60 Th Sanata Dharma – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm Unit Pelayanan Pastoral dan Pengembangan Kerohanian Kampus Tue, 18 Jun 2019 03:02:03 +0700 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.2 https://unit./cm/wp-content/uploads/2019/01/cropped-icon-32x32.jpg 60 Th Sanata Dharma – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm 32 32 60 Th Sanata Dharma: Jangan Mau Jadi Mahasiswa Kupu-Kupu https://unit./cm/jangan-mau-jadi-mahasiswa-kupu-kupu/ https://unit./cm/jangan-mau-jadi-mahasiswa-kupu-kupu/#comments Sun, 29 Mar 2015 22:33:00 +0000 https://unit./cm/?p=527 lanjut

]]>
“Mapasadha apaan sih, Drey?”

“Yaak.. Silahkan buka lagi buku INSADHA-nya, yaa..”

Setelah 2 tahun berlalu (aku jadi duta Mapasadha di prodi tercinta), masih ada aja yang nggak tau Mapasadha. Mungkin aku kurang gencar promosi ya? Atau emang mahasiswa Sadhar sendiri yang nggak peduli a.k.a nggak mau tahu dengan keberadaan UKM di kampusnya? Aku jawab di sini sekalian ya. Mapasadha adalah kependekan dari Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Sanata Dharma yang merupakan salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di Sanata Dharma. Rata-rata yang nanya kayak gitu emang bukan anak UKM atau jarang nongkrong di Realino, sih.
Nggak cuma Mapasadha aja sih, coba deh tanya temenmu apa ada yang tahu KSR? PM? Menwa? Mungkin ada beberapa UKM lain yang nggak dikenal juga sama mahasiswanya. Tak kenal maka tak sayang. Kayaknya itu yang lagi terjadi sekarang. Dampak dari tidak dikenalnya UKM, ya peminatnya sedikit. Dari 2000an mahasiswa yang masuk Sanata Dharma tiap tahunnya, yang akhirnya jadi anggota aktif UKM kayaknya nggak nyampe 150 mahasiswa, deh. Miris kan?
“KSR Sanata Dharma”
taken from:http://ksr.pmi-yogya.org

Haduh.. Padahal banyak lho, keuntungannya masuk UKM. Pertama, kamu bisa menyalurkan minatmu di tempat yang tepat. Kedua, kamu akan berkumpul dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama dari prodi yang berbeda. Ketiga, kamu akan ketemu dengan orang-orang hebat. Siapa? Alumni UKM. Rata-rata mahasiswa yang pernah ikut UKM jadi orang keren lho. Mengapa? Karena ikut UKM tidak hanya membuatmu pintar merencanakan kegiatan, tidak hanya membuatmu semakin pandai dalam bidang yang kamu minati, tapi juga melatihmu dalam berorganisasi, melatihmu untuk menjadi pemimpin, namun lebih-lebih lagi untuk membekalimu dengan keterampilan-keterampilan yang tidak akan kamu dapati di kelas. Kampus sedang bekerja sama denganmu mempersiapkan dirimu untuk siap terjun ke masyarakat. Wow! Keempat, kampus punya anggaran untuk kegiatan-kegiatan di UKM yang tidak sedikit. Jadi, nggak usah khawatir kegiatanmu nanti terhambat karena masalah uang. Sanata Dharma adalah salah satu universitas yang sangat mendukung kegiatan kemahasiswaan, lho. Tahun kemarin saja UKM-nya nambah 3. Semuanya demi K A M U, wahai mahasiswa. Iya, K A M U.

Aku cerita sedikit ya, tentang pengalamanku ikut UKM. Awalnya, aku pikir kerjaannya anak UKM hanya kumpul, ngobrol, dan maen. Ternyata tidak seperti itu. Selain aktif bermain, aku juga belajar mengelola sebuah organisasi. Aku belajar menjadi seorang pemimpin ketika ditunjuk sebagai kordinator kegiatan. Aku belajar mengelola uang ketika dipercaya sebagai bendahara. Dan bagian paling menyenangkan adalah bagian bonus dimana keinginanku untuk jalan-jalan tercapai tanpa harus mengeluarkan banyak uang.

