karya pelayanannya kepada mahasiswa, alumni dan masyarakat. Secara khusus, Conversar bermaksud mengarahkan perhatian obrolan pada hal-hal mengenai atau terkait dengan kemanusiaan. Kemanusiaan dimaksud bukan hanya soal problem dan keprihatinan aktual kemanusiaan seperti perang, kemiskinan dan semacamnya, namun termasuk juga penghargaan kepada upaya-upaya kongkret meningkatkan kualitas hidup kemanusiaan yang sudah baik, seperti perhatian pada budaya dan kearifan lokal, pelestarian lingkungan hidup dan pendidikan kaum muda. Oleh karena itu Arrupe dimunculkan sebagai ikon program Campus Ministry ini.

(Alb. Buddy Haryadi, SJ)

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/mengenal-conversar-arrupe/feed/ 0