“Menwa Sanata Dharma”
taken from:https://www.

Well, bagiku mahasiswa yang keren adalah mahasiswa yang aktif di kelas pun di kegiatan mahasiswa. Jangan sia-siakan fasilitas yang sudah diberikan oleh kampus. Jangan sia-siakan uang kuliah yang sudah kamu bayarkan karena larinya bukan cuma ke program studi dan fakultasmu, tapi juga ke kegiatan kemahasiswaan dan UKM adalah salah satunya. Aku #serius. Jangan biarkan peraturan maksimal kuliah 5 tahun membuatmu takut mengambil kegiatan kemahasiswaan.

Nah, aku rasa komunikasi yang baik antara pihak universitas dengan mahasiswa menjadi sangat penting. Tidak bisa dipungkiri bahwa fasilitas berupa materi yang diberikan oleh kampus belumlah cukup untuk mendukung kegiatan mahasiswa. Dibutuhkan fasilitas lain berupa bimbingan, kesempatan untuk berdiskusi, serta penghargaan. Dalam sebuah pertemuan antara pejabat kampus dan perwakilan UKM, ada sebuah cita-cita yang sederhana namun sangat menggugah dari salah satu UKM, yakni masuk dalam berita di web universitas. Maka, menuju 60 tahun Sanata Dharma diharapkan hubungan yang sudah terjalin antara mahasiswa dan pejabat universitas dapat semakin erat. Tidak hanya di bidang akademik, namun juga di bidang non-akademik. Karena sebuah kendaraan tanpa motor penggeraknya adalah tidak berguna. Sederhananya, nggak ada K A M U, nggak ada Sanata Dharma.
(Maria Audrey M)
[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/jangan-mau-jadi-mahasiswa-kupu-kupu/feed/ 2
60 Th Sanata Dharma : Berpindah (Terus Bergerak) Mencetak Manusia Cerdas dan Humanis https://unit./cm/60-th-sanata-dharma-berpindah-terus-bergerak-mencetak-manusia-cerdas-dan-humanis/ https://unit./cm/60-th-sanata-dharma-berpindah-terus-bergerak-mencetak-manusia-cerdas-dan-humanis/#respond Fri, 30 Jan 2015 00:18:21 +0000 https://unit./cm/?p=481 lanjut

]]>
“Hidup adalah semua tentang perpindahan”, kata film Manusia Setengah Salmon. Dari kalimat tersebut menekankan bahwa hidup itu tidak melulu diam di tempat, tapi harus bergerak, berpindah, atau kata lain dari anak zaman sekarang adalah move on! Tapi move on itu gak mudahkan? Kita harus meninggalkan kebiasaan lama untuk sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda bahkan sesuatu yang lebih menantang dari sebelumnya. Berpindah berarti banyak yang harus dikorbankan.

Berbicara tentang perpindahan, mengingatkanku tentang  masa yang cukup berat untuk dilalui. Meninggalkan masa SMA itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Masa yang dibumbui dengan cerita-cerita cinta, persahabatan bahkan permusuhan kecil antar-teman itupun menyisakan banyak haru saat ditinggalkan. Beralih dari dunia yang abu-abu ke dalam dunia yang lebih real itu sama sekali tidak mudah. Pribadi yang sebelumnya bergantung pada orangtua lalu berubah menjadi pribadi yang mandiri.

Kuliah!

Satu kata, tapi banyak pengorbanan di dalamnya. Setelah jatuh bangun dilema menentukan Universitas, bahkan harus rela menerima kenyataan bahwa Universitas yang dipilih tidak memberi kesempatan untuk aku belajar di sana, seperti ada guncangan besar yang meruntuhkan semangatku. Tapi aku realistis hanya kurang bersyukur saja waktu itu. Sebelumnya Universitas Sanata Dharma lebih dahulu menerimaku dibanding Universitas yang menolakku. Perpindahan yang seutuhnya terjadi di sini. Pindah dari kota kelahiranku Bekasi menuju kota istimewa Yogyakarta. Meninggalkan orangtua, kakak, sahabat bahkan hubungan percintaan pun harus berakhir. Tapi hidupku tidak berakhir di sini.

Sanata Dharma menyambutku dengan sangat manis, lewat inisiasinya yang dinamakan INSADHA, aku merasa beruntung bisa menjadi anggota keluarga besarnya.  Universitas yang berada di bawah naungan yayasan Katolik ini awalnya kupikir hanya terdiri dari orang-orang yang memeluk agama Kristiani saja, ternyata aku salah. Di sini aku menemukan Indonesia mini yang terlihat menakjubkan, terlihat “wah” di mataku. Tempat baru yang sangat unik, penuh sukacita dan aku merasa tidak ada satupun di antara kami yang merasa berbeda. Kita sama, kita satu walau kita berasal dari daerah dan agama yang berbeda.

Hari berganti hari dan sekarang sudah 3 semester aku lewati di Sanata Dharma ini, awal yang indah bukan berarti selalu indah. Banyak perjuangan di sini. Mengingat bahwa jurusan yang aku pilih bukan pilihanku, memang berat dilalui. Tapi lagi dan lagi aku mulai berpikir realistis, aku mencoba menggerakkan pikiranku bahwa aku ada di sini dan Sanata Dharma menempatkanku di prodi Pendidikan Bahasa Inggris pasti ada tujuannya. Perlahan aku berusaha mencintai jurusanku, dan sekarang aku bisa merasa lebih nyaman. Ditambah lagi untuk semester 3 kemarin aku mencoba ikut acara kepanitiaan, dan bukan kata nyaman lagi yang aku dapatkan, tapi ada perasaan yang luar biasa. Luar biasa karena memiliki teman yang teramat istimewa. Dari mereka aku belajar arti keberagaman, persahabatan, dan terselip ada perasaan cinta yang menggelitik. Ada perasaan menyesal, mengapa Universitas ini tidak aku pilih dari awal. Tapi toh untuk apa disesali, pada nyatanya Universitas ini sudah memberi kesempatan yang sangat istimewa untukku.

Sebentar lagi Sanata Dharma akan menginjak usia 60 tahun. Kupikir Universitas ini tidak jauh berbeda dengan apa yang aku alami. Pasti banyak benturan dari berbagai macam masalah. Tidak mungkin dari awal berdirinya hingga saat ini tidak ada kendala apapun. Tapi karena keunikan dan kemampuannya untuk terus berpindah-bergerak (move on), Universitas ini mampu bertahan dan masih tetap eksis dengan motto “Cerdas dan Humanis”-nya hingga saat ini. Harapanku, semoga Universitas Sanata Dharma di usia yang tidak lagi muda tapi harus tetap memiliki semangat muda yang lebih matang, berkembang, bisa mengajak siapapun yang mengenal Universitas ini untuk terus bersemangat. Semoga Universitas Sanata Dharma bisa menjadi tempat yang nyaman untuk belajar dan berdinamika bersama tanpa harus membuat golongan perbedaan di dalamnya. Semoga Universitas Sanata Dharma ini makin berhasil mencetak manusia-manusia yang cerdas dan humanis.

SELAMAT ULANG TAHUN KE-60 UNIVERSITAS SANATA DHARMAKU! Kiranya semangatmu tetap berkobar dalam hatiku untuk terus berjuang bersamamu.

(Maria Rosari Triharcahya Wijayanti)

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/60-th-sanata-dharma-berpindah-terus-bergerak-mencetak-manusia-cerdas-dan-humanis/feed/ 0
60 Th Sanata Dharma: (Masih Belajar) Menjadi Cerdas dan Humanis (Humoris) https://unit./cm/60-th-sanata-dharma-masih-belajar-menjadi-cerdas-dan-humanis-humoris/ https://unit./cm/60-th-sanata-dharma-masih-belajar-menjadi-cerdas-dan-humanis-humoris/#respond Wed, 28 Jan 2015 18:13:55 +0000 https://unit./cm/?p=474 lanjut

]]>
Menginjakkan kaki di kampus ini bukan menjadi impian saya. Bahkan, nama kampus ini pun baru saya dengar saat baru mendaftar. Saya buta tentang kampus ini. Yang saya tahu hanyalah saya ingin kuliah di jurusan yang saya minati. Berhubung di tahun 2008 saya sudah terlanjur terjun di lubang keterpaksaan, di tahun 2009 pun saya mengadu nasib dan terdampar di lapangan Realino dan mengikuti rangkaian inisiasi yang mengejutkan saya.

Rangkaian kegiatan inisiasi di kampus ini sungguh amat berbeda dengan kampus yang saya temui sebelumya. Saya tidak merasakan beban apapun mengikuti kegiatan 3 hari ini. Terlebih lagi ada kembang api di puncak acaranya. Panggung di tengah lapangan bola, 1000 lebih manusia berjoged ria mengikuti irama jinglenya, dan penyelaan lilin yang membuat rasa haru, saya baru rasakan di sini. Lalu, saya membandingkan dengan kampus pertama saya yang kegiatan orientasinya yah begitu-begitu saja, tidak ada kembang api, tapi yang ada saya jadi anggota F4. Selama 3 hari inisiasi itu saya bertemu dengan teman lintas jurusan bahkan fakultas, sedangkan di kampus sebelumnya saya hanya bertemu teman lintas jurusan di saat-saat tertentu, teman lintas fakultas pun hanya 1 kali. Perbedaan yang cukup mencolok, tapi saya tidak mau ambil pusing. Buat saya yang terpenting saat awal kuliah adalah menyelesaikan kuliah lintas universitas ini.

Seiring berjalannya waktu, saya pun merasa saya lebih diterima di kampus ini. Saya lebih bebas mengutarakan pendapat, bebas berekspresi dan saya menemukan arti keluarga. Keluarga yang menerima kamu apa adanya, tanpa melihat latar belakangmu, warna kulitmu, dan asalmu darimana.

Di sini, saya belajar untuk memanusiakan manusia muda seperti ajaran Rm. Drijarkara, sang pendiri perguruan tinggi ini. Saya rasa konsep ‘memanusiakan manusia’ ini saya temukan saat saya baru daftar di kampus ini. Dengan tangan terbuka, sapaan manis dan senyuman, para punggawa humas bersiap menyambut calon mahasiswa/I dan orang tua yang mendaftarkan anaknya. Baru daftar saja, saya sudah merasa diterima, bagaimana kalau sah jadi mahasiswanya? Saya tidak harus dihadapkan dengan keribetan jalur pendaftaran lewat jaringan internet, saya benar-benar dilayani di sini.

Proses pendidikan di sini benar-benar menghantam jiwa saya. Konsep cerdas dan humanis itu benar adanya. Proses pendidikan manusia muda yang tidak tahu apa-apa menjadi manusia yang lebih menghargai sesama manusia dan lebih berbudaya, itu yang saya dapatkan di sini.

5 tahun di sini, saya mengenal INSADHA, JAKSA (Jalinan Akrab Sastra), SLP (Service Learning Program), Peer Partners, Potluck, Campus Ministry, SALT (Student’s Action for Life and Trust), WR IV dan segala keceriannya, belum lagi bakso Dab Supri, dan beringin Soekarno. Perpustakaan yang menjadi tempat tongkrongan favorit mengerjakan skripsi, hall kampus, taman sastra, dan ruangan kuliah yang menjadi saksi perdebatan mahasiswa mengatur acara kampus, semua itu jadi saksi biksu perjalanan saya dan beribu alumni kampus ini.

Selepas saya dari kampus ini pun, saya masih belajar untuk memanusiakan manusia, masih belajar untuk menjadi pribadi yang cerdas dan humanis untuk sesama dan alam sekitar saya. Proses di kampus ini belum selesai. Saatnya saya dan kawan-kawan alumni yang melanjutkan dan menyebarkan ‘memanusiakan manusia, cerdas dan humanis’.

Kampus ini namanya Sanata Dharma. Gedungnya ada di Mrican, Kotabaru, Jakal, Paingan. Ada lapangan bola Realino yang jadi tempat favorit saya untuk olahraga. Tidak terasa 60 tahun sudah Sanata Dharma berdiri di tanah Jogja. Selama 60 tahun itu Sanata Dharma telah menelurkan jiwa-jiwa cerdas dan humanis yang tersebar dimana-mana. Kini, 60 tahun dan akhirnya auditorium berdiri juga. Tidak akan ada lagi acara wisuda di lapangan bola, yang akan tetap selalu ada ialah pemberkatan nikah alumni kampus di kapel St. Robertus Bellarmus.

Selama manusia masih ada, saya berharap Sanata Dharma tetap berdiri dan menjadi lembaga pendidikan yang cerdas dan humanis. Sebenarnya cerdas dan humanis tidak cukup untuk kampus ini. Perlu ditambahkan satu kata lagi: HUMORIS. Sanata dharma itu CERDAS, HUMANIS, HUMORIS. Dari karyawan, pegawai, dosen, bahkan penjaja makanan di kantin pun berjiwa humoris. Mahasiswa dan alumni yang saya kenal pun mempunyai jiwa humoris. Saya menemukan itu di Sanata Dharma. Sanata Dharma tetaplah mempertahankan keunggulan manusianya. Saya berharap saat saya berkunjung ke kampus ini, ada bangunan musholla berdiri berdampingan dengan kapelnya.

Selamat ulang tahun Sanata Dharma!

Non scolae, sed vitae studemus: We do not learn for school, but for life.

(Christiani Dwi Putri M, S.S)

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/60-th-sanata-dharma-masih-belajar-menjadi-cerdas-dan-humanis-humoris/feed/ 0
60 Th Sanata Dharma: Keseimbangan Cerdas dan Humanis https://unit./cm/60-th-sanata-dharma-keseimbangan-cerdas-dan-humanis/ https://unit./cm/60-th-sanata-dharma-keseimbangan-cerdas-dan-humanis/#comments Wed, 28 Jan 2015 01:37:46 +0000 https://unit./cm/?p=471 lanjut

]]>
Tidak seperti kebanyakan anak SMA yang pertama-tama ingin mencoba menembus keberuntungan menjadi mahasiswa PTN, sejak awal saya sudah menetapkan satu pilihan: Universitas Sanata Dharma. Psikologi. Saya lupa persisnya mana yang lebih dulu saya pilih, universitasnya atau program studinya. Tapi satu yang saya ingat betul, 25 Oktober 2010, saya resmi diterima di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Salah satu hari bersejarah bagi saya.

Meski mantap dalam memilih, tapi saya gentar ketika menjelang hari “ospek” yang dikenal dengan Inisiasi Sanata Dharma (INSADHA). Ada kekhawatiran mengenai perlakuan dari senior, hukuman, dan hal-hal mengerikan lainnya. Namun, hal yang ternyata terjadi justru sebaliknya. INSADHA menyambut kami, para mahasiswa baru, dengan pelukan hangat, seolah hendak membuktikan penggalan syair hymne universitas, “Seluruh Sanata Dharma satu keluarga”.

Inisiasi yang penuh kekeluargaan juga saya rasakan dalam inisiasi fakultas, Akrab Psikologi atau AKSI. Dan setelah saya selama beberapa tahun menjalani hidup di USD, saya tahu satu hal yang mungkin bisa dijadikan alasan betapa kekeluargaan menjadi sangat penting di USD. Rektor pertama Sanata Dharma, Romo Nikolaus Driyarkara, SJ pernah mengungkapkan sebuah semboyan “homo homini socius”, atau “manusia adalah kawan bagi sesamanya”.

Tidak heran juga jika semboyan USD adalah “cerdas dan humanis”. Bukan hanya soal menjadi cerdas saja, tapi juga humanis. Humanisme yang cerdas. Ada keseimbangan di antara keduanya. Antara logika dan nurani. Rasio dan rasa.

Tidak lolos seleksi sebuah unit kegiatan fakultas membuat saya di semester pertama cukup puas menjadi mahasiswa golongan “kupu-kupu” (kuliah-pulang kuliah-pulang). Hampir setiap hari, saya berangkat dari rumah pukul 6 pagi dan pukul 2 siang saya sudah duduk manis di rumah lagi, serasa SMA. Namun seiring mengalirnya waktu, saya pernah menjadi mahasiswa golongan “kura-kura” (kuliah-rapat kuliah-rapat). Saya mengikuti berbagai kepanitiaan dan organisasi, salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) Psikologi 2013/2014 yang walaupun bekerja secara professional, tapi semangat kekeluargaan sangat kental terasa. Dalam rangka kepanitiaan dan organisasi, saya pun pernah jadi mahasiswa golongan “kuda-kuda” (kuliah-dagang kuliah-dagang) demi mencari dana untuk beberapa acara, dari mulai Ekaristi Kaum Muda (EKM), Psychology Festival (Psychofest) sampai bakti sosial. Tapi seperti layaknya mahasiswa pada umumnya dengan tugas yang bertumpuk, saya pun pernah menjadi mahasiswa golongan “kuper” (kuliah-perpus). Dan karena keseimbangan “cerdas” dan “humanis” tadi pun, saya pernah menjadi mahasiswa golongan “dara kuper” (dagang-rapat-kuliah-perpus) sekaligus. Masa-masa di mana saya jauh lebih sering menghabiskan waktu di kampus daripada di rumah.

Akan tetapi semua itu bukanlah masalah yang begitu berarti bagi saya secara pribadi. Sekali lagi, itu karena semangat kekeluargaan yang saya rasakan di USD. Dari Pak Gi, karyawan Biro Layanan Umum yang selalu ceria dan baik hati siap sedia membukakan akses lift pada para mahasiswa. Dari para outcore, mbak dan mas cleaning service yang siap sedia membantu angkut-angkut dan bersih-bersih. Juga dari Pak Pur, bagian keamanan, yang ramah. Dari teman-teman sesama mahasiswa dan bapak-ibu-romo-suster dosen serta karyawan. Dari Bu Dewi, wakaprodi Psikologi yang selalu siap sedia diajak berdiskusi dan datang ke acara-acara kemahasiswaan. Dari Mas Anton dan teman-teman Campus Ministry yang membuat “Indonesia mini” di USD makin terasa. Dari Pak Chosa dan teman-teman Service Learning Program (SLP), yang benar-benar menjadi keluarga karena kami bersama saat tinggal di negeri orang selama satu bulan sebagai delegasi dari USD. Juga dari Miss Tata, Mbak Risca dan teman-teman “geje” di Kantor Wakil Rektor IV yang lebih sering saya sebut “mabes”.

Semangat kekeluargaan yang saya rasakan di USD ini juga memacu saya untuk menyebarkan semangat yang sama ke semakin banyak orang, tidak hanya di sekitar USD. Menjadi lebih dan lebih lagi. Semangat magis. Selama hampir delapan semester di USD, saya sampai pada satu titik bahwa menjadi mahasiswa berarti bisa menemukan relevansi antara ilmu dan realita, bagaimana ilmu membantu kita melihat dan berusaha memecahkan permasalahan di kehidupan nyata, atau sebaliknya, bagaimana melihat realita berdasarkan kacamata ilmu. Itulah keseimbangan antara cerdas dan humanis.

Semoga di usia intannya ini, Sanata Dharma menjadi semakin bijaksana layaknya seorang kakek, selalu bersemangat layaknya orang muda, sekaligus penuh keingintahuan layaknya anak kecil. Semoga juga semangat kekeluargaan dan “menjadi kawan bagi sesama” makin terasa, baik di dalam maupun luar kampus. Selamat 60 tahun, Universitas Sanata Dharma! Ad Maiorem Dei Gloriam!

(Stella Vania Puspitasari)

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/60-th-sanata-dharma-keseimbangan-cerdas-dan-humanis/feed/ 2
60 Th Sanata Dharma: Sebuah Pilihan yang Salah https://unit./cm/60-th-sanata-dharma-sebuah-pilihan-yang-salah/ https://unit./cm/60-th-sanata-dharma-sebuah-pilihan-yang-salah/#respond Mon, 26 Jan 2015 20:22:04 +0000 https://unit./cm/?p=465 lanjut

]]>
Banyak orang yang sependapat dengan ungkapan, “tak ada masa paling indah selain masa-masa sekolah menengah atas”. Sebuah masa yang tak akan pernah terjadi untuk kedua ataupun ketiga kali. Sebuah masa di mana orang banyak belajar menemukan hal-hal sentimentil dalam hidupnya untuk kali pertama. Pacar, pengorbanan, persahabatan, sampai hal yang berkaitan dengan geng-geng-an yang sebenarnya tak lebih dari sekumpulan orang yang jarang mengerjakan PR di rumah.

Masa itu memang masa yang sangat menakjubkan bagi segelintir orang karena dianggap sebagai masa terakhir untuk benar-benar bebas bermain karena setelah itu mereka akan berjibaku mencari pekerjaan karena tak mampu mencicipi manisnya pendidikan di bangku kuliah. Memasuki dunia kerja berarti meninggalkan dunia yang penuh keceriaan, demi masa depan mereka sendiri. Sedangkan sisanya, bagi mereka yang sedikit lebih beruntung karena mampu mengecap manisnya pendidikan di perguruan tinnggi di universitas-universitas kebanggaan mereka akan memulai kisahnya sendiri.

Bagi yang meluangkan waktu sedetik lebih lama untuk benar-benar menghayati dan memaknai keberuntungan itu, masa kuliah tak kalah menyenangkan jika dibanding masa SMA. Bahkan, bagi sebagian orang, masa kuliah adalah masa terbaik yang pernah ada. Begitu juga denganku, satu dari segelintir orang yang merasa beruntung karena bisa merasakan jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Kuliah mungkin ada di urutan ke sekian belas dalam deretan hal yang harus aku lakukan setelah lulus sekolah. Sama halnya dengan menjatuhkan pilihan untuk kuliah di Universitas Sanata Dharma dari sekian banyak pilihan universitas yang ada di kota yang menyandang predikat kota pelajar ini. Sebagai anak dari orang tua yang old-fashioned, kuliah di universitas swasta tak pernah terlintas di pikiran. Lalu kenapa aku bisa masuk dan kuliah di sini, mungkin karena sebuah ketidaksengajaan yang akan  aku syukuri.

Universitas Sanata Dharma sebagai salah satu universitas swasta yang berada di bawah naungan yayasan Katolik seakan jadi hal yang paling banyak menyita ruang di dalam kepala ini. Hal ini lantaran aku yang menyematkan agama yang mayoritas dipeluk oleh orang Indonesia dan tak adanya pengalaman bersekolah di sekolah yang mengkhususkan dalam segi agama. Namun, opini-opini yang terbangun di kepalaku itu runtuh ketika aku untuk kali pertama menjejakkan kaki di kampus ini. Suasana nyaman langsung menyambutku dengan begitu hangat, seakan ada luapan rasa rindu karena lama tak bertemu. Seakan ada kasih yang begitu hangat mendekap.

Berkat bantuan dari seorang teman masa SMA, aku tak perlu waktu banyak untuk mendapat teman baru di sini. Satu hal yang masih lekat dalam benak ini saat kali pertama masuk di Sanata Dharma adalah di sini, di kampus ini, tidak ada program orientasi mahasiswa baru -ospek- yang terkenal karena kental dengan senioritas. Di sini ada semacam program perkenalan mahasiswa baru yang diberi nama Inisiasi Sanata Dharma (INSADHA). Sebuah program yang menurutku bagus karena junior tidak harus merasa menjadi junior pun dengan senior. Tak ada disparitas, tak ada sekat yang menjadikan jarak di antara junior dan senior. Semua sama. Semua sepadan. Dan hal itulah yang membuatku mulai merasa nyaman di sini.

Memasuki tahun-tahun belajar di sini, rasanya aku sangat bersyukur. Terlebih karena walau pun menjadi minoritas, hak-hak untuk menjalankan kegiatan keagamaan sesuai dengan aku yakini dijamin penuh. Banyak diskusi sederhana mengenai keagaman dan keyakinan yang terbangun di warung-warung pinggir jalan, halaman-halaman kos-kosan, sampai ke bangku-bangku kuliah, tentu dengan suara yang sengaja dilirih-lirihkan. Hal ini malah membuatku banyak belajar untuk lebih lagi mendalami ajaran agamaku, sekaligus menghormati mereka yang berbeda. Sudah sepantasnya memang sebagai sesama makhluk penghisap oksigen kita saling menghormati dan tidak saling membandingkan ajaran agama mana yang lebih baik ataupun lebih benar.

Sebagai seorang yang dari masa sekolah tak terlalu berbakat di bidang olahraga maupun musik, membuatku agak kesusahan dalam memilih kegiatan mahasiwa yang favorit di sini. Tak mungkin rasanya dengan tinggi yang tak sampai 168cm ini aku ikut bergabung dalam tim bola basket. Ataupun dengan suara yang berada di luar range nada-nada mayor maupun minor dapat membuatku bisa bergabung di tim paduan suara. Tapi aku percaya ungkapan bahwa Tuhan Maha Adil itu memang benar adanya. Setelah dikenalkan dengan “rohis”nya Sanata Dharma, FKM BUDI UTAMA, sebuah komunitas yang bergerak di bidang keagamaan.  Aku kembali dikenalkan dengan teman-teman dari komunitas Stand Up Comedy.

Dari mereka, aku tak hanya menemukan teman baru, tapi juga keluarga. Dari mereka, aku banyak belajar bahwa kuliah itu bukan hanya soal datang tepat waktu. Kuliah juga bukan hanya tentang mengumpulkan tugas tepat pada hari yang ditentukan. Bukan soal mengerjakan tes demi nilai IPK tiga koma.

Dari mereka aku belajar bahwa kuliah adalah proses penemuan jati diri yang sejati. Kuliah adalah tentang segala mimpi yang diupayakan untuk benar-benar terjadi. Kuliah adalah tentang pembelajaran, pendewasaan, pematangan pola pikir dengan pelbagai diskusi, dan petualangan mengalahkan batasan yang dibuat diri sendiri dan melampauinya. Tak hanya itu, kuliah juga ternyata banyak menyuguhkan cerita-cerita cinta yang lebih luar biasa dari masa SMA. Cinta yang memang pantas untuk diperjuangkan.

Tiga tahun sebelas bulan mengikuti setiap proses pembelajaran di sini, membuatku bersyukur karena aku telah dibiarkan “salah” dalam memilih tempat kuliah. Karena pada kenyataannya, pilihan yang salah malah membawaku ke tempat yang tepat, ke tempat yang akan selalu aku rindukan, tempat yang bahkan tak ingin aku tinggalkan.

Dan di usianya yang akan genap 60 tahun ini, aku berharap bahwa satu saat Universitas Sanata Dharma ini akan menjadi lebih berkilau lagi layaknya sebuah intan permata. Seperti pualam yang makin benderang seiring dengan arus waktu yang kian menantang. Sebuah harapan kecil di usia senjanya, Universitas Sanata Dharma dapat menjadi universitas yang memiliki jiwa muda yang punya kepekaan sosial, tingkat curiosity –keingintahuan- yang tinggi akan segala hal yang menyangkut kebenaran, dan tak mudah terlena dengan apa yang sering mereka sebut sebagai kenyamanan. Di sisi lain, aku berharap Universitas Sanata Dharma dapat menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, berproses, dan berpetualang bagi semua kalangan tanpa membuat perbedaan atas nama suku, ras, dan iman. Menjadi tempat paling nyaman untuk “pulang”.

Terima kasih untuk tahun-tahun luar biasa, untuk teman, sahabat yang tak akan terlupa oleh waktu, juga untuk cinta yang layak diwujudnyatakan.

…SELAMAT ULANG TAHUN KE-60 UNIVERSITAS SANATA DHARMA…

( Wahyu Nur Cahyo, S.Pd)

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/60-th-sanata-dharma-sebuah-pilihan-yang-salah/feed/ 